Rahīm: Refleksi Kasih Sayang, Kehidupan, Keberlanjutan dan Kebangkitan

69

Rahīm: Refleksi Kasih Sayang, Kehidupan, Keberlanjutan dan Kebangkitan

Setiap manusia memulai kehidupannya dari tempat yang sama, dari rahim seorang perempuan. Tempat yang gelap dan terlindungi dari dunia luar. Disanalah satu sel kecil melewati fase yang panjang menjadi makhluk hidup yang utuh dan sempurna.

Sejak dahulu kala manusia terpesona oleh asal mula kehidupan. Terpesona oleh kualitas seorang perempuan dan organ yang ada di dalam tubuhnya. Setidaknya sejak zaman neolitik puluhan ribu tahun yang lalu manusia mulai memahat penghormatannya dalam bentuk ukiran batu. Patung wanita atau seorang ibu yang diberi nama Venus oleh para arkeolog, dewi kesuburan dan cinta. Tidak ada yang tahu pasti apa tujuan nenek moyang kita memahat bentuk-bentuk tubuh wanita tersebut, namun banyak yang menduga bahwa patung tersebut adalah bagian dari ritual atau simbol kesuburan dalam kepercayaan agama mereka. Tak heran, di setap kebudayaan selalu dapat kita temukan dewi (atau dewa) yang diasosiasikan dengan kesuburan, kehidupan dan peran “ibu”, prekursor dari segala yang ada di dunia. Gaia bagi orang-orang Yunani, Ibu Pertiwi atau Bhūmi dalam mitologi Hindu-Buddha, Papatūānuku dalam mitologi Maori, hingga Jörð dalam mitologi Norse. Dewa-dewi kesuburan selalu berhubungan erat dengan kesuburan tanah, taman, tanaman dan buah-buahan yang menjadi kekayaan Bumi. Sifat maternal menjadi simbol yang satu terhadap kasih sayang dan anugrah yang telah disediakan oleh alam kepada manusia. 

Patung-patung “Venus”. Sumber: pinterest

Mukjizat Kehamilan

Kehamilan memang sebuah keajaiban tersendiri, seorang wanita akan mengalami perubahan yang luar biasa selama proses tersebut. Perubahan keseimbangan hormon menimbulkan gejala mual muntah di awal kehamilan. Selain berperan dalam peningkatan penyimpanan lemak dan perkembangan payudara, hormon progesteron dan estrogen membuat tubuh menahan cairan, termasuk dari saluran pencernaan, menyebabkan BAB keras (konstipasi).

Untuk menyuplai janin yang tumbuh di rahim, tubuh meningkatkan volume darahnya dan memperbesar pembuluh darah supaya pasokan darah bisa sampai ke janin. Akibatnya, jantung ibu harus bekerja lebih keras untuk memompa volume darah yang banyak itu, juga terjadi penurunan tekanan darah yang terkadang membuat ibu merasa pusing ketika berdiri lama. Ibu hamil berada dalam kondisi hiperkoagulasi, yakni darah akan cepat membeku, sehingga meningkatkan risiko tersumbatnya pembuluh darah (thrombosis).

Rahim ibu hamil akan semakin membesar hingga delapan bulan kehamilan. Dari ukuran panjang 7 cm atau sebesar telur bebek tumbuh membesar sampai berukuran lebih dari 30 cm, sebesar buah semangka. Rahim yang membesar akan menekan lantai diafragma dan memaksa paru-paru untuk bekerja lebih keras untuk memasok oksigen. Itu sebabnya ibu hamil lebih cepat merasakan lelah, atau kehabisan napas bila beraktivitas. Penekanan rahim ke kandung kemih di usia kehamilan tua, ditambah relaksasi otot panggul, menyebabkan ibu hamil merasa perlu buang air kecil lebih sering atau bahkan tidak bisa menahan kencing.

Ironinya, janin dalam rahim ibu tidak ada bedanya dengan parasit. Dengan “licik” mengeluarkan hormon-hormon yang memaksa ibu harus merubah seluruh sistem organ di tubuhnya. Memaksa ibu untuk mengalirkan darah penuh nutrisi dan oksigen ke plasenta, lalu si janin dengan mudahnya menyerap semua nutrisi itu dan tumbuh dengan cepat. Dilihat dari sisi ibu hal ini merugikan. Ibu harus mencukupi kebutuhan nutrisi tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk manusia baru yang ada di rahimnya. Metabolisme karbohidrat dan protein berubah. Nafsu makan akan meningkat, hingga semasa kehamilan berat badan ibu bisa meningkat hingga 15 kg.

Semua proses tersebut terjadi untuk mendukung suatu mukjizat yang luar biasa. Rahim menjadi tempat aman yang tertutup. Sel imun ibu melakukan negosiasi yang sedemikian kompleks untuk melindungi “parasit” ini dari serangan pertahanan tubuh ibunya sendiri. Bahkan sampai sekarang, para peneliti masih terus terpesona oleh interaksi antar sel dan protein-protein selama kehamilan, dari satu sisi sama seperti nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu.

Dengan Menyebut Nama Tuhan Yang Rahīm

Rahim dalam bahasa Indonesia adalah kata serapan dari bahasa Arab. Kata dasar ر ح م juga digunakan untuk menggambarkan rasa kasih sayang, simpati, rahmah. Agama Islam menyebut Tuhan dengan nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Bahkan dalam setiap melakukan perbuatan baik, umat islam selalu menyebut nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang (بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ). Rakhamim (רַחֲמִים), dengan akar kata yang sama dengan rekhem dalam bahasa Ibrani juga disebutkan Allah sebagai satu atribut dalam Perjanjian Lama. Kitab Keluaran menyebut bahwa Tuhan adalah penyayang dan pengasih. Akar kata yang sama menggambarkan hubungan rahim, sifat maternal, dan Kasih sayang Allah.

וַיַּעֲבֹ֨ר יְהוָ֥ה ׀ עַל־פָּנָיו֮ וַיִּקְרָא֒ יְהוָ֣ה ׀ יְהוָ֔ה אֵ֥ל רַח֖וּם וְחַנּ֑וּן אֶ֥רֶךְ אַפַּ֖יִם וְרַב־חֶ֥סֶד וֶאֱמֶֽת

Terjemah (TB): “Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya.” (Keluaran, 34:6)

Layaknya uterus (Rahim) yang melingkupi janin dengan penuh kasih sayang, perhatian dan perlindungan. Begitupula sifat kasih sayang Allah Ta’ala melingkupi seluruh makhluk ciptaannya.

وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ ۚ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ ۖ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ ۚ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ

Terjemah: “Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman,‘Siksa-Ku akan Ku-timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (Al-A’raf: 157)

Atribut Rahman Allah adalah sifat Maha Pengasih-Nya. Kebaikan dan anugerah yang Dia berikan kepada seluruh makhluk hidup di dunia ini. Mulai dari bakteri, jamur-jamuran, tumbuhan, dan seluruh binatang; baik yang melata di tanah, berenang di laut, terbang di udara atau yang bermamah biak di padang rumput. Rahmaniyyat yang merupakan keseimbangan ekosistem dan keharmonisan fisika-kimia-biologi yang membuat kehidupan mungkin terjadi di Bumi ini. Tanpanya, mungkin tak ada bedanya Planet kita dengan Venus atau Mars.

Sedangkan Atribut Rahīm Allah diinterpretasikan sebagai sifat Maha Penyayang-Nya. Sifat yang khusus ditujukan kepada manusia yang benar-benar patuh, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya (bertakwa). Rahmat Allah dekat kepada mereka yang berbuat kebaikan dan layaknya seorang ibu kepada anaknya, segala yang diinginkan anaknya akan diberikan kepadanya. Begitulah Rahīm Allah Ta’ala, yakni pengabulan doa.

Banyak orang yang melupakan atribut-atribut Tuhan tersebut. Manusia lupa dengan sifat Rahman Allah Ta’ala sehingga banyak dari mereka yang tidak bersyukur. Lupa bahwa seluruh makhluk hidup berhak mendapatkan kasih sayang Tuhan, sehingga membenarkan eksploitasi dan merusak ekosistem demi kepentingan pribadi spesiesnya, memonopoli kasih sayang Tuhan. Manusia juga lupa dengan sifat Rahīm Allah, sehingga banyak yang tidak mengikuti jalan kebaikan yang telah ditetapkan-Nya melalui Agama-Nya. Banyak yang tidak berperikemanusiaan dan berbuat sewenang-wenang dan menyembah tuhan-tuhan lain selain-Nya. Tuhan yang disebut kekayaan, pengetahuan atau jabatan, banyak yang menuhankan hal-hal tersebut. Banyak juga orang yang lupa berdoa, sombong dan menganggap semua kesuksesannya di dunia ini adalah hasil dari jerih payahnya sendiri, padahal segala privilege (hak istimewa) yang ia dapatkan hanyalah fasilitas yang dianugerahkan Allah kepadanya.

Manusia lupa bahwa layaknya seorang bayi yang baru lahir menangis, maka tangisannya itu dapat merangsang keluarnya air susu dari payudara ibunya. Bahkan bayi secara naluriah mencari puting susu ibu dan mengenyotnya, walaupun belum ada ASI yang keluar daripadanya. Bayi yang belum bisa berharap, belum bisa menyusun kata-kata juga berdoa dan berikhtiar sehingga bisa menarik tangan Allah untuk memberikan apa yang dibutuhkannya.

“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anaka  dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.” (Yesaya 49:15)

Jangan pernah berputus asa, karena Allah adalah Tuhan yang selalu mendengar setiap tangisan makhluknya yang menghadap kepadanya. Janganlah takut, karena janji-Nya pasti akan ditepati.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا۟ لِى وَلْيُؤْمِنُوا۟ بِى لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemah: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Akum aka katakanlah sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, karena itu hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 187)

Tetapi sama seperti ibu yang dengan kasih sayangnya seumpama anaknya meminta diberikan satu buah yang beracun, ibu itu tidak mungkin memberikannya kepadanya. Walaupun sekeras apapun kita berdoa kepada Allah dan memohon untuk diberikan sesuatu. Apabilah sesuatu yang kita minta adalah buruk di mata-Nya, tentu Dia tidak akan memberikan buah beracun itu kepada kita.

Allah tidak menciptakan manusia untuk dihukum atau di-azab, sama sekali tidak! Bukan itu tujuannya. Allah mudah untuk menyayangi tetapi sulit untuk menghukum. Bayangkan, setiap keburukan yang kita lakukan, Allah membalas kita dengan satu dosa. Tetapi satu kebaikan dan amal baik yang kita perbuat, Allah membalas kita dengan kebaikan berlipat ganda. Segala cobaan yang dihadapi di dunia ini dan hukuman di akhirat nanti, jika direnungkan juga merupakan kasih sayang Allah. Layaknya seperti ibu yang memarahi anaknya ketika anaknya berbuat kesalahan, kemarahan itu tidak berlandaskan dari kebencian ibu kepada anaknya melainkan justru berasal dari kepedulian dan perhatiannya. Sesungguhnya Allah Maha Adil dan Maha Pemaaf.

Penderitaan ibu hamil tidak hanya pada proses kehamilannya saja, tapi juga pada proses persalinan. Ketika usia kehamilan mencapai usia cukup, ibu hamil akan mulai merasakan rasa mulas dan nyeri kram di perutnya. Rasa nyeri itu diakibatkan dari kontraksi otot-otot rahim yang mulai bersiap untuk mendorong bayi keluar. Kontraksi tersebut akan rutin terjadi, dengan durasi yang semakin lama, frekuensi yang semakin sering, dan kekuatan kontraksi yang semakin keras. Bayangkan bagaimana perasaan seorang wanita mengalami kenceng-kenceng seperti itu yang bisa berlangsung berjam-jam?

Persalinan dan Keberlanjutan

Lalu, proses persalinan juga sangat berbahaya bagi manusia. Struktur tubuh manusia yang berjalan tegak dengan dua kaki membuat pinggul manusia harus lebih kecil dibanding saudara-saudara kita yang berjalan dengan empat kaki. Volume otak manusia yang besar membuat tulang kepala yang membungkusnya juga harus besar, akibatnya kepala bayi yang besar akan kesulitan dalam melewati vagina ibu. Plasenta yang penuh dengan pembuluh darah juga tertanam dengan kuat di dinding rahim manusia, dibanding mamalia lain. Selama ribuan tahun sejarah manusia, pendarahan dalam proses persalinan menjadi penyebab kematian ibu terbesar yang disebabkan oleh berbagai macam hal. Sebelum ditemukannya prosedur bedah sesar dengan prosedur medis yang baik, persalinan berpotensi menjadi suatu aktivitas yang ironis; darinya lahir kehidupan baru, darinya pula bisa datang maut bagi ibu.

Kelahiran manusia juga seakan membawa kematian bagi ibu pertiwi. Selama jutaan tahun belum ada satupun makhluk yang dapat mengubah dunia dalam waktu yang singkat. Mungkin membutuhkan 100.000 tahun bagi manusia yang menggambar di dinding gua mendapat kemampuan untuk menggambar di atas kertas. Sedangkan hanya membutuhkan waktu 60 tahun bagi manusia yang mengendarai kereta kuda hingga bisa menerbangkan pesawat dengan bom atom di dalam perutnya. Dalam seratus tahun ini manusia telah menghancurkan ribuan ekosistem, memotong milyaran pohon, menggali jutaan tambang-tambang, dan “membunuh” untuk kedua kalinya ratusan juta pohon-pohon dan dinosaurus-dinosaurus dengan membakarnya di dalam pembangkit listrik, mesin-mesin kendaraan, dan pabrik-pabrik plastik.

Tidak salah bila Kamsidi Samsuddin melihat bahwa ibu Pertiwi sedang merintih dan berlinang air mata. Manusia hanyalah anak yang durhaka dan terus akan durhaka bila eksploitasi alam terus berlanjut.

Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
Hutan gunung sawah lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Rahim yang telah mengeluarkan janinnya akan kembali pada ukuran semula sekitar 2 bulan setelah kelahiran. Kondisi ibu perlahan-lahan kembali ke kondisi semula dan tidak lama kemudian, ibu mulai mengalami menstuasi kembali dan rahim siap menampung janin baru. Alam adalah keberlanjutan, segala sesuatu yang disediakannya tidak akan habis dan terus bergerak dalam siklus yang seimbang.

Sustainability (keberlanjutan) adalah kata yang sangat seksi di dekade dalam krisis iklim ini. Fokus penelitian umat manusia tidak lagi kepada bagaimana dapat menghasilkan sebanyak-banyaknya produk dengan modal seminimal mungkin, tapi bagaimana meciptakan sistem yang dapan menghasilkan produk kebutuhan seoptimal mungkin, distribusi sebaik mungkin, dengan memberikan sedikit mungkin efek negatif kepada lingkungan. Energi, teknologi, pertanian menjadi bidang terdepan dalam kesadaran terhadap hal ini dan menjadi tugas utama pemuda untuk mencapai hal itu, berbakti seperti lirik bait kedua lagu Ibu Pertiwi untuk menghapus air matanya.

Kulihat ibu pertiwi
Kami datang berbakti
Lihatlah putra-putrimu
Menggembirakan ibu
Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa

Percayakah pada Kehidupan Setelah Kematian?

Semua manusia akan menghadapi kematian. Tak peduli sudah sesering apa sel-sel di tubuhnya mengalami regenerasi dan sebanyak apa jantungnya berdetak, manusia yang kehidupannya bermula dari tempat lembab, tertutup dan gelap akan beristirahat untuk yang terakhir kalinya di dalam kubur, yakni tempat yang lembab, tertutup dan gelap pula. Bagi sebagian orang itu adalah akhir dari segalanya, tapi bagi sebagian orang yang lain itu adalah bagian dari perjalanan. Akhir dari hidup di dunia ini adalah awal dari hidup di akhirat. Tapi belum ada seorangpun yang bisa pergi ke akhirat dan kembali lagi untuk menceritakan indahnya arsitektur surga atau gelapnya cuaca di neraka. Bagaimana seseorang dapat yakin bahwa dirinya akan dibangkitkan kembali setelah kematiannya?

Tuhan bersabda (Al-Hajj : 7):

 يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مِّنَ ٱلْبَعْثِ فَإِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِن مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْ ۚ وَنُقِرُّ فِى ٱلْأَرْحَامِ مَا نَشَآءُ إِلَىٰٓ أَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوٓا۟ أَشُدَّكُمْ ۖ وَمِنكُم مَّن يُتَوَفَّىٰ وَمِنكُم مَّن يُرَدُّ إِلَىٰٓ أَرْذَلِ ٱلْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔا ۚ

Sebagaimana pertumbuhan janin menjadi refleksi perkembangan evolusi makhluk hidup dari segumpal darah menjadi makhluk sempurna dengan potensi yang luar bisa. Allah menarik perhatian bahwa sebagaimana zigot yang rendah dan tak berdaya dengan seizin-Nya bisa berkembang menjadi manusia, seperti itu pula-lah alam kubur manusia akan menjadi fase transisi yang lama bagi ruh kita. Disana ia berkembang dan mencapai potensi maksimalnya sebelum memasuki alam akhirat. Dan sebagaimana sel telur dan sperma yang belum dikatakan makhluk hidup dengan segala hak-haknya berkembang menjadi makhluk hidup independent yang mampu merubah dunia, seperti itu pula-lah kehendak Allah untuk dapat menghidupkan kembali jiwa yang mati.

Lebih lanjut lagi, di ayat yang sama (Al-Hajj : 7), Tuhan bersabda:

وَتَرَى ٱلْأَرْضَ هَامِدَةً فَإِذَآ أَنزَلْنَا عَلَيْهَا ٱلْمَآءَ ٱهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَأَنۢبَتَتْ مِن كُلِّ زَوْجٍۭ بَهِيجٍ

Bahwa bagaimanapun metode kebangkitan yang akan terjadi, mungkin kita tidak akan mengerti. Namun Allah memberi analogi yang cukup indah, selayaknya sebuah tanah mati dan gersang ditetesi air hujan akan membuatnya menjadi subur dan bahkan tumbuh berbagai tanaman diatasnya. Tentu tanaman itu tidak tumbuh begitu saja, tapi membutuhkan proses dengan banyak faktor-faktor yang sesuai untuk membuat tanaman itu bisa tumbuh. Begitu pula Allah akan menghujankan rahmatnya kepada manusia yang mati dan dengan melalui proses serta faktor-faktor yang tidak diketahui, kehidupan setelah kematian mungkin dan akan terjadi.

Setiap manusia memulai kehidupannya dari tempat yang sama, dari Rahim seorang perempuan. Tempat yang gelap dan terlindungi dari dunia luar. Disanalah satu sel kecil melewati fase yang panjang menjadi makhluk hidup yang utuh dan sempurna. Manusia lalu akan kembali kepada penciptanya, mati kemudian bangkit untuk hidup di dunia selanjutnya. Menjadi makhluk spiritual yang utuh dan sempurna.


17 Oktober 2020

Rafif Adianto Abd. Wahab