Islam Ramah, bukan Islam Marah

129

Api selalu kita nyalakan di tengah gelapnya dunia

Menyinari, dan memberikan petunjuk arah

Tetapi kita lupa bahwa api dapat memantul ke dalam mata

Menyatu ke dalam jiwa dan membakar segalanya

Sejarah akan terus terulang setiap waktu. Membangkitkan narasi yang telah terkubur dalam dan menyebarkannya kembali ke semesta. Tidak selamanya narasi yang ada bersifat indah. Tidak selamanya narasi yang ada bersifat tentram. Masih terdapat narasi yang bersifat kebencian dan penghinaan satu sama lain, salah satunya adalah narasi mengenai Abu Janda.

Permadi Arya alias Abu Janda mengangggap bahwa Islam adalah agama yang arogan. Mengapa? Abu Janda menganggap bahwa Islam menginjak kearifan lokal dengan mengharamkan tradisi asli, ritual dibubarkan, memakai kebaya berarti murtad, dan wayang kulit diharamkan. Kejadian tersebut berawal dari Abu Janda membalas cuitan Ustadz Tengku Zulkarnain di Twitter yang mengatakan bahwa minoritas di Indonesia arogan ke mayoritas dan merasa ngeri bahwa kini Ulama dan Islam dihina di NKRI.

Kita sadar bahwa kebencian karena agama terjadi kembali. Sebuah narasi kebencian yang terus terjadi berulang setiap waktunya. Narasi yang telah mengubur mata hati manusia sedalam-dalamnya dan menyebarkan kegelapan ke semesta. Kebencian, kemarahan, dan perselisihan satu sama lain menjadi tidak dapat dihindarkan. Kenapa narasi tersebut harus muncul kembali? Apakah tidak ada yang mempelajari sejarah? Apakah tidak ada yang berusaha mengakhiri semua itu?

Kejadian tersebut tidak terlepas dari fenomena yang terjadi saat ini. Ketika masih ada beberapa umat Islam yang menunjukkan kekerasan pada saat menyampaikan dakwahnya. Ketika masih ada beberapa umat Islam yang menunjukkan ujaran kebencian terhadap kaum lainnya. Apakah seperti itu cermin Islam di masyarakat?

Pada dasarnya, Islam bukanlah agama yang mengajarkan sifat arogan, kebencian, dan permusuhan satu sama lain. Islam mengajarkan keramah-tamahan, kasih sayang, dan menghargai satu sama lain di tengah keberagaman umat beragama. Meyakini Islam di dalam hati sebagai pedoman hidup dan menghargai perbedaan yang ada di dunia ini. Pada Q.S. Al-Anfal ayat 61, Allah berfirman:

 وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Terkadang, kita melihat bahwa agama Islam disampaikan dengan narasi yang bersifat keras dan membuat hati kita terusik akan hal tersebut. Citra Islam dirusak oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab dengan membawa narasi kebencian. Akibatnya, orang-orang non-Muslim semakin tidak menginginkan Islam berkembang di muka bumi ini. Di UK saja, gerakan anti Islam telah meningkat dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu[1]. Karena itu, perlu adanya dakwah Islam yang mencerminkan sifat keramah-tamahan, supaya dapat memberikan persepsi yang baik mengenai Islam.  Itulah alasan mengapa Mirza Ghulam Ahmad, Almasih yang Dijanjikan, diutus kedunia, yakni unuk menciptakan perdamaian di muka bumi dengan mengenalkan ajaran Islam sejati, yang penuh perdamaian [2].

Sebagai penutup, Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Islam Ahmadiyah menegaskan:

Didalam Al Quranul Karim, orang-orang muslim demikian tegasnya ditekankan untuk berpegang teguh kepada taqwa dan berulang kali diperintahkan sehingga sama sekali tidak diharapkan dari orang-orang beriman untuk berbuat sesuatu pelanggaran terhadap keamanan di dunia ini.

Semoga seluruh umat Muslim dapat melaksanakan petuah dari sang Khalifah. Semoga semua manusia dapat merajut perdamaian abadi. Semoga semua manusia dapat menghargai satu sama lain untuk menciptakan melodi keharmonisan di semesta.


Penulis : NHA

Referensi

[1] How has Islamophobia changed over the past 20 years? | Islamophobia News | Al Jazeera

[2] Muslim Sejati Hanyalah Menyebarkan Cinta dan Perdamaian | Artikel Islam (ahmadiyah.id)

sumber gambar: https://unsplash.com/photos/2yZ-CzlBrZ4