Setiap tahun kita merayakan kemerdekaan Indonesia dengan upacara yang khidmat dan berbagai lomba 17-an, dari balap karung sampai panjat pinang. Tetapi, setelah semua upacara dan lomba itu selesai, satu pertanyaan masih menggantung di benak saya: sebenarnya, apa esensi kemerdekaan?
Kemerdekaan tentu bukan sekadar terbebas dari penjajahan. Kita dapat hidup di sebuah negara yang merdeka, tetapi belum tentu benar-benar merdeka sebagai manusia. Seseorang dapat bebas menentukan ke mana ia pergi, apa yang ingin ia beli, atau apa yang ingin ia lakukan, tetapi pada saat yang sama hidupnya masih dikuasai oleh rasa iri, kesombongan, ketakutan, atau keinginan yang tidak pernah selesai. Karena itu, mungkin ada bentuk kemerdekaan lain yang perlu kita bicarakan: kemerdekaan dari berbagai belenggu yang berasal dari dalam diri.
Salah satu hal yang membuat manusia tidak merdeka adalah ketika ia terus-menerus mengejar apa yang dikehendakinya. Kita ingin memiliki sesuatu, lalu mengejarnya. Ketika tidak mendapatkannya, kita merasa susah; ketika berhasil mendapatkannya, tidak lama kemudian muncul sesuatu yang lain untuk dikejar. Tanpa disadari, hidup kita bisa habis untuk mengejar sesuatu yang selalu bergerak di depan kita.
Di sinilah saya teringat pada Kawruh Beja Sawetah Ki Ageng Suryomentaram.
Dalam wejangan tersebut, Suryomentaram membahas karep, yaitu rasa menghendaki sesuatu yang membuat manusia berharap bahwa keadaan tertentu akan membawa kebahagiaan. Ketika karep terpenuhi, muncul rasa senang (bungah); ketika tidak terpenuhi, muncul rasa susah (susah). Namun, rasa senang maupun susah itu tidak terus menetap. Karep dapat mulur dan mungkret: berkembang dan menyusut mengikuti keadaan. Karena itu, sesuatu yang hari ini terasa sangat penting dan kita kira akan membuat kita bahagia, setelah tercapai pun tidak lama kemudian kehilangan daya tariknya. Karep kembali bergerak kepada sesuatu yang lain.
Di sinilah manusia dapat terjebak dalam sebuah lingkaran. Kita mengejar sesuatu karena mengira di sanalah kebahagiaan berada. Ketika mendapatkannya, kita merasa bungah (senang). Tetapi kemudian rasa itu berlalu, lalu muncul keinginan lain yang kembali kita kejar. Ketika keinginan itu tidak tercapai, kita merasa susah. Begitu seterusnya. Tanpa disadari, hidup kita dapat habis untuk mengejar sesuatu yang selalu bergerak di depan kita.
Lalu bagaimana manusia bisa keluar dari lingkaran itu?
Suryomentaram mengajak manusia untuk melihat dan memahami gerak karep dalam dirinya, yang disebut nyawang karep. Ketika muncul suatu keinginan, iri, kebanggaan, penyesalan, atau kecemasan, manusia belajar melihatnya sebagaimana adanya dan tidak langsung terbawa olehnya. Dari sini, ia mulai menyadari bahwa berbagai keruwetan batin yang selama ini membuatnya susah juga memiliki pola yang dapat diamati.
Ketika manusia terus terbawa oleh rasa iri (meri), kesombongan (pambegan), penyesalan atas masa lalu (getun), dan kekhawatiran terhadap masa depan (sumelang), Suryomentaram menggambarkan keadaan itu sebagai semacam “neraka” batin. Sebaliknya, ketika manusia tidak lagi begitu mudah terseret oleh karep, ia dapat keluar dari keruwetan tersebut dan memasuki keadaan yang disebut swarga (surga): tentrem dan tatag.
Tentrem berarti batin tidak lagi terus-menerus diguncang oleh apa yang diinginkan tetapi belum dimiliki atau oleh apa yang sudah hilang. Sementara tatag menunjuk pada keteguhan: manusia menjadi tidak mudah runtuh hanya karena keadaan tidak berjalan sesuai dengan keinginannya. Ia tidak harus selalu memperoleh apa yang diinginkan untuk tetap dapat berdiri dengan tenang.
