Mempertanyakan Hari Kartini

340

Waktu saya masih di sekolah dasar, lagu Ibu Kita Kartini adalah salah satu lagu favorit yang saya suka mainkan di pianika. Ironisnya, ketika saya masih tinggal di Indonesia, tidak pernah terbesit untuk mempertanyakan Hari Kartini. Anehnya, ketika tidak lagi tinggal di Indonesia, saya mulai bertanya-tanya: Mengapa hanya ada Hari Kartini? Mengapa tidak ada Hari Cut Nyak Dien atau Hari Dewi Sartika? Mengapa tidak ada hari besar nasional untuk mengenang para pahwalan wanita Indonesia lainnya? Apakah mereka ‘terlupakan’ ? Atau apakah mereka ‘dilupakan’? Dan keresahan hati ini menimbulkan pertanyaan baru. Siapa yang salah? Sejarah dan media Indonesia yang terlalu fokus pada Ibu Kartini? Atau saya, yang terlalu serius memikirkan ketidakadilan terhadap pahlawan nasional wanita Indonesia lainnya?

            Selain Kartini ada 13 pahlawan  nasional wanita Indonesia yaitu: (1) Nyi Ageng Serang; (2) Andi Depu; (3) Dewi Sartika; (4) Cut Nyak Dien; (5) Fatmawati; (6) Malahayati; (7) Maria Walanda Maramis; (8) Martha Christina Tiahahu; (9) Cut Nyak Meutia;(10) Opu Daeng Risaju; (11) Rasuna Said; (12) Ruhana Kuddus; (13) Siti Walidah atau yang juga dikenal Nyai Ahmad Dahlan.[1] Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pahlawan adalah “orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani.”[2]    

            Kemudian dalam Pasal 26  UU No. 20/2009, seorang warga negara Indonesia yang telah meninggal dapat diberi gelar pahlawan jika [3] :

1.  “Pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa;”

2.  “Tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan;”

3. “ Melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya;”

4. “Melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara;”

5.   “Menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa;”

6. “Memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi;”

7. “Melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.”

             Kartini memang memiliki andil besar dalam memperjuangkan pendidikan bagi wanita Jawa dan pemikirannya yang ditorehkan dalam surat-suratnya juga bisa merubah pandangan terhadap status wanita pada kala itu. Pandangan Kartini dan sekolah yang didirikannya memang “melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara”  dan “menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.”  Oleh karena itu, pada tanggal 2 Mei 1964, Presiden Soekarno mengeluarkan ketetapan Presiden RI bernomor No.108 tahun 1964 agar hari lahir Kartini, 21 April, diperingati sebagai hari besar nasional [4].

            Namun mengapa hanya ada Hari Kartini? Pahlawan wanita lainnya juga pantas dibuatkan ‘Hari Besar Nasional’ untuk mengenang jasa-jasa mereka. Sebagai contoh, Ruhana Kuddus pantas juga dibuatkan Hari Ruhana Kuddus  yang bisa diperingati pada tanggal 20 Desember, hari kelahirannya. Ruhana Kuddus mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Ia juga mendirikan Sunting Melayu, surat kabar wanita pertama di Indonesia yang penulis, redaktur dan pemimpin redaksinya pun para wanita [5].

            Ruhana menjelaskan dengan bijak makna sejati emansipasi wanita:“Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan.” [6]

            Dari perkataan Ruhana diatas, jelas bahwa wartawati pertama di Indonesia itu pun “melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara;” dan “menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.” Kontribusi dan kepedulian Ruhana Kuddus terhadap pendidikan dan kesetaraan hak wanita disekitarnya tidak kalah penting dengan pemikiran Kartini.

            Mungkin ketika generasi mendatang sadar akan pentingnya keadilan dalam sejarah Indonesia, akan ada Hari Nyi Ageng Serang; Hari Andi Depu; Hari Dewi Sartika; Hari Cut Nyak Dien; Hari Fatmawati; Hari Malahayati; Hari Maria Walanda Maramis; Hari Martha Christina Tiahahu; Hari Cut Nyak Meutia ; Hari Opu Daeng Risaju; Hari Rasuna Said; Hari Ruhana Kuddus; Hari Nyai Ahmad Dahlan atau hari pahlawan wanita Indonesia lainnya. Karena kalau tidak ada hari besar nasional yang mengenang kontribusi para pahlawan wanita diatas, Hari Kartini adalah simbol ketidakadilan bagi para pahlawan wanita lainnya.

