Tsanaullah Takut Bermubahalah dengan Mirza Ghulam Ahmad

316

Sebagai pengikut ahmadiyah, saya benar-benar heran mengapa para ulama kerap membohongi umat muslim soal mubahalah yang dilakukan Mirza Ghulam Ahmad (Hadhrat Ahmad). Mereka sering sekali mengatakan bahwa Ahmad , Nauzubillah, telah kalah bermubahalah dengan seorang ulama, Tsanaullah. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah sang ulama takut untuk bermubahalah.

Mubahalah dalam Islam itu memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi kedua belah pihak. Salah satunya adalah kedua belah pihak harus saling bersumpah dan mendoakan satu sama lain kepada Allah supaya yang berdusta mendapat kutukan dari Allah.

Hal ini didasarkan pada mubahalah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dengan pihak Kristiani dari Najran. Keduanya berdiskusi dengan panjang soal ketuhanan Nabi Isa (as). Dikarenakan diskusi tersebut tidak membuahkan hasil, turunlah izin dari Allah Ta’ala untuk bermubahalah. Rasulullah SAW pun bersiap bermubahalah, tetapi pihak kristiani tersebut menolak untuk mubahalah. Sehingga mereka selamat dari kutukan.  

Nah, kembali ke kasus mubahalah dengan Tsanaullah. Pada tahun 1897, Awalnya, tantangan mubahalah diajukan Hadhrat Ahmad kepada para ulama di India, seperti yang dicatat dalam buku Anjam Atham, tahun 1897. Saat itu, usia beliau 62 tahun, dan Tsanaullah, ulama dari Amritsar, berusia 29 tahun. Di usia yang sangat muda, seharusnya tidak ada alasan bagi dia untuk takut.

Namun, baru tahun 1902 sang ulama merespon tantangan tersebut. Apa responnya? “Saya tidak pernah mendakwahkan diri seperti anda bahwa saya seorang Nabi, Rasul, anak Tuhan atau penerima wahyu. Saya tidak dapat, oleh karena itu, saya tidak berani untuk ikut dalam pertandingan (mubahalah) semacam itu. Perkataan anda bahwa jika saya mati sebelum anda, anda akan mengatakan itu sebagai bukti kebenaran anda dan jika anda mati sebelum saya, maka siapakah yang akan pergi ke kuburan anda untuk diminta pertanggung-jawabannya? Itulah sebabnya mengapa anda mengemukakan tantangan konyol itu. Saya menyesal, bagaimanapun juga, saya tidak berani ikut dalam kontroversi seperti ini dan kurangnya keberanian saya ini merupakan sumber kehormatan bagi saya dan bukanlah sumber kehinaan”. (Ilhamat Mirza, hal. 116)

Disini jelas siapa yang takut melakukan mubahalah. Alih-alih bertaubat, sang ulama malah mengeluarkan tantangan lagi untuk kedua kalinya. Tampaknya dia dicaci maki oleh pendukungnya sendiri, dikarenakan ketidakberaniannya menjawab tantangan mubahalah. Akhirnya, pada tanggal 29 Maret 1907, sang ulama menjawab tantangan Hadhrat Ahmad di surat kabar Ahli Hadis. Sepertinya tantangan ini hanyalah sebuah usaha kecil agar para pendukungnya senang, dengan harapan agar Hadhrat Ahmad mengacuhkan tantanganya.

Tentu saja Hadhrat Ahmad menerima tantangan tersebut dengan terbuka. Beliau menyuruh editor Al Badar untuk menulis:

“…. Saya ingin menyampaikan kepada Maulvi Tsanaullah berita gembira bahwa Mirza Ghulam Ahmad telah menerima tantangannya”. (Al Badar, 4 April 1907)

Lagi-lagi sang ulama menunjukan ketidakberanianya. Dia menulis:

“Saya tidak menantang anda mubahalah, saya hanya menyatakan keinginan saya untuk bersumpah… Saya telah menyatakan keinginan saya untuk bersumpah dan tidak membuat tantangan -mubahalah-. Membuat persumpahan secara sepihak adalah satu hal dan mubahalah adalah soal lain”. (Ahlul Hadits, 19 April 1907)

Jadi tidak ada yang namanya mubahalah diantara kedua pihak. Saat itu Hadhrat Ahmad berusia 72 tahun, sementara Tsanaullah berusia 39 tahun. Jadi wajar apabila pada akhirnya Hadhrat Ahmad yang wafat terlebih dahulu.

Adapun isu Hadhrat Ahmad wafat di WC ataupun karena kolera juga tidak benar. Beliau wafat dengan damai di tengah-tengah keluarganya dan dokter-dokter yang mengawasi kesehatannya. Para dokter juga mengeluarkan sertifikat yang menunjukan bahwa kewafatan beliau disebabkan karena diare, bukan kolera.

Berdasarkan hadist Rasulullah SAW, siapapun yang wafat karena penyakit perut pastilah wafat secara syahid. Kesimpulannya, Hadhrat Ahmad wafat dalam keadaan mulia, terhormat, dan secara syahid. 

Bagaimana akhir kehidupan dari sang ulama ?

Surat Kabar Al Ihtesham, tanggal 15 Juni 1962 menulis:

“Pada bulan Agustus 1947, di Amritsar terjadi suatu kiamat kecil. Kematian, kerusuhan bagai badai menimpa dan melumatkan kediaman Mualana Tsanaullah. Meski ia dan keluarganya berhasil menyelamatkan diri, satu anaknya yang masih muda yaitu, Ataullah, dengan sadis dibantai di depan matanya, ketakutan dan dukanya menyayat habis hidupnya… ” (Review of Religions, Februari 1997, vol. 92, no. 2, hal. 36).

Sungguh akhir yang tragis. Namun, sesungguhnya kematian sang ulama yang lebih lama ini juga menunjukan bahwa Allah masih memberikan waktu untuk bertobat. Apabila dia menjawab tantangan mubahalah, niscaya dia akan kalah, seperti lawan-lawan mubahalah Hadhrat Ahmad yang lainnya.


Oleh : Murid Ahmadi

Sumber :

  1. https://aaiil.org/text/acus/mga/death.shtml
  2. https://ahmadiyah.id/ahmadiyah/tuduhan/benarkah-mirza-ghulam-ahmad-kalah-mubahalah-dengan-tsanaullah