Sempurnakan Ramadhanmu

315

Alhamdulillah, Ramadhan telah tiba. Walau Ramadhan kali ini masih terwarnai dengan pandemi, aksen – aksen berbau Ramadhan layaknya tetap ada dalam pandangan. Ornamen – ornamen penghias Ramadahan, kalimat Marhaban ya Ramadhan, masih tetap ada seperti biasanya. Lalu seperti apakah baiknya Ramadhan kali ini dapat dijalani?

Bulan Suci Ramadhan sejatinya dapat menjadi sarana melatih diri kembali ke tujuan hidup manusia yang hakiki. Kepenatan menjalani kehidupan dunia ini dengan segala serba serbi kesibukan duniawi, layaknya dapat diperbaiki, dengan berupaya mengintrospeksi diri dibulan suci. Sejatinya, manusia perlu mengakui, selama menjalani kehidupan ini, terlalu banyak mementingkan ego pribadi. Dalam setiap doa yang dipanjatkan disaat Shalat menghadap-Nya pun, tak sedikit, doa yang disisipkan seputar kebutuhan duniawi. Seolah manusia begitu luput bahwa kehidupan dunia ini hanya fana dan sementara. Dan tak pelak, kenikmatan dunia ini, mulai memudarkan, bahwa kehidupan yang kekal dan abadi sejatinya tetap menanti.

Untuk itu, selagi masih ada waktu, selagi masih dapat menjalani bulan Ramadhan nanti, Mirza Masroor Ahmad, Khalifah kelima Jemaat Muslim Ahmadiyah memberikan nasihatnya:

Kita hendaknya mengintrospeksi diri dalam suasana rohani di bulan Ramadhan ini untuk melihat berapa banyak perintah Allah Ta’ala ini telah menjadi bagian dari kehidupan kita atau sebaliknya, apakah kehidupan kita hanya berupa pernyataan lisan saja bahwa kami telah berjalan di atas perintah Allah Ta’ala.

Lisan yang mudah mengucap seolah mengumbar keyakinan, senatiasa ada dalam jalan-Nya, tak semudah mengamalkan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. Memang, intropeksi diri begitu amat penting dalam hal ini. Mencoba bertanya pada diri sendiri, sejauh apakah diri melaksanakan perintah-Nya? Sejauh apa diri ini berupaya ikhtiar menjalani hidup ini agar senantiasa ada di jalan-Nya? Hingga, sejauh apakah kita pasrah dan bertawakal akan kehendak-Nya?

Dan memang, jawabannya pun hanya Allah dan kita yang tahu. Sehingga bulan Ramadhan ini dapat menjadi ajang sarana pendekatan diri manusia dengan Sang Pencipta.  Tak sekedar mengintropeksi diri, jika dengan segala kerendahan hati, manusia mengakui masih terdapat banyak salah dan khilaf pada Sang Penciptanya. Dengannya, manusia dapat memperbaiki diri menjadi lebih baik segala, sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah Taala.

Ya, memang tak dapat dipungkiri, diperlukan kerendahan hati untuk memperbaiki diri. Kesombongan, keakuan, dan keangkuhan merasa diri sudah sangat beriman, layaknya tak mampu menciptakan diri untuk lebih dekat kepada-Nya. Alih – alih mendekat pada-Nya, Allah malah tidak berkenan padanya.

Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad memberikan nasihat:

Ini bukanlah jalan Allah Ta’ala untuk menghinakan seseorang yang berpaling kepada-Nya dalam kerendahan hati dan memberikannya kematian yang tercela. Seseorang yang berpaling kepada Allah Ta’ala tidak pernah disia-siakan. Tidak akan ada satu contoh pun sejak awal dimana seseorang yang menjalin hubungan secara tulus dengan Allah Ta’ala namun kemudian mati dalam kegagalan. Allah Ta’ala menginginkan manusia tidak hanya sekedar berdoa untuk keinginan egonya saja namun adalah untuk berpaling kepada-Nya dalam kerendahan hati.Dia sendiri berfirman:

مَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“…. Dan barangsiapa bertakwa kepada Allah, Dia akan membuat baginya suatu jalan keluar dan Dia akan memberikan rezeki kepadanya dari mana tidak pernah ia sangka….” [Ath-Thalaq, 65:3-4]

Sejatinya, Ramadhan dapat diwarnai dengan segala kerendahan hati untuk lebih mendekatkan diri kehadirat Ilahi. Jangan sampai kita merasa bahwa kita sudah dekat kepada Allah. Karena perasaan ini adalah perasaan takabur atau sombong, dan sifat sombong akan menjauhkan kita dari Tuhan.


Oleh : Mutia Siddiqa Muhsin

Referensi :

https://ahmadiyah.id/khotbah/2015-06-26-ramadhan-perubahan-diri-dan-tanggung-jawab-kita

Sumber Gambar : www.arabnews.com