            Mungkin ketika generasi mendatang sadar akan pentingnya keadilan dalam sejarah Indonesia, akan ada 13 lagu nasional baru bagi masing-masing para pahlawan wanita diatas, karena kalau tidak ada, lagu Ibu Kita Kartini adalah contoh emansipasi wanita yang gagal dalam sejarah bangsa Indonesia. Mengapa saya berani menyebutkan ini adalah emansipasi yang gagal? Karena pahlawan wanita Indonesia lainnya tidak mendapat kesetaraan hak. Kesetaraan hak untuk dihargai karena sampai hari ini mereka tidak dibuatkan hari besar dan lagu nasional. Mungkin para pahlawan wanita Indonesia lainnya tidak terlalu peduli jika jasa-jasa mereka tidak dikenang dalam hari besar atau lagu nasional karena yang terpenting bagi mereka adalah keadilan untuk seluruh wanita di Indonesia. Yang terpenting bagi mereka adalah wanita Indonesia berani berpikir dan bertanya pada apa pun yang mereka pelajari. Jangan hanya menelan sejarah mentah-mentah dan jangan hanya ikut-ikutan trend yang sedang viral di sosial media.

            Miris rasanya melihat acara webinar atau talkshow di Instagram atau Twitter yang menggunakan kata-kata seperti Kartini Masa Kini. Pernahkah kita melihat postingan webinar di sosial media menggunakan judul seperti Martha Christina Tiahahu Masa Kini atau Dewi Sartika Masa Kini? Pernahkah kita melihat nama-nama pahlawan wanita Indonesia lainnya di promosikan di sosial media atau di kelas sejarah? Kalau jawabannya jarang atau tidak pernah, maka jasa-jasa para pahlawan wanita Indonesia selain Kartini telah terlupakan dan dilupakan. Tulisan ini bukan untuk meremehkan jasa Kartini. Namun untuk mempertanyakan apakah sejarah di Indonesia benar-benar adil? Mengapa Ibu Kartini yang terlalu sering diviralkan? Mengapa pahlawan wanita lain seperti Opu Daeng Risaju, Rasuna Said, Ruhana Kuddus dan Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) jarang diajarkan di kelas sejarah? Mengapa beliau-beliau tidak seterkenal Ibu Kartini di Instagram?

            Mungkin judul lagu Ibu Kita Kartini harus diubah menjadi Ibu Kita Pahlawan Wanita Indonesia supaya terdengar lebih adil. Dan lirik terakhir pada lagunya pun akan lebih adil jika diubah menjadi:

“Wahai ibu kita Kartini para pahlawan wanita”

 “Putri wanita yang mulia”

 “Sungguh besar cita-citanya”

“Bagi Indonesia”

Memang terasa agak rancu liriknya. Namun kerancuan lirik ini lebih baik agar para pahlawan wanita Indonesia lainnya tidak terlupakan dan dilupakan. Mungkin Kartini pun akan setuju dengan perubahan pada lirik lagunya karena Kartini adalah pejuang keadilan kan ?


Penulis: Khalida Jamilah

Sumber:

[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pahlawan_nasional_Indonesia_perempuan

[2] https://kbbi.web.id/pahlawan

[3] https://www.hukumonline.com/berita/baca/lt582463ae2d5d6/ini-syarat-penetapan-gelar-pahlawan-nasional-menurut-aturan-perundang-undangan

[4] https://www.kalderanews.com/2020/04/ternyata-begini-asal-mula-penetapan-hari-kartini/

[5] https://megapolitan.kompas.com/read/2021/04/21/05503581/ruhana-kuddus-wartawati-pertama-yang-gencar-menentang-poligami-nikah-dini?page=2

[6] https://sejahdi.wordpress.com/2016/04/21/hari-kartini-kisah-tentang-perempuan-dan-pendidikan/

Sumber Gambar : https://www.kompas.com/skola/read/2019/12/13/120000369/biografi-ra-kartini-pejuang-emansipasi-perempuan?page=all