Dalam keadaan seperti itu, kebahagiaan (begja) tidak lagi sepenuhnya bergantung pada terpenuhinya karep. Manusia mulai menemukan bahwa ia dapat tetap tenteram ketika keinginan tidak terpenuhi dan tetap teguh ketika keadaan berubah. Ada kebebasan yang tumbuh ketika seseorang tidak lagi menyerahkan keadaan batinnya kepada setiap keinginan yang muncul.
Dari semua itu, pambegan (sombong) mungkin yang paling mudah saya kenali dalam diri sendiri.
Tak jarang saya merasakannya ketika belajar dan mengajarkan ilmu. Terkadang ketika mengetahui sesuatu, penullis merasa bahwa diri ini pintar. Lalu saya ingin orang-orang beranggapan, “Hanif itu orangnya pintar.” Tak jarang istilah-istilah Arab saya gunakan bukan semata-mata untuk merujuk pada istilah asli dan akar katanya, tetapi juga karena ada motif terselubung untuk menunjukkan kemampuan bahasa Arab saya. Ada rasa senang ketika orang lain melihat saya sebagai orang yang tahu.
Padahal, kalau dipikir-pikir, bukankah aneh? Lazimnya kita belajar supaya menjadi lebih tahu, tetapi setelah mengetahui sedikit saja, saya malah ingin dianggap tahu.
Beberapa kali saya justru bertemu dengan orang yang tidak banyak bicara tentang ilmunya. Ia tidak merasa perlu menunjukkan bahwa ia tahu. Tetapi ketika berbicara, saya baru menyadari bahwa ternyata ilmunya jauh lebih luas daripada yang saya bayangkan. Di situ penulis seperti mendapat tamparan kecil. Saya sadar bahwa saya terlalu mudah merasa tahu.
Ilmu yang seharusnya membuat penulis semakin merunduk laksana padi penuh isi, justru bisa menjadi alasan bagi penulis untuk ingin dipandang sebagai orang yang pintar. Dari situ penulis mulai memahami bahwa pambegan tidak selalu hadir dalam bentuk merasa lebih tinggi daripada orang lain. Kadang ia cukup berupa keinginan agar orang lain mengakui bahwa kita pintar. Bahkan ketika sedang mengajarkan ilmu, keinginan itu bisa ikut menyelusup tanpa kita sadari.
Barangkali di sinilah pentingnya nyawang karep—melihat dan memahami gerak keinginan dalam diri. Ketika muncul keinginan agar orang lain menganggap diri ini pintar, setidaknya penulis mulai bisa menyadari, “Oh, ternyata saya sedang ingin diakui.” Kesadaran sederhana seperti ini membuat saya tidak langsung mengikuti keinginan tersebut. Saya mulai mempunyai jarak dengan rasa yang muncul di dalam diri.
Bukan berarti semua karep harus dihilangkan. Yang perlu berubah adalah hubungan kita dengan karep itu sendiri. Kita tetap dapat memiliki keinginan, tetapi tidak harus selalu menjadi budaknya. Ketika karep tidak lagi begitu mudah menyeret kita, kita mulai memahami apa yang dimaksud dengan swarga: tentrem dan tatag—surga yang, menurut Suryomentaram, dapat diraih manusia di dunia ini juga.
Tetapi di sinilah saya mulai merasa bahwa perjalanan ini belum selesai. Manusia dapat belajar melihat dirinya, memahami karep-nya, dan tidak lagi menjadi budaknya. Ia dapat menemukan ketenteraman di dalam dirinya. Namun, apakah ketenteraman itu sudah merupakan kemerdekaan ruhani yang sempurna?
Pertanyaan itu membawa saya pada persoalan yang lebih jauh: setelah manusia berhasil mengenali dirinya, siapa yang seharusnya ia kenali setelah itu?
Bersambung ke Merdeka Seutuhnya #2 — Dari Nafs Ammarah menuju Nafs Muthmainnah.
Oleh : Hanif Muhammad Jamil
