Tingkat Kesopanan Terendah? Mari Perbaiki

357

Masih segar dalam ingatan, betapa kagetnya netizen +62 disematkan “gelar” yang tidak diinginkan oleh Microsoft, terkait tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang 2020. Pasalnya, dalam laporan berjudul Digital Civility Index (DCI), Indonesia berada pada urutan ke-29 dari 32 Negara yang disurvei. Sehingga, Indonesia pun menjadi Negara terendah tingkat kesopanannya se-Asia Tenggara. Bagaimana mungkin masyarakat Indonesia yang dikenal ramah dengan semboyan Gemah Ripah Loh Jinawi, dapat disematkan sebagai pengguna internet dengan tingkat kesopanan terendah se-Asia Tenggara?

Namun tak ayal, fakta yang dipaparkan oleh Microsoft, sejatinya berdasarkan realita yang tak dapat disangkal. Netizen +62 pun tak tinggal diam. Alih-alih mengintropeksi diri, kamis malam, 25 Februari 2021, akun Instagram Microsoft malah diserbu hingga lebih dari 2.000 komentar netizen yang sebagian besar tak terima dengan hasil survey tersebut. Hingga keesokan harinya kolom komentar di akun Instagram Microsoft pun dinonaktifkan. Miris memang, serangan komentar netizen +62 malah semakin menguatkan “gelar” yang telah disematkan.

            Memang, tak dapat dipungkiri kemudahan menggapai kecanggihan teknologi, seolah dunia ada dalam genggaman tangan. Sejatinya, bagai pisau bermata dunia. Sepintas, begitu banyak manfa’at dengan adanya kemudahan disana-sini. Namun, jika lebih diselami kemudahan tersebut juga mulai memudarkan nilai akhlak dan moral yang ada di dalam diri.

            Yang tadinya manusia dapat terlebih dahulu berfikir sebelum bertindak, atau mungkin menyaring kata-kata sebelum berbicara. Dengan kemudahan bermedia sosial dimana-mana, jari jemari dengan mudah menari, seolah tak dapat direm lagi. Dahulu, ketika masih tertanam rasa malu karena khawatir disaat bertemu akan membuat malu, pesan suara atau pesan singkat pun ditata dengan sedemikian rupa. Saat ini, entah melalui akun pribadi atau akun palsu, hinaan hingga ujaran kebencian dengan mudahnya bertengger di akun yang memiliki pendapat yang berbeda.

            Carut marut dalam dunia medsos netizen +62, seolah menjadi makanan sehari-hari. Padahal, istilah “tak kenal maka tak sayang” begitu ramah ditelinga, bagaimana saling mengenal terlebih dahulu hingga timbul rasa sayang. Namun, alih-alih mengenal, yang ada istilah itu pun memudar, berubah menjadi “membenci walau tak kenal”. Belum tahu siapa, kenapa dan bagaimana, yang ada adalah sebuah penghakiman tentang orang yang belum dikenalnya. Gegara jari-jemari yang menari pada akhirnya banyak orang yang tersakiti. Padahal, Rasulullah Saw bersabda, “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan,” (HR. Al-Bukhari). 

Lisan yang tak terjaga meski dituangkan dalam sebuah tulisan, pastinya akan tetap menyakitkan. Dan inilah yang dikhawatirkan. Raga tak bertemu, namun karena dunia media sosial, manusia malah saling menyakiti. Padahal sejatinya, walau sekedar 1 kalimat atau bahkan 1 kata saja dengannya orang lain menjadi tersakiti, hal tersebut pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Karena para malaikat telah siap mencatat segalanya untuk dimintai pertanggungjawabannya kelak,. Sebagaimana Allah Swt berfirman dalam Surah Qaf ayat 16-19 yang artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan Kami mengetahui apa yang dibisikkan kepadanya oleh pikirannya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya. Ketika dua malaikat pencatat duduk di sebelah kanan di sebelah kiri. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun, melainkan di sisinya ada malaikat pengawas yang siap mencatatnya. Dan sakaratul maut pasti akan datang. Itulah yang selalu ingin engkau hindari.”

            Kiranya, dengan firman Allah Taala itu, mungkin dapat membuat jari-jemari tak sembarangan lagi. Bukan hanya berfikir sebelum bertindak atau berkata, namun berfikir sebelum menuliskan kata-kata dalam hiruk pikuk dunia media sosial. Lalu, tanamkanlah sebuah motto yang sering diutarakan oleh pengikut Jama’ah Muslim Ahmadiyah, “Love for all hatred for none”, Cinta kasih untuk semua, tidak ada kebencian untuk siapa pun. Sehingga baik mengenal bahkan tak mengenal, tak tertanam kebencian bagi siapa pun. Lalu, gelar untuk netizen +62, Indonesia dengan tingkat kesopanan terendah se-Asia Tenggara? Mari intropeksi, perbaiki dan saling menyayangi satu sama lain.


Oleh : Mutia Siddiqa Muhsin

Referensi :

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210225115954-185-610735/riset-netizen-di-indonesia-paling-tak-sopan-se-asia-tenggara

https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210226140821-192-611309/sebut-netizen-ri-paling-tidak-sopan-akun-microsoft-diserang

Sumber gambar :