Memaknai Ujian yang Tak Sekadar Luka Membekas

203
Mengarungi Samudera kehidupan kiranya tak semudah membalikan telapak tangan. Tak hanya sekedar bahagia, suka cita, tawa canda, atau bahkan harapan yang sesuai dengan kenyataan. Realitanya, tak sedikit kehidupan diwarnai dengan berbagai ujian yang melanda, yang mau tidak mau cukup menguras tenaga juga air mata. Belum lagi kenyataan yang akhirnya tidak sesuai dengan harapan, kiranya juga dapat menambah beban kehidupan.
Mengarungi Samudera kehidupan kiranya tak semudah membalikan telapak tangan. Tak hanya sekedar bahagia, suka cita, tawa canda, atau bahkan harapan yang sesuai dengan kenyataan. Realitanya, tak sedikit kehidupan diwarnai dengan berbagai ujian yang melanda, yang mau tidak mau cukup menguras tenaga juga air mata. Belum lagi kenyataan yang akhirnya tidak sesuai dengan harapan, kiranya juga dapat menambah beban kehidupan.

Mengarungi Samudera kehidupan kiranya tak semudah membalikan telapak tangan. Tak hanya sekedar bahagia, suka cita, tawa canda, atau bahkan harapan yang sesuai dengan kenyataan. Realitanya, tak sedikit kehidupan diwarnai dengan berbagai ujian yang melanda, yang mau tidak mau cukup menguras tenaga juga air mata. Belum lagi kenyataan yang akhirnya tidak sesuai dengan harapan, kiranya juga dapat menambah beban kehidupan.

Life is never flat

Sepotong kalimat yang ramah ditelinga ini pun kiranya menjadi sebuah keniscayaan, bahwa dalam menjalani kehidupan, tidak akan mungkin dapat baik-baik saja. Sudah, sedang, atau bahkan akan tiba masanya ujian datang menyapa. Lalu apa yang harus dilakukan ketika ujian datang? Mampukah kita menolak? Atau mungkin mencoba berusaha “lari’ dari kenyataan untuk menepis ujian yang datang?

Sejatinya, tak ada pilihan yang lain. Mau tidak mau ujian harus dihadapi. Suka tidak suka, ujian harus dilewati dan tanpa disadari ujian menanti sebuah solusi untuk dapat dilalui. 

Memang, dapat dikatakan ujian merupakan sebuah proses dalam kehidupan. Termaktub pada firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Baqarah ayat 156-157 yang artinya,

 “Dan pasti akan Kami menguji kamu dengan sesuatu ketakutan dan kelaparan, dan kerugian dalam hal harta, jiwa dan buah-buahan; dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila suatu musibah menimpa mereka, mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali.’” 

Kalam-Nya begitu nyata, Allah Ta’ala hendak menguji hamba-Nya. Namun alih-alih sekedar memberi ujian lalu melepaskan, Allah Ta’ala sejatinya mengayomi bagaimana manusia mampu menjalani prosesnya hingga mencapai solusi agar ujian dapat dilewati. 

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

 “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah Ta’ala dan sesungguhnya kepada-Nya kami akan kembali’.” 

Sebaris firman Allah Ta’ala ini pun menjadi sebuah kekuatan tersendiri dan begitu menyadarkan kembali, bahwa sumber kekuatan terbesar yang dapat memampukan manusia mengadapi ujian hanyalah Allah Swt.

Pemimpin Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hz. Mirza Masroor Ahmad Aba juga bersabda:

“Seorang mu-min hendaknya tidak merasa sedih tatkala tertimpa musibah, karena ia tidaklah lebih besar daripada seorang Nabi. Sebenarnya pada saat  tertimpa kesulitan, maka mulailah terpancar suatu sumber mata air kecintaan. Seorang mu-min tidak melewati suatu cobaan tanpa memperoleh ribuan jenis kelezatan.”

Ya, siapakah manusia yang begitu lemah dan berlumur dosa? Para Nabi saja yang diberikan tugas oleh Allah Swt di muka bumi ini untuk mengayomi umat-Nya untuk mendekatkan diri kehadirat Ilahi, harus ikhlas menghadapi berbagai ujian. Lalu manusia? Pantaskah untuk berkeluh kesah, meronta, hingga berteriak merasa Tuhan tak cukup adil untuknya ketika ujian melanda? نَعُوْذُبِاللهِ مِنْ ذَالِكَ

Hz. Mirza Masroor Ahmad Aba juga bersabda:

“Tidak diragukan lagi, berbagai cobaan yang dialami orang mu-min tampak sebagai cobaan bagi orang-orang lain namun para mu-min tidak menganggapnya sebagai cobaan. Penting bagi seseorang untuk tetap teguh pada taubatnya yang hakiki dan menyadari bahwa taubat akan memberikannya kehidupan yang baru. Jika kalian ingin merasakan buah pertaubatan, maka wujudkanlah pertaubatan kalian secara perbuatan.” 

Alih-alih meronta merasa ujian tak cukup adil, sejatinya taubat yang hakiki menjadi solusi. Sepanjang menjalani kehidupan yang begitu fana ini, kiranya manusia tak akan pernah luput dari dosa. Entah yang disengaja maupun tidak, dosa melekat pada manusia yang penuh dengan berbagai kelemahan. Ujian yang melanda kiranya tanpa disadari akan mampu menggugah manusia untuk mengoreksi diri akan dosa yang telah dilakukan. Hingga pada akhirnya ujian tak sekedar menjadi luka membekas, namun menjadi sebuah proses untuk mencapai pertaubatan yang hakiki, yang pada akhirnya berujung pangkal untuk manusia dapat kembali kepada Sang Pemilik Langit dan Bumi.

Ya, ujian datang menyapa sejatinya menghadirkan berbagai makna. Meski banyak yang harus dikorbankan, diupayakan, hingga diperjuangkan, hikmah yang indah dapat dirasakan ketika manusia mampu melewati ujiannya semata atas karunia-Nya. 

Tuhan,,

Kami tak akan mungkin mampu menolak ujian-Mu

Kami pun tak akan mungkin mampu menghadapinya tanpa pertolongan-Mu

Kuatkan dan mampukan kami dalam menjalani

Karna hanya Engkaulah sebaik-baiknya kami kembali


ditulis oleh: Mutia Siddiqa Muhsin.

Editor QC: Mln. Ammar Ahmad, Shd.

sumber dan referensi :
https://ahmadiyah.id/khotbah/2015-10-02-intisari-dari-adanya-ujian-dan-cobaan
gambar:
image : Generated with AI (bing image creator)