Ikigai, Raison d’Être, dan Meditasi dalam Islam

202
Muslim praying in Sujud posture

Virtue is the strength possessed by individuals to resist body inclinations and do what is right simply because it is the right thing to do. – Immanuel Kant –

Dalam perjalanan hidup, kadang kita merasa tersesat dan hilang arah. Motivasi, pikiran, dan tenaga menguap entah ke mana. Tiba-tiba saja mereka seperti pergi berpencaran meninggalkan jiwa. Pengaruh buruk lingkungan dan teman-teman pun sesekali menjauhkan kita dari perbuatan baik dan positif. Cemas dan gelisah melanda. Well, ada yang mampu kembali ke arah yang benar tapi ada pula yang memilih jalan yang salah atau bahkan membunuh dirinya sendiri.

Bunuh diri ? Terdengar seram. Ada kalanya kita bertanya-tanya mengapa ada orang yang sampai hati menghilangkan nyawa sendiri ?

Kalau orang yang sudah mengalami stress tingkat tinggi, baginya bunuh diri adalah jalan keluar. Dia tidak mampu lagi menghadapi hidup yang berat dan melelahkan ini. Apalagi jika dia sudah kehilangan alasan dan makna mengapa ia harus bertahan hidup.

Dalam hal pencarian alasan hidup ini, masyarakat Jepang menawarkan salah satu solusi yang dikenal dengan Ikigai. Lucu ya. Negara dengan tingkat bunuh diri tinggi ternyata punya solusinya. Tapi, mari kita ambil pelajaran positifnya.

Konsep Ikigai ini artinya adalah sebuah alasan hidup. Ada empat elemen utama dalam Ikigai, yaitu Passion (minat), Mission (misi), Vocation (keahlian), dan Profession (pekerjaan). Untuk menemukan empat elemen tersebut, kita harus bertanya dalam diri kita sendiri :

1. Apa yang saya sukai ? (Passion)

2. Apa yang bisa saya lakukan dengan baik ? (Mission)

3. Apakah kemampuan saya layak mendapat bayaran ? (Vocational)

4. Apa yang dibutuhkan dunia dari saya ? (Profession)

Sumber gambar: www.businessinsider.com

Jika keempat pertanyaan bisa ditemukan oleh masing-masing individu, sejatinya mereka bisa disebut telah menemukan Ikigai mereka. Dan Buettner, penulis buku Blue Zones: Lessons on Living Longer from the People Who’ve Lived the Longest, menyarankan supaya membuat tiga daftar: nilai-nilai yang kita miliki, apa saja yang kita suka lakukan, dan apa saja keahlian kita. Ketiga jawaban ini juga merupakan Ikigai kita.

Jika Jepang memiliki Ikigai, berbeda hal lagi dengan Prancis dengan istilah raison d’être yang berarti alasan untuk ada. Istilah ini digunakan untuk menemukan alasan kita dan apapun dalam dunia ini ada. Tidak seperti Ikigai, dalam menemukan raison d’être lebih bebas dalam menentukan jawabannya.

Misalnya, raison d’être dari sebuah paspor adalah supaya data diri kita dikenali ketika bepergian ke berbagai negara tujuan. Atau raison d’être saya adalah saya ingin mendaki gunung sebanyak-banyaknya.

Namun, tahukah bahwa kita dapat menemukan baik Ikigai maupun raison d’être dalam Islam dan Al-Quran ? Mari kita gali beberapa ayat Al-Quran mengenai alasan diciptakannya manusia dan segala isinya ini.

Dalam Al-Quran ada firman Allah SWT yang bisa dikategorikan sebagai raison d’être manusia, yaitudalamsurah Adz-Dzariyaat: 56:

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”

Terlebih dalam surah An-Nisa:37 pun Allah SWT berfirman:

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.

Jika kita lihat dari raison d’être manusia dalam surah Adz-Dzariyaat ayat 56, maka dapat diambil poin bahwa tujuan penciptaan manusia adalah hanya untuk beribadah kepada Tuhan. Ibadah tentu bukan saja hanya shalat (bagi umat Islam) atau ibadah-ibadah secara lazimnya umat agama lain.

Namun dalam surah An-Nisa ayat 37 ada penjelasan tambahan, yaitu berbuat baik kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya.

Ibnu sabil adalah orang yang dalam perjalanan namun tidak memiliki biaya untuk kembali ke tanah airnya. Maka golongan ini perlu diberi zakat baik selama ia berada di tanah asingnya atau peruntukannya untuk biaya kembali ke tanah airnya. Dalam situasi sekarang ini, imigran yang terusir dari negaranya dimungkinkan termasuk dalam golongan ibnu sabil.

Bagi kita yang menyukai berkelana ke berbagai negara atau tempat untuk vlogging atau blogging ada penjelasan dalam Al-Quran yang dapat kita pelajari juga. Atau mungkin bagi yang ingin sekedar mencari petualangan dan suasana baru sembari melihat keindahan alam ciptaan-Nya ini.

