Konten Dewasa Bukanlah Pendidikan Seks

210

Tak dapat dipungkiri, sekitar sebulan ini, netizen diramaikan dengan berita pendidikan seks seputar konten dewasa, yang juga menggaet seorang artis ternama. Beberapa potongan kalimat seorang artis yang sudah memiliki 2 putra, dalam sebuah akun channel youtube sahabatnya sendiri, menjadi perbincangan ramai di jagat raya media. Tak hanya media nasional, media asing pun ikut serta memberikan komentarnya, baik negative hingga ada pula positif. KPAI pun ikut menyuarakan pendapatnya, dengan tidak membenarkan konten dewasa dapat dilihat oleh anak-anak. Artis yang ramai – ramai diberitakan pun terusik dan seolah dihakimi, pun tak tinggal diam, merasa dirinya dirugikan karena potongan kalimatnya disalah artikan oleh banyak media, sang artis mengklarifikasinya. Tak bermaksud membahas lebih dalam potongan – potongan kalimat, hingga berbagai media dan netizen yang menyimpulkan berbagai macam penafsiran. Sepertinya saat ini, lebih menarik membahas terkait konten dewasa atau pornografi yang tanpa disadari masih menghantui hingga kini.

Terinspirasi dari sebuah seminar yang dibawakan oleh Ibu Elly Risman, Psi dan Dr. Randall F. Hyde, Ph.D, tak hanya sekedar anak – anak, orang dewasa, bahkan orang yang sudah memiliki pasangan sekalipun, mau tidak mau harus rela terpapar dampak negatif akibat telah mengakses konten dewasa atau pornografi. Perlahan tetapi pasti, berbagai macam bahaya mulai menghinggapi.  Sebut saja, berita kriminal seksualitas yang masih saja mewarnai hingga kini. Tak pelak, pelakunya pun terlahir dari seseorang yang banyak mengakses konten dewasa atau pornografi.

Tak hanya dampak buruk yang terlihat dari apa yang telah dilakukan oleh pelaku. Sejatinya, dari isi kepala hingga hormon – hormon pun harus rela terusak apabila sudah terpedaya candu pornografi. Hormon dopamine misalnya, hormon yang bekerja memicu menimbulkan sensasi puas, senang, hingga bahagia didalam dada sejatinya juga menimbulkan peningkatan kebutuhan level. Ketika hormon dopamine bekerja pada seorang siswa yang mencari kepuasan dalam kasus mengerjakan soal matematika misalnya, siswa tersebut merasa penasaran bahkan ingin terus mengerjakan soal yang lebih sulit lagi, dan dalam hal hormon yang bekerja tersebut pun akan sangat baik. Namun, dalam hal pornografi, sebaliknya, hal buruk akan terjadi. Ya, yang dari awalnya hanya sebagai pengakses materi pornografi, dari foto hingga ke video. Lalu dari perlahan dari sekedar pengakses hingga menjadi pecandu konten tersebut. Hingga pada akhirnya ketika setan mulai menguasai, tak ayal, efek hormon dopamine yang terus memacu peningkatan level, tanpa disadari membuat seseorang menjadi pelaku kriminalitas seksual.

Hormon lainnya yaitu, hormone Neouropiniphrin yang harus rela terusak bagi para pengakses pornogrofi. Contoh positif dari bekerjanya hormon ini adalah ketika orang yang terbiasa berbisnis, seolah selalu mendapatakan peluang bisnis kapan saja dan dimana saja. Seperti ketika udara panas, di kepala pebisnis tentunya mendapat peluang bisnis untuk segera berjualan minuman dingin demi memenuhi hasrat bisnisnya. Namun pada orang yang terbiasa mengakses pornografi, dalam fikirannya yang “dihiasi” oleh sesuatu hal yang berbau pornografi. 

Lalu,  lumrahkan mensejajarkan konten dewasa atau pornografi dengan pendidikan seks? Terlepas dari benar atau tidaknya pemberitaan yang ramai terkait dua hal tersebut, tentunya pendidikan seks tidak sama dengan menyaksikan konten dewasa atau pornografi. Namun tak dapat dipungkiri, zaman yang semakin maju, disertai mudahnya mengakses konten – konten tersebut, tak ayal, dari segala lini usia dari anak – anak, kaula muda, hingga orang dewasa bahkan yang mempunyai pasangan sekalipun, seolah “tergoda” untuk menyaksikannya tanpa peduli dampaknya yang begitu mengerikan.

Teringat sebuah nasihat dari Khalifah (pimpinan) Jemaat Muslim Ahmadiyah, Mirza Masroor Ahmad yakni Manusia telah melibatkan mereka sendiri di dalam aktivitas-aktivitas yang sia-sia dan bejat. Video-video pornografi tersedia begitu bebasnya sehingga manusia merubah diri mereka menjadi binatang dengan menyaksikan video-video ini. Kadangkala saya menerima keluhan bahwa para (anggota) Ahmadi berusia muda atau tengah baya juga terlibat dalam menyaksikan video-video seperti itu, atau mungkin bukan sepenuhnya video porno namun yang pastinya film-film yang sia-sia. Aktivitas aktivitas ini menuntun kepada hancurnya keluarga dan terjadinya perceraian. Takutlah kepada Allah Taala  yang telah menetapkan dengan jelas bahwa orang-orang yang demikian telah sesat dan akan terikat pada neraka.

Begitu kerasnya nasihat Pemimpin Jemaat Ahmadiyah kepada siapapun itu atau bahkan anggotanya yang tetap menghalalkan konten dewasa sebagai sesuatu hal yang lumrah. Ya, tak dapat dipungkiri, Beliau adalah pilihan Allah Taala, dan sejatinya, rasa sayang, rasa cinta, hingga rasa khawatir beliaulah kepada semua, agar semua terhindar dari malapetaka yang terlahir dari sebuah konten dewasa.

Penulis : Mutia Siddiqa Muhsin

Sumber Referensi :

https://www.dropbox.com/s/hw8q15ulyz5qfzm/Bahaya%20Pornografi%20Secara%20Detail.pdf

https://www.kompas.com/tren/read/2019/09/29/154627665/menurut-psikolog-ini-yang-akan-terjadi-jika-seseorang-kecanduan-nonton-film?page=all

https://news.detik.com/berita/d-5621371/komentar-kpai-soal-yuni-shara-ajari-anak-terbuka-soal-film-porno

https://www.kompas.tv/article/188985/soal-kabar-dampingi-anak-nonton-film-dewasa-ini-klarifikasi-yuni-shara?page=all

https://www.kompas.com/global/read/2021/07/03/065650070/pendidikan-seks-yuni-shara-untuk-kedua-anaknya-disorot-sejumlah-media?page=all

Sumber Gambar:https://teknologi.bisnis.com/read/20140304/105/207619/silakan-kritik-rancangan-peraturan-penanganan-situs-internet-bermuatan-negatif