Coronavirus: Sebuah Diskursus Tentang Fenomena Biologis, Dabbah dan Kiamat

1681

Pada akhir 2019, seorang dokter dari Kota Wuhan, Tiongkok, bernama Li Wenliang memberikan kabar mengejutkan di sebuah grup dalam aplikasi pesan singkat bahwa 7 pasien dari pasar makanan laut lokal telah didiagnosis menderita penyakit mirip SARS dan dikarantina di Rumah Sakit. Berdasarkan hasil tes yang telah dilakukan oleh Dokter Li, penyakit tersebut diakibatkan oleh infeksi coronavirus, yang masih berkerabat dengan virus SARS, penyebab sindrom pernapasan akut. Beredarnya berita tersebut justru membuat praduga dari aparat kepolisian setempat yang dialamatkan kepada Dokter Li sehingga ia harus dipanggil dan dimintai keterangan atas desas-desus yang mengganggu ketertiban sosial dari sebuah grup dalam aplikasi pesan singkat tersebut1.

            Terlepas dari masalah yang menimpa Dokter Li, kasus coronavirus sudah terlanjur viral melalui media massa dan media sosial. Sontak dunia digegerkan dengan fenomena ini, terutama bagi negara-negara di benua Asia. Turis dan imigran asal Tiongkok, baik yang akan maupun sudah berada di destinasi tujuan mereka ‘berdiaspora’ seolah-olah diberikan ultimatum oleh pemerintah setempat untuk menekan agar coronavirus tidak menjangkit warga negara yang disambangi para turis ataupun imigran asal Tiongkok. Segala daya dan upaya dikerahkan sedemikian rupa oleh pemerintah demi mencegah masuknya coronavirus agar tidak menjangkit masyarakatnya, bahkan negara tertentu sampai meminta warga negaranya pulang dari Tiongkok.

            Mengapa dunia ini seakan-akan mengalami ketakutan hebat pada sesuatu yang ukurannya maha-mikroskopis ini? Bahkan status manusia sebagai makhluk paripurna di alam jagad raya ini pun tampaknya berhasil ditaklukan si virus tersebut. Sesungguhnya apa itu coronavirus? Apa yang membuatnya mendadak tenar, baik di kalangan cendekiawan medis maupun khalayak awam? Adakah paradigma yang terkonstruksi dalam memandang hal ini sebagai sebuah konsekuensi atas dogma yang diajarkan suatu agama?

            Sebelum membahas coronavirus lebih lanjut, mari berkenalan dengan sosok yang sering menjadi kambing hitam ketika suatu endemi mewabah di masyarakat, yaitu virus. Pada awal tahun 1883 telah dilaporkan penemuan penyakit tobacco pada tanaman bakau oleh seorang ilmuwan Jerman bernama A. Mayer. Mayer menyimpulkan bahwa ada semacam bakteri yang tidak umum sebagai penyebab penyakit pada daun bakau tersebut. Hingga pada akhirnya asumsi Mayer yang beranggapan bahwa ada bakteri tidak biasa yang menyebabkan suatu penyakit terjawab oleh penelitian ilmuwan Amerika bernama Wendell Stanley, ia berhasil mengkristalisasi suatu makhluk yang diketahui sebagai TMV (Tobacco Mosaic Virus)2. Sejak saat itu virus mulai dikenal dan sejumlah penelitian tentang virus terus dilakukan.

            Sejatinya virus merupakan unsur biologis yang ada di alam ini dan berperan sebagai agen penyebab infeksi yang berukuran sangat kecil (diameter berkisar antara 20 nm sampai 300 nm). Komponen inti atau genom dalam virus itu sendiri hanya mengandung satu jenis asam nukleat saja, bisa berupa RNA (Ribonucleotida Acid/Asam Ribonukleotida)atau DNA (Deoxiribonucleotida Acid/Asam Deoksiribonukleotida).

