Shalat Itu Doa Paling Sempurna

114

Setiap orang yang telah menyatakan dirinya sebagai seorang muslim tentu dia sudah paham akan kewajibannya salah satunya adalah mengerjakan shalat.arti dari shalat itu sendiri adalah permohonan doa yang diajukan kepada Allah Ta’ala, dimana tanpa itu seorang tidak bias dianggap bias hidup sepenuhnya dan memperoleh keamanan dan kebahagiaan. Hanya rahmat ilahi yang dapat memberikan kepada manusia ketenangan yang hakiki dan setelah ia merasakan itu, ia akan merasakan kenikmatan dan kesenangan dari shalat.

Sebagaimana ia mendapat kenikmatan dari makanan lezat, ia pun akan memperoleh kenikmatan dari isak dan tangisannya saat shalat. Sebelum ia mendapat kondisi demikian dalam shalatnya, perlu kiranya ia bersiteguh dalam shalatnya tersebut. Sebagaimana halnya orang yang harus menelan obat pahit agar kesehatannya pulih kembali. Perlu baginya tetap rutin melaksanakan shalat dan mengajukan doanya meski saat itu ia belum merasakan kenikmatannya.

Shalat merupakan kriteria yang efektif dari kesalehan seorang mukminin. Mereka yang menangis dalam shalatnya akan memperoleh keamanan. Sebagaimana seorang anak yang menangis di pangkuan ibunya itu, begitu juga halnya dengan ia yang memohon kepada Allah Taala dalam shalat dengan kerendahan dan hati yang mencair samanya menempatkan dirinya dalam pangkuan kasih sayang ilahi.

Ia yang belum mendapat kenikmatan dalam shalatnya, sesungguhnya ia belum mendapat kenikmatan keimanan. Shalat tidak semata-mata hanya gerakan dan sikap tubuh, sebagian orang cepat-cepat dalam shalat seperti ayam yang mematuk temeh-remeh di tanah, tetapi setelah itu berdoa panjang-panjang. Keadaan seperti itu sama halnya dengan mengatakan bahwa shalat dilakukan secara cepat sebagai suatu acara formal, padahal ketika shalat adalah kesempatan untuk berdoa kepada Allah Taala. Lakukanlah permohonan doa ketika kalian shalat, jadikanlah shalat sebagai sarana untuk mengajukan permohonan doa.

Doa adalah tujuan dan ruh daripada shalat. Bagaimana tujuan itu bias dicapai kecuali dengan cara berdoa di dalam shalatnya. Ketika shalat kita mendapat kesempatan untuk hadir dihadapan Allah Taala untuk menyampaikan permohonan doa tetapi ia tidak bicara apa-apa. Baru setelah selesai kesempatan hadir ia memohon, itulah orang yang cepat dalam shalat dan berdoa panjang setelah shalat. Cara demikian itu tidak akan ada manfaatnya bagi yang bersangkutan. Keadaan seperti itu terjadi pada orang-orang yang tidak mengajukan doanya secara khusul pada saat mereka sedang shalat. Lakukanlah pengajuan doa ketika shalat. Allah Taala telah mengajarkan sebuah doa di awal mula Al-Quran dan memerintahkan kepada kita untuk membacanya sebagai persyaratan keabsahan shalat. Pengucapan Surah Al-Fatihah merupakan kewajiban dalam setiap shalat, yang mana menjadi indikasi bahwa doa hakiki seharusnya diajukan ketika shalat.

Ketika kita shalat, disamping membaca bacaan wajib sebagaimana diajarkan Al-Quran dan Hadhrat RasulullahSaw, sebaiknya kita juga mengajukan doa dalam bahasa sendiri agar hati tergugah oleh kerendahan hati dan hasrat diri kita sendiri. Jangan melakukan shalat hanya sebagai suatu bentuk upacara belaka, lakukanlah shalat dengan hati seperti terbakar dan mencair serta berdoalah terus-menerus di dalam shalat. Shalat menjadi kunci bagi penyelesaian segala kesulitan. Semua sikap jasmani yang diperagakan dalam shalat harus mencerminkan keadaan hati kita juga. Ketika seorang shalat dalam keadaan berdiri tegak, hatinya juga harus berdiri tegak di hadiat ilahi sebagai tanda kepatuhannya. Ketika ia melakukan ruku maka hatinya juga harus membungkuk dan saat bersujud maka hatinya juga bersujud dengan pengertian bahwa hatinya tidak pernah melepaskan Tuhannya sekejap pun. Dengan tercapainya kondisi seperti itu maka ia akan mulai terbebas dari dosa.

Kita selaku umat muslim harus dawam shalat terutama shalat lima waktu dan disamping itu, kita harus melaksanakannya secara khusuk sehingga Allah Taala akan mengabulkan semua doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya. Dan ketika seorang telah melakukan shalat secara dawam dan khusuk maka ia akan mencapai tujuan hakikinya sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna.


Oleh : Abdul ghandi

Sumber : 1. Inti Ajaran Islam II, Hz. Mirza Masroor AhmadAs, dicetak oleh Neratja Press cetakan ke 2

Sumber Gambar : Pixabay