Merdeka Seutuhnya #2 – Dari Nafs Ammarah Menuju Nafs Muthmainnah

7
MERDEKA SEUTUHNYA #1 Melampaui Karep: Merdeka dari Belenggu Diri
MERDEKA SEUTUHNYA #1 Melampaui Karep: Merdeka dari Belenggu Diri

Dari Nafs Ammarah menuju Nafs Muthmainnah

Pada bagian sebelumnya, kita sampai pada sebuah pertanyaan: setelah manusia berhasil mengenali dirinya, siapa yang seharusnya ia kenali setelah itu?

Pertanyaan itu membawa pembicaraan tentang kemerdekaan ke arah yang berbeda. Penulis telah belajar bahwa manusia dapat membebaskan dirinya dari berbagai belenggu yang berasal dari dalam diri. Tetapi jika manusia telah mengenali dirinya, tentu masih ada sesuatu yang lebih jauh untuk dikenali. Di sinilah Islam membawa kita kepada pengenalan terhadap Allah.

Dalam Filsafat Ajaran Islam, pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., menjelaskan bahwa manusia memiliki keadaan tabii, keadaan akhlaki, dan keadaan ruhani. Ketiganya menunjukkan adanya perkembangan dalam diri manusia. Potensi-potensi alami yang ada dalam dirinya dapat diarahkan sehingga melahirkan akhlak, dan manusia yang telah mencapai keadaan akhlaki masih dapat berkembang menjadi manusia ruhani, yaitu manusia yang hidup dengan hubungan yang nyata dengan Allah.

Keadaan tabii adalah keadaan alami manusia. Di dalamnya terdapat berbagai kemampuan, dorongan, dan kecenderungan yang pada dirinya sendiri belum memiliki nilai baik ataupun buruk. Manusia dapat marah, takut, mencintai, mempertahankan diri, atau bersabar. Semua itu merupakan bagian dari potensi yang Allah letakkan dalam diri manusia. Persoalannya bukan apakah potensi itu ada, tetapi bagaimana manusia menggunakannya.

Marah, misalnya, tidak selalu buruk. Ada keadaan ketika marah justru diperlukan untuk menghadapi kezaliman. Demikian pula sabar tidak selalu berarti diam dalam setiap keadaan. Dengan akal dan pertimbangan, manusia belajar menempatkan setiap potensi pada tempat dan waktu yang semestinya. Ketika digunakan dengan benar, potensi-potensi alami itu berkembang menjadi kualitas akhlaki.

Dengan demikian, manusia tidak diminta membuang keadaan tabiinya. Ia justru diminta untuk menguasainya dan mengarahkannya. Dari sinilah manusia berkembang menjadi manusia berakhlak.

Namun manusia tidak berhenti di sana. Menjadi manusia berakhlak adalah keadaan yang mulia, tetapi manusia masih dapat berkembang menjadi manusia ruhani, manusia yang bertuhan. Dalam keadaan ini, hubungan dengan Allah tidak lagi sekadar sesuatu yang diakui secara lisan, melainkan menjadi pusat kehidupan.

Pembagian ini membuat saya kembali melihat pengalaman saya sendiri. Pada bagian sebelumnya, saya bercerita tentang keinginan untuk dianggap pintar. Saya menyadari bahwa ada pambegan (sombong) dalam diri saya: saya tidak hanya ingin memahami ilmu, tetapi juga ingin orang lain mengakui bahwa saya tahu. Bahkan terkadang saya menggunakan istilah-istilah Arab bukan semata-mata karena diperlukan, tetapi juga karena ada keinginan terselubung untuk menunjukkan kemampuan bahasa Arab saya.

Kesadaran semacam itu ternyata tidak langsung membuat saya terbebas darinya. Tetapi setidaknya saya mulai tidak nyaman dengan kelemahan tersebut. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri: mengapa saya ingin dianggap pintar? Mengapa pengakuan orang lain begitu menyenangkan bagi saya?

Di sinilah saya mulai memahami nafs lawwamah (jiwa yang mencela diri). Dalam Filsafat Ajaran Islam, nafs lawwamah adalah keadaan ketika manusia mulai mencela dirinya atas kesalahan dan kelemahannya. Ia tidak lagi puas sekadar mengikuti kecenderungan yang muncul dalam dirinya. Ia mulai memiliki kesadaran moral dan keinginan untuk memperbaiki diri.