Perdebatan mengenai asal mula virus masih terjadi di kalangan para ilmuwan. Namun ada dua teori asal muasal virus, yakni virus muncul dari komponen asam nukleat DNA atau RNA sel inang yang dapat bereplikasi (menggandakan diri) secara otonom (mandiri) dan virus muncul sebagai bentuk degenerasi parasit intraselular, namun tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa virus berkembang dari bakteri.

Pada prinsipnya, patogenesis (penyebaran penyakit) oleh virus adalah terjadinya siklus penggandaan diri virus pada sel inang dan mengharuskan virus melakukan kontak dengan sel yang rentan sehingga begitu virus bereplikasi secara cepat maka ia akan segera menyebar, membuat sel inang menjadi cedera, dan terjadilah infeksi. Mekanisme penyebarannya bervariasi, namun lebih umum melalui darah atau limfatik3.

Lantas, siapakah coronavirus?

Menurut Brooks dkk. dalam buku Mikrobiologi Kedokteran, coronavirus merupakan tipe virus RNA yang memiliki selubung berukuran 80 sampai 220 nm dan menyerupai orthomyxovirus (virus influenza) tetapi memiliki tonjolan permukaan berbentuk daun bunga yang tersusun di pinggir seperti korona matahari. Mayoritas coronavirus menginfeksi saluran pernapasan atas dan pada bayi dapat menyebabkan gastroenteritis (radang lambung dan usus). Temuan klinis lainnya antara lain gejala selesma pada orang dewasa, anak dengan asma dapat mengalami serangan mengi, dan pada orang dewasa dapat mengalami penyakit paru kronik. Coronavirus baru diidentifikasi pada tahun 2003 pada kasus penyakit sindrom pernapasan akut yang cukup parah (SARS)3.

Akhir-akhir ini, virus ‘viral’ yang diduga berasal dari pasar grosir makanan laut Huanan di Kota Wuhan, Tiongkok, ini rupanya membuat lembaga kesehatan dunia PBB, WHO (World Health Organization), angkat bicara. Pada 30 Desember 2019 WHO menyatakan bahwa wabah Novel Coronavirus atau 2019-n-CoV sebagai darurat masalah kesehatan internasional. Setelah otoritas Tiongkok mengonfirmasi bahwa telah teridentifikasi 2019-n-CoV sebagai penyebab penyakit serupa Pneumonia pada 7 Januari 2020, WHO dan sejumlah stakeholder bekerjasama dengan otoritas Tiongkok dan para ahli untuk melakukan riset mengenai virus tersebut, termasuk bagaimana cara efektif untuk mendeteksi penularan, karena tidak hanya dapat menular dari hewan ke hewan atau hewan ke manusia, tapi juga disinyalir menular dari manusia ke manusia.

Sejak pertengahan hingga akhir Januari sejumlah kasus coronavirus telah dilaporkan menyebar ke sejumlah negara, seperti Thailand, Jepang dan Korea. Per 1 Februari 2020, kasus yang sudah terkonfirmasi yakni sebanyak 11.953 kasus dan sebagian besar dilaporkan berasal dari negara Tiongkok4.

Fenomena coronavirus yang membuat gempar dunia saat ini menimbulkan banyak perspektif dari berbagai kalangan, mulai dari cendekiawan medis, kaum agamis, bahkan elit politik pun turut mengambil asumsi dari fenomena biologis ini.

Spekulasi dan prasangka berkembang begitu cepat secepat coronavirus menebarkan penyakitnya. Tiongkok sebagai negara munculnya virus ini seringkali dihubung-hubungkan dengan konspirasi politik antarnegara yang memiliki kepentingan sehingga coronavirus disebut-sebut sebagai senjata biologis dalam menggencarkan misi untuk menabuh genderang perang negara-negara.

Terlepas dari negara mana yang terlibat dalam intrik yang meniscayakan sebuah peperangan, hendaknya kita menyadari bahwa Allah SWT telah menyinggung para kaum-kaum duniawi. Sebagaimana difirmankan dalam QS 18:105 berikut ini.

 “Orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedang mereka menyangka, bahwa mereka mengerjakan perbuatan yang baik.”

Firman Allah SWT tersebut juga menjadi nubuwwatan atas fenomena yang terjadi saat ini. Ketika suatu unsur mikrobiologis menjadi momok yang begitu mengerikan dan dengan kekuatan alamiahnya dapat meluluhlantahkan kehidupan dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini bersinggungan dengan firman Allah Taala dalam Surah An-Naml ayat 83 berikut ini.

Dan apabila terjadi nubuatan kehancuran  atas mereka, Kami akan mengeluarkan bagi mereka binatang dari bumi yang akan melukai mereka, sesungguhnya manusia atas Tanda-tanda Kami tidak yakin.

Jelas, bahwa peringatan tersebut ditujukan untuk menyadarkan kaum materialistis, penggila dunia, pemuja harta, penikmat nafsu politik dan dahaga akan kekuasaan. Sehingga atas kuasa-Nya, Allah Taala mengirimkan wabah sebagai peringatan atas orang-orang duniawi berupa penyakit dari suatu makhluk kecil.

Dari sanalah kemudian muncul istilah Dabbah. Lalu apa itu Dabbah? Dabbah menandakan semua binatang atau serangga seperti merayap atau merangkak atau berjalan lambat, semua hewan besar atau kecil, apakah berjalan dengan dua kaki atau dengan empat kaki atau merayap di perut, dll. (lane & aqrab)5.

Istilah ini dijumpai dalam Surah As-Saba: 15 yang artinya Dan ketika Kami menakdirkan kematiannya, kematian Sulaiman, tiada sesuatu menunjukkan kepada mereka perihal kematiannya selain rayap bumi yang memakan tongkatnya. Maka tatkala tongkat itu jatuh, jin-jin (orang-orang besar) menyadari dengan jelas bahwa sekiranya mereka itu mengetahui apa-apa yang gaib, tentulah mereka tidak akan tetap dalam azab yang menghinakan.

Melihat kondisi saat ini, istilah rayap bumi seperti yang disebut dalam ayat tersebut dapat merujuk pada coronavirus.

Di lain tempat, kemunculan virus juga merupakan salah satu tanda-tanda terjadinya kiamat. Dari Huzaifah Bin Asid   Al-Ghifari meriwayatkan  bahwa nabi saw bersabda; ‘Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga kamu melihat sebelumnya 10 macam tanda-tandanya, yaitu kemunculan asap, Dajjal, virus, terbit matahari dari tempat terbenamnya, turunnya Isa Ibn’ Maryam, Yajuj dan Majuj, gerhana bulan di timur, gerhana bulan di barat, gerhana di semenanjung Arab, dan api yang keluar dari negeri Yaman.5

Dan, orang-orang yang senantiasa berserah diri kepada Allah Taala dan mereka yang teguh dalam jalan keimanan hendaknya senantiasa memanjatkan doa karena doa merupakan senjata paling ampuh ketika musibah itu datang.


Oleh : Umar Farooq Zafrullah

Sumber :

  1. Fellyanda Suci Agiesta. https://www.merdeka.com/dunia/cerita-lengkap-asal-mula-munculnya-virus-corona-di-wuhan.html
  2. Niell A. Campbell, L. 1987. Biology Fourth Edition. International Student Edition. Hal. 324-325.
  3. Brooks, Geo F. Janet S. Butel. Stephen A Morse. 2004. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick & Adelberg Ed.23. Terjemahan. Jawet’z, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbiolog,23rd Ed. Alihbahasa: dr. Retna Neary Elferia dkk. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
  4. WHO. 2020. 2019 Novel Coronavirus (2019‑nCoV): Strategic Preparedness and Response Plan.
  5. Mln. Padhal Ahmad. 2020. Kajian Baitul Masrur: Virus Korona. Jemaat Ahmadiyah Kawalu, Tasikmalaya

Sumber Gambar : sites.usc.edu