Apalagi jika kita berada dalam satu negeri yang sedang menindas kita dan kita kurang dapat rezeki yang cukup untuk kehidupan kita. Salah satunya ada dalam surah Az-Zumar: 11:

Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.

Dalam penjelasan ‘Dan bumi Allah itu adalah luas’ mengindikasikan bahwa manusia dipersilakan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mendapat penghidupan yang baik atau lebih baik dari tempat asal kita.

Dalam hal pekerjaan, Rasulullah SAW bersabda dalam beberapa hadis dan Al-Quran pun menjelaskan pekerjaan-pekerjaan yang baik bagi manusia. Dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda:

Pekerjaan apakah yang paling baik ?” Beliau SAW bersabda “Pekerjaan seseorang dengan tangannya dan setiap perdagangan yang mabrur (jual beli yang baik dan bersih dari dosa dan dusta).” (Al-Bazzar dari Rifa’ah bin Rafi’)

Hadis di atas menjelaskan bahwa pekerjaan yang paling baik adalah pekerjaan dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.

Maka boleh kita simpulkan bahwa pekerjaan yang baik adalah yang bersentuhan dengan tangan kita secara langsung baik itu bertani, beternak, memasak, mengetik, mem-brew kopi, dan sejenisnya asal bersentuhan langsung dengan tangan kita. Adapula melakukan perdagangan apapun asal atau tidak mengandung dosa dan dusta di dalamnya.

Perlu diingat dan dicatat selalu bahwa dalam mencari vocational atau mencari rezeki haruslah dari sumber yang baik dan halal. Tidak hanya itu baik bagi kita dan sebagaimana diajarkan dalam Islam, tapi juga ada kenyamanan dan keselamatan bagi kita yang mendapatkan rezeki yang halal.

Seperti sabda Rasulullah SAW:

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (HR. Ibnu Majah).

Maka, dari semua Ikigai dan raison d’être manusia ada dalam Islam, Al-Quran, dan Hadis. Semua hal yang ada dalam Al-Quran tidak hanya diperuntukkan bagi muslim saja namun kebaikannya bagi semua umat manusia. Jika kita mengikuti dan menjalani segala arahan yang sudah dicantumkan dalam Al-Quran seharusnya tidak lagi ada manusia yang merasa tersesat dan berada di jalan yang salah.

Ketenangan dan kebaikan akan dirasakan di hati semua manusia jika menjalankan ajaran Al-Quran sebaik-baiknya. Ada tambahan lain yang mampu membuat hati manusia tenang, yaitu meditasi. Kadang kala ketika kita bekerja dan menjalani aktifitas, kita mengalami rasa lelah atau stress bahkan depresi.

Meditasi mampu mengurangi stress, meningkatkan ketenangan, dan kebahagiaan. Salah satu meditasi yang sering dilakukan adalah Mindfulness Meditation.

Seorang pakar meditasi asal AS Tara Brach mengatakan, “Tujuan mindfulness meditation adalah supaya kita menjadi sadar melalui semua bagian dalam hidup kita, sehingga kita terbangun, hadir, dan terbuka dengan apa yang kita lakukan.”

Penulis sendiri pernah melakukan salah satu meditasi à la Tiongkok, yaitu Tai Chi. Namun, setelah beberapa kali menjalani kelas Tai Chi, terasa sekali ibadah shalat dan Dzikr Ilahi jauh lebih menenangkan hati. Setelah merasakan perbedaan itu, meditasi Tai Chi pun ditinggalkan dan fokus kepada perbaikan ibadah shalat.

Ketika shalat dikerjakan dengan fokus dan konsentrasi penuh, shalat menjadi terasa lebih nikmat dan muncul ketenangan dalam hati. Bahkan stres dan depresi jauh sama sekali dalam pikiran. Apalagi jika setelah shalat dilanjutkan dengan Dzikr Ilahi, maka ketenangan dan kebahagiaan lebih terasa.

Semua hal ini dijelaskan pula dalam Al-Quran surah Al-Ankabut: 46:

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Jelas sekali dikatakan dalam surah Al-Ankabut ayat 46 bahwa shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Jadi, terang sekali manfaat shalat sebagai ibadah dan juga bisa dikatakan sebagai meditasi terbaik di dunia. Sehingga shalat tidak hanya ibadah yang diwajibkan bagi umat Islam tapi juga memiliki guna yang tinggi bagi yang mengerjakan.

Adapula dalam surah Al-Mu’minun ayat 2-3:

Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman. Yaitu, orang-orang yang khusyu’ dalam sholat mereka.

Tidak hanya shalat itu dikerjakan namun juga harus khuyu atau fokus kepada shalat mereka sehingga manfaat bisa lebih terasa bahkan termasuk ke dalam orang-orang yang beruntung.

Bisa dibayangkan jika manusia telah menemukan Ikigai dan raison d’être telah jelas tercantum dalam Al-Quran. Ditambah pula dengan meditasi dengan shalat akan menjadi manusia yang penuh arti, manfaat, dan ketenteraman dalam hidupnya. Jauh dari kesedihan ataupun hilang arah.

Image : Freepik.com


Oleh : Taufik Khalid Ahmad