Bagi saya, pengalaman itu menunjukkan bahwa mengetahui kelemahan diri dan melawannya adalah dua hal yang berbeda. Saya mungkin sudah tahu bahwa saya senang dipuji. Tetapi pengetahuan itu baru menjadi langkah perubahan ketika saya mulai mempertanyakan dan menegur kecenderungan tersebut.

Perjalanan itu kemudian menuju nafs muthmainnah, jiwa yang tenteram. Di sinilah kesadaran moral manusia berkembang menuju keadaan ruhani yang berhubungan dengan Allah.

Al-Qur’an menggambarkannya dengan panggilan yang sangat indah:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً ۝ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ۝ وَادْخُلِي جَنَّتِي

Yā ayyatuhan-nafsul-muma’innah. Irji‘ī ilā rabbiki rāiyatan mariyyah. Fadkhulī fī ‘ibādī. Wadkhulī jannatī.

“Wahai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

(QS. al-Fajr: 27–30)

Susunan ayat ini membawa kita pada satu hal penting. Jiwa yang tenteram ternyata tidak diperintahkan untuk berhenti pada ketenteramannya. Ia justru dipanggil untuk kembali kepada Tuhan, kemudian masuk ke dalam golongan hamba-hamba-Nya, dan akhirnya masuk ke dalam surga-Nya.

Di sini saya kembali teringat pada swarga (surga) dalam pemikiran Suryomentaram. Pada bagian sebelumnya, saya penulis bahwa manusia dapat keluar dari keruwetan meri (iri hati), pambegan (sombong), getun (menyesal), dan sumelang (khawatir) menuju tentrem (tenteram) dan tatag (teguh). Islam membawa pembicaraan tentang ketenteraman itu ke arah yang lebih jauh: jiwa yang tenteram memiliki tujuan, yaitu Allah.

Karena itu, ketenteraman dalam Islam bukan sekadar keadaan batin yang nyaman. Ia merupakan keadaan ruhani yang lahir dari hubungan manusia dengan Allah. Manusia tetap memiliki potensi alami, emosi, dan keinginan, tetapi seluruhnya diarahkan agar selaras dengan kehendak-Nya.

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. menjelaskan bahwa kehidupan ruhani semacam itu bukan hanya sesuatu yang akan dirasakan setelah kematian. Dalam Filsafat Ajaran Islam, keadaan ruhani manusia digambarkan sebagai suatu kehidupan yang dapat mulai dirasakan di dunia. Dalam Malfuzat, beliau a.s. juga menjelaskan bahwa kehidupan surgawi tidak hanya berkaitan dengan kehidupan setelah kematian. Prosesnya telah dimulai di dunia ini; takut kepada Allah mencegah manusia dari keburukan dan membebaskannya dari kegelisahan serta penderitaan yang lahir dari keterikatan kepada hawa nafsu.

Dengan demikian, kehidupan surgawi bukan sesuatu yang sepenuhnya jauh dari kehidupan sekarang. Manusia dapat mulai merasakan kehidupan itu di dunia melalui ketaatan, penyucian diri, dan kedekatan kepada Allah.

Pada titik ini, kita dapat melihat kembali makna kemerdekaan. Mungkin kemerdekaan bukan berarti semakin sedikit hal yang mengikat manusia. Sebab manusia memang tidak pernah hidup tanpa arah dan tanpa keterikatan. Yang lebih penting adalah apa yang menjadi pusat kehidupan manusia.

Jika hidup kita dikuasai oleh pujian, kita akan takut kehilangan pujian. Jika hidup kita dikuasai oleh harta, kita akan takut kehilangan harta. Jika hidup kita dikuasai oleh karep (gerak keinginan), keadaan batin kita akan terus berubah mengikuti geraknya. Tetapi ketika Allah menjadi pusat kehidupan, berbagai hal tersebut tidak lagi memiliki kekuasaan yang sama atas diri kita.

Di sinilah kemerdekaan ruhani menemukan maknanya: bukan sekadar terbebas dari sesuatu, tetapi menjadi manusia yang seluruh hidupnya diarahkan kepada Allah.

Bersambung ke Merdeka Seutuhnya #3 — Khalifah: Ketika Manusia Diberi Amanah


Oleh : Hanif Muhammad Jamil