Mengapa Doa Kita Lama atau Tidak DIkabulkan?

131

Pertanyaan ini pasti pernah, kalaupun tidak sering, muncul dalam diri kita. Ketika doa kita lama atau bahkan tidak dikabulkan, lantas kita dihantui pikiran mengapa Allah Ta’ala lama atau tidak mengabulkan doa-doa kita? Bukankah Dia menjanjikan pengabulan doa? Karena Allah Ta’ala sendiri yang berfirman, “Berdoalah kepada-Ku; Aku akan mengabulkan doamu.” (QS. Al-Mu’min 40: 61)

Apakah, naudzubillah min zalik, Dia mengingkari janji-Nya? Ataukah kita yang salah mengartikan? Semoga tulisan sederhana ini bisa sedikit menghilangkan kebingungan mengenai hal ini.

Bila ada doa kita yang lama atau bahkan tidak dikabulkan, ada beberapa faktor yang bisa menjawab hal ini. Beberapa diantaranya adalah:

1. Tidak Beriman dan Beramal Saleh

Bisa jadi masalahnya datang dari diri kita sendiri. Mungkin kita masih lalai dalam meningkatkan keimanan kita, melaksanakan amal ibadah yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena Allah Ta’ala menyatakan, “Dan Dia mengabulkan doa orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan Dia menambahkan kepada mereka sebagian karunia-Nya, dan orang-orang kafir bagi mereka ada azab yang keras.” (QS. Asy-Syura 42: 27)

Ya, Dia menuntut kita menjadi hamba-hamba yang beriman dan beramal saleh. Kita diharuskan menunjukkan kesungguhan kita dalam memohon sesuatu, menunjukkan pengakuan dan penyerahan diri kita sepenuhnya pada kekuasaan Allah Ta’ala, dengan bukti menjalankan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Itu adalah bukti bahwa kita memang mengimani, meyakini kekuasaan Allah Ta’ala, dan keimanan itu dibuktikan dengan amal ibadah kita.

2. Tergesa-gesa dan Jemu dalam Berdoa

Mungkin kita terlanjur jemu dan tidak sabar dalam berdoa. Sehingga kita memutuskan untuk berhenti berdoa, sebagaimana Mirza Ghulam Ahmad, pendiri Jemaat Ahmadiyah menyatakan:

“Mereka selalu merasa tergesa dan tidak sabar menunggu, padahal kinerja Allah Swt selalu mengikuti proses tertentu. Tidak pernah terjadi ada manusia yang menikah hari ini lalu keesokan harinya sudah mendapat seorang anak. Meskipun Tuhan itu Maha Kuasa dan bisa melakukan apa pun yang diinginkan-Nya, namun tetap saja Dia akan mengikuti kaidah dan sistem yang telah diterapkan-Nya sendiri.[1]”

Inilah mengapa kita diharapkan untuk tidak jenuh dan tidak tergesa-gesa dalam berdoa. Karena bisa jadi, pengabulan doa Allah Ta’ala itu masih dalam proses yang mengarah pada wujud doa yang kita inginkan. Mirza Ghulam Ahmad memberikan penggambaran berikut:

“Bila seorang wanita hamil setelah empat atau lima bulan menjadi tidak sabaran untuk melihat anaknya dan mengupayakan melahirkan cepat dengan bantuan obat-obatan, tidak saja anaknya tidak akan lahir hidup tetapi ia sendiri juga akan mengalami kekecewaan berat. Begitu pula dengan orang-orang yang tidak sabar melihat hasil sebelum waktunya, bukan saja ia akan merugi tetapi juga membahayakan keimanannya sendiri. Dalam keadaan demikian itu orang lalu menjadi atheis.[2]”

Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang bunyinya,

“Tidaklah seseorang berdoa kepada Allah, melainkan doanya pun akan dikabulkan. Bisa saja dengan disegerakan di dunia, atau disimpan untuk nanti pada hari akhirat, atau Allah Azza wa Jalla akan menghapuskan dosa-dosanya sesuai dengan kadar doanya. Itu selama ia tidak berdoa meminta suatu hal berdosa, atau memutus tali silaturahim, atau ia berlaku tergesa-gesa.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana maksud ia tergesa-gesa?”

Beliau menjawab, ”ia berkata, ‘Aku sudah berdoa kepada Rabb ku, namun Dia tidak mengabulkan doaku.[3]”

3. Doa Bertentangan dengan Takdir Allah Ta’ala

Mirza Ghulam Ahmad memberikan contoh berikut ini:

“Sebagai contoh, jika seorang anak menangis meminta kepada ibunya untuk diberi api menyala, seekor ular berbisa atau racun yang terlihat enak, maka ibu itu tidak akan mengabulkan permintaannya. Kalau si ibu ini menuruti kehendak anaknya dan si anak mungkin selamat nyawanya tetapi sebagian dari anggota tubuhnya akan menjadi rusak tidak berguna lagi. Bila anak ini dewasa nanti maka ia akan menyesali ibunya yang ceroboh.[4]”

Segala permohonan kita, bila tidak masuk dalam takdir Allah Ta’ala, malah berbahaya dalam pandangan-Nya, tentu tidak akan dikabulkan oleh-Nya. Karena bila dikabulkan, maka hal ini tidak saja menjadi kesia-siaan belaka, malah bisa jadi mendatangkan keburukan belaka.

4. Allah Ta’ala Memutuskan untuk Tidak Mengabulkannya

Walaupun kita sudah menjalankan dan memenuhi semua persyaratan dalam berdoa, tetapi keputusan tetaplah di genggaman Allah Ta’ala.

Mirza Ghulam Ahmad menyatakan:

 “Tetapi harus diingat, adalah salah jika beranggapan bahwa setiap doa dari mereka yang dikasihi Tuhan akan selalu dikabulkan. Sebenarnya hubungan mereka dengan Tuhan adalah sebagai sahabat, terkadang Dia mengabulkan permohonan mereka dan terkadang Dia akan menerapkan kemauan-Nya atas mereka. Hal itulah yang terjadi dalam suatu hubungan persahabatan. Suatu ketika seseorang akan menerima apa yang diusulkan sahabatnya dan melakukan apa yang diinginkannya, kali lain ia akan menetapkan apa yang diinginkannya sendiri.[5]”

Jadi, kita tak bisa memaksa-Nya untuk mengabulkan doa kita. Karena apapun yang Dia takdirkan untuk kita, pastilah itu yang terbaik untuk kita. Meskipun begitu, kita tetap harus berdoa. Karena doa itu layaknya obat. Sebuah obat belum tentu dapat menyembukan penyakit kita, lantas apakah kita berhenti untuk meminum obat?


Penulis: Lisa Aviatun Nahar

Referensi:

[1] Inti Ajaran Islam hlm. 184

[2] Inti Ajaran Islam hlm. 185

[3] Shahîh Sunan At-Turmudzi, no. 2652

[4] Inti Ajaran Islam hlm. 181

[5]  Inti Ajaran Islam hlm. 198

Sumber Gambar : https://unsplash.com/photos/SZYreZsJ-fE?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink