Salah Paham Konsep Halal di Sektor Pariwisata

439

Siapa nih yang suka jalan-jalan ke destinasi wisata? Pasti banyak ya! Kira-kira tempat wisata di kota mana saja yang paling sering dikunjungi? Jakarta? Jogja? Atau Bali? Sobat Rajapena pernah dengar tentang wisata halal? Iya betul, yang pada tahun 2019 hingga akhir 2020 kemarin ramai diperbincangkan dan banyak penolakan dari masyarakat.

Pariwisata secara umum dapat diartikan sebagai suatu sektor yang digunakan untuk menumbuhkan dan membangun perekonomian dunia yang sangat menjanjikan. Selain itu, berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 1 yang dimaksudkan dengan pariwisata sendiri adalah berbagai macam bentuk kegiatan wisata dan didukung dengan berbagai fasilitas dan juga layanan yang disediakan oleh pengusaha, pemerintah maupun oleh masyarakat.

Wisata halal merupakan salah satu bagian dari sektor industri pariwisata yang ditujukan untuk wisatawan Muslim. Pelayanan wisatawan dalam pariwisata halal merujuk pada aturan-aturan Islam yang bertujuan untuk memberikan pelayanan ramah Muslim di setiap destinasi wisata. Beberapa negara yang telah menerapkan konsep wisata halal, beberapa negara-negara di Asia seperti Jepang, Thailand, Turki, dan negara Eropa seperti Spanyol. 

Jika dilihat dari beberapa negara yang telah menerapkan wisata halal, terdapat negara dengan mayoritas non-muslim telah menerapkan konsep wisata halal. Ini yang jadi pertanyaan yang aneh, kenapa sih mesti ada label halal bahkan dalam dunia wisata? Apa masih belum puas Majelis Ulama kita melabeli halal di produk kulkas, fashion, cat tembok dan makanan kucing?

Tahun 2019, Sandiaga Uno ketika menjadi Menteri Pariwisata sudah mencanangkan Bali akan dijadikan tempat wisata halal. Sontak begitu kencang penolakan dari banyak warga Indonesia ketika Bali yang indah itu, yang kuat budayanya itu harus dihalalkan segala untuk menjaring wisatawan timur tengah. Ini jelas menyinggung penduduk Bali yang selama ini fine-fine saja dengan situasi selama ini. Bahkan Bali, dengan tidak perlu disinggung lewat konsep halal segala, sudah menyumbang Rp 100 triliun dari total devisa pariwisata Indonesia.

Lalu, kenapa harus ada konsep halal segala? Nah, sebelum memasuki ke konsep halal, kita harus pahami dulu darimana sih ide halal untuk pariwisata Indonesia itu? 

Ide itu berawal dari laporan Mastercard GMTI (Global Muslim Travel Index) yang diluncurkan tahun 2019 kalau di tahun 2026 nanti akan ada 230 juta wisatawan muslim di seluruh dunia. Angka ini meningkat dari sebelumnya di tahun 2018 ada 140 juta wisatawan muslim. Nah, dari sana itu ada potensi pendapatan sekitar lebih dari Rp 3 ribu triliun. 

Siapapun tentu tergiur dengan angka Rp 3 ribu triliun dari pendapatan pariwisata itu. Tak terkecuali Indonesia yang juga pengen meningkatkan pendapatannya dari sektor pariwisata. Presiden Jokowi juga sudah membangun infrastruktur untuk menaikkan potensi pariwisata mulai bandara sampai jalan menuju akses lokasi wisata. Semua dilakukan untuk mendapat kue dari potensi wisatawan muslim sebesar Rp 3 ribu triliun lebih.

Tapi sayangnya, karena saking buta dan gagapnya kita, satu Indonesia kaget dengar potensi pendapatan Rp 3 ribu triliun dari wisatawan muslim seluruh dunia, akhirnya muncullah keputusan-keputusan yang menurut saya justru tidak membangun dunia pariwisata Indonesia. Malah sebaliknya, keputusan tersebut menjadi bahan tertawaan.

Contohnya ya, karena ingin menjaring pendapatan dari sektor wisatawan muslim, maka dulu pemerintah Nusa Tenggara Barat sempat hampir mencanangkan konsep pendakian syariah. Yang dipilih adalah Gunung Rinjani. Rencana awalnya, para pendaki Gunung Rinjani akan dipisah laki-laki dan perempuan supaya tidak terjadi perbuatan asusila. Orang-orang pun menertawakan keputusan ini. Akhirnya keinginan itu buru-buru diralat dan Gunung Rinjani tetap jadi pendakian seperti sekarang.

Ada lagi, karena tergiur pendapatan dari wisatawan muslim dari seluruh dunia, pantai di Pulau Santen Banyuwangi juga pernah dijadikan pantai syariah. Disana sempat dipasang papan pengumuman “Laki-laki dan perempuan yang ke pantai harus terpisah”. Meskipun banyak penolakan, tapi peraturan itu kabarnya tetap dilaksanakan. Dan akhirnya apa yang terjadi? Pengunjung turun drastis. Lagian emang siapa yang mau dipisah pas wisata ke pantai? Lah, masa satu keluarga harus berpisah hanya gara-gara wisata ke pantai? Dan karena pendapatan wisatawan Pantai Santen terus menurun, akhrinya ‘plang’ yang berisi peraturan memisahkan pria dan Wanita ke pantai itu diturunkan sendiri oleh warga sekitar yang malah rugi karena tidak ada yang datang. 

Di Timur Tengah sana sudah banyak yang syariah, yang halal. Wong mereka pengen wisata ke tempat yang berbeda kok dikasih yang sama? Mikir gak sih? Arab Saudi saja sudah membuka diri supaya wisatanya maju, ini Indonesia malah mundur ke belakang hanya gara-gara wisata halal. Pantas saja Indonesia yang tadinya di peringkat pertama di tahun 2019 sekarang turun 3 peringkat jadi di peringkat ke-4, Malaysia yang saat ini unggul di peringkat pertama destinasi wisata halal terbaik di dunia.

Yang diperlukan Indonesia kalau mau wisatawan muslim dan nonmuslim datang kesini adalah, perbaiki dulu daerah wisatanya. Orang pengen datang ke tempat wisata yang indah, bukan yang jorok dan tidak terpelihara. Perbaiki dulu mental penduduk di sekitar daerah wisata. Jangan malah wisatawan yang datang kesana gak nyaman diperas-peras oleh warga sekitar. Belum lagi pemda-nya dikit – dikit ngutip bayaran. Wong cuma lihat pantai saja harus bayar, harusnya gratiskan, dan tertibkan pedagangnya.

Salah satu sikap yang harus disiapkan oleh masyarakat Indonesia di daerah wisata manapun adalah keramahan dalam melayani tamu atau pendatang. Inilah yang diajarkan dalam agama Islam. Khalifah Muslim Ahmadiyah menasihati : 

“Tuhan memberitahukan kita di dalam al-Quran dengan menganugerahi teladan seorang Nabi, bagaimana caranya mengkhidmati para tamu. Ucapan salam dari tamu harus direspon dengan ucapan yang hangat dan tulus, serta kehendak yang baik harus diutarakan kepadanya dan ia harus dibuat nyaman dan aman.”

Kemudian, beliau juga menjelaskan:

“Rasulullah saw yang memahami dan mengamalkan perintah Ilahi lebih daripada orang lain telah memandu kita bahwa kita mempunyai kewajiban untuk mengkhidmati para tamu kita. Beliau saw bersabda, “Para tamu mempunyai hak atas anda, tunaikanlah!”.

Selain keramaahan dari masyarakatn, keramahan pegawai hotel juga dijaga. Jangan cuma pada sat shooting kamera tv langsung dilayani dengan ramah, tapi giliran gak ada shooting acara tv malah dikasih muka cemberut kalau melayani tamu, itu yang harus dihindari. Kalau cuma pengen nunjukin mana restoran yang tidak jual babi misalnya atau di mana tempat salat terdekat misalnya, ya latih dong tour guide-nya.

Eh, sekarang muncul lagi berita Pemkot Malang mau bikin Malang Halal. Dia kembali mengulang kesalahan yang sama, yang itu-itu saja, gak belajar dari kesalahan penerapan waktu Bali mau dijadikan wisata halal. Lagian pertanyaannya, emang kenapa sih Malang mau dijadikan Malang Halal? Emang selama ini Malang itu haram? Lha wong penduduk kota Malang itu 90% beragama islam, apalagi yang harus dihalalin di sana? Pemilik restorannya juga banyak yang muslim. Mau cari masjid? Emang masjid jarang di Malang? Tumplek – blek masjid disana, terus ngapain susah nyarinya?

Keputusan lebay beginilah yang membuat warga Malang jadi bergerak. Langsung warga Malang memasang spanduk yang bertuliskan “Kota Malang adalah kota toleran”, tapi tidak bertahan lama karena Satpol PP langsung menurunkan spanduk itu. Itulah logika berpikir mereka menolak konsep yang seperti cari muka itu. Malang yang adem, penduduknya yang toleran, tiba-tiba pengen dihalalin segala. Entar yang datang bukan wisatawan muslim dunia, malah kaum radikal dan intoleran yang tak berotak dan level ngototnya tingkat dewa. 

Apakah pemerintah telah keliru dalam menerapkan konsep untuk menjaring wisatawan muslim dunia? Kalau misalnya ingin menjaring wisatawan muslim dari seluruh dunia, jangan malah daerahnya dijadikan syariah. Sebaiknya, kembangkanlah satu daerah untuk dijadikan secara khusus sebagai daerah wisata halal.


Penulis: Hafiz Abdul Jabbar

Referensi:

https://news.detik.com/berita/d-4441423/sandiaga-ingin-kembangkan-pariwisata-halal-di-bali
https://heylawedu.id/blog/penerapan-konsep-wisata-halal
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20211027114343-269-713018/destinasi-wisata-halal-terbaik-2021-malaysia-ke-1-indonesia-ke-4#:~:text=Dan%20di%20tahun%20ini%2C%20destinasi,tahun%202019%20menempati%20peringkat%20pertama.
https://www.crescentrating.com/gmti/detail.html?spot=34&s=1
https://surabaya.bisnis.com/read/20220222/531/1503242/wisata-halal-kota-malang-diprotes-warga-ini-kata-wali-kota

Sumber Gambar : https://fajar.co.id/2018/10/16/wisata-halal-turut-kuatkan-ekonomi-indonesia/