TURUNNYA IMAM MAHDI ADALAH CARA ALLAH TA’ALA MENJAGA AL-QUR’AN

565

Dalam buku Syahadatul Qur’an, Hz. Mirza Ghulam Ahmad as. sebagai Imam Mahdi memberikan begitu banyak ayat Al-Qur’an yang menjadi saksi turunnya Imam Mahdi. Turunnya Imam Mahdi ini menjadi penting karena ia juga adalah cara Allah Ta’ala meneguhkan janji-Nya sebagai Penjaga Al-Qur’an. Mengapa bisa demikian? 

Makna Sebenarnya Janji Allah Ta’ala yang Akan Menjaga Al-Qur’an Ini

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami lah yang telah menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah Penjaganya.” (QS. Al-Hijr, 15:10)

Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. menyatakan bahwa untuk menjelaskan ayat ini, Allah Ta’ala berfirman lagi:

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhai bagi mereka; dan pasti Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang durhaka.” (QS. An-Nur 24: 56)

Sehingga bisa disimpulkan bahwa salah satu cara Allah Ta’ala menjaga Al-Qur’an adalah dengan menurunkan utusan-utusan-Nya ke bumi, yang sudah Dia beri ilmu dan pemahaman yang benar mengenai kitab Al-Qur’an ini dan juga agama yang sempurna ini yaitu Islam.

Beliau menyatakan:

“…bagaimanakah dan dengan cara apakah penjagaan terhadap Al-Quran itu? Allah Ta’ala berfirman bahwa, “Aku akan berangsur-angsur mengirimkan Khalifah dari sosok Yang Mulia Nabi Muhammad Saw. ini”, dan kata Khalifah dalam ayat tersebut mengisyaratkan bahwa sosok tersebut akan bercorak pengganti dari kedudukan Nabi dan ia akan mendapatkan bagian dari curahan keberkatan-keberkatannya sebagaimana juga telah tercurah pada masa-masa sebelumnya.” (Hlm. 93)

Kalau kemudian ada yang mengatakan bahwa agama ini sudah sempurna sehingga tidak butuh sosok Pembaharu, maka Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. memberikan jawaban:

“Kapankah kami pernah menyatakan bahwa Mujaddid dan Muhaddats yang datang ke dunia ini akan menambahkan serta mengurangi ajaran agama? Justru pernyataan kami adalah, bahwa seiring dengan berlalunya masa demi masa, tatkala di atas ajaran yang suci dan mulia ini timbul lapisan debu dan kekotoran yang berasal dari khayalan-khayalan dan pemikiran-pemikiran yang merusak, sehingga wajah elok dan indah dari kebenaran yang hakiki pun pada akhirnya menjadi tersembunyi, maka demi memperlihatkan kembali wajah yang penuh dengan keelokan tersebut datanglah para Mujaddid, Muhaddats, dan Khalifah ruhani.” (hlm 95)

Secara sederhana bisa dikatakan bahwa agama Islam memang sudah sempurna, tetapi umat Islam yang manusia biasa ini jauh dari kesempurnaan dan penuh dengan kelemahan-kelemahan sehingga akan sangat mudah bagi mereka untuk melakukan kesalahan-kesalahan dalam beragama. Sehingga cahaya Islam yang sebenarnya begitu terang cemerlang, perlahan-lahan tertutupi oleh tindak laku umat Islam yang melakukan kesalahan-kesalahan dalam beragama tersebut.

Dan untuk menjaga kecemerlangan cahaya Islam, dibutuhkan bimbingan langsung dari orang-orang suci yang diutus Allah Ta’ala sendiri. Mengapa?

Alasan Allah Ta’ala Menurunkan Khalifah-Khalifah-Nya untuk Menjaga Al-Qur’an dan Agama Islam

Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. menyatakan:

“Alasan Allah Ta’ala memberikan janji kabar suka akan suatu kekhalifahan yang ada untuk selamanya adalah, karena sosok sosok itulah yang telah mendapatkan pantulan cahaya kenabian secara utuh. Yakni, sebagai perwujudan bayangan dari kenabian. Sosok-sosok mereka itulah yang memBumikan kembali cahaya tersebut dan berusaha bagaimana mempersembahkan keindahan dan keelokan Kitab Suci Al-Quran ini dan juga memperlihatkan keberkatan-keberkatan suci yang dimilikinya kepada seluruh umat manusia.” (Hlm. 99-100)

Kita bisa mengamati bahwa kualitas keimanan dan kesalehan para sahabat Rasulullah S.A.W. betul-betul luar biasa. Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. menyatakan, “…keyakinan sempurna tentang keimanan dan semangat ketaatan yang dimiliki oleh orang orang yang menyaksikan sendiri sosok Nabi tidak dimiliki oleh mereka yang lainnya.” (Hlm. 109)

Hal itu karena, “…dahulu para Sahabat Ra telah melihat sendiri Wajah Suci dari Wujud Rasulullah Saw yang penuh cahaya suci kebenaran tersebut, ….” (Hlm. 109)

Dengan melihat sendiri wajah suci dan kesalehan dari wujud nabi, maka orang-orang akan bisa memiliki gambaran dan standar yang sangat jelas sehingga mereka bisa meniru, paling tidak mendapat percikan kesucian dan kesalehannya. Karena itulah Allah Ta’ala juga berfirman, “Tinggallah kalian bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah, 9:119)

Kesaksian Al-Qur’an Sendiri Mengenai Kedatangan Utusan-Utusan Allah Ta’ala dalam Menjaga Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman, “Apa pun yang senantiasa memberikan manfaat kepada umat manusia, maka ia akan terus ada di dunia ini.” (QS. Ar-Ra’d, 13:18)

Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. menjelaskan mengenai ayat ini:

“…golongan yang paling banyak memberikan manfaat bagi umat manusia adalah golongan para Nabi karena mereka telah menanamkan kekuatan-kekuatan dalam keyakinan iman orang-orang yang beriman dengan keluasan ilmu keruhanian yang dimilikinya, dengan memperlihatkan tanda-tanda yang di luar batas kemampuan manusia, dengan berbagai kabar suka, dengan kebenaran-kebenarannya, dengan mukjizat-mukjizatnya, dan dengan teladan sikap kejujuran yang diperlihatkannya, serta mereka pun memberikan manfaat-manfaat keruhanian kepada para pencari kebenaran.” (Hlm. 122-123)

Dan karena keberadaan para Nabi ini memberikan manfaat yang justru paling banyak, maka wajar kalau keberadaannya akan terus ada di dunia ini. Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. menyatakan bahwa:

“…hubungan kandungan ayat ini dengan kedudukan para Nabi adalah, bahwa sosok nabi akan senantiasa ada dalam kadar perwujudan bayangannya. Yakni, Allah Ta’ala membangkitkan pada setiap masa yang diperlukan, seorang hamba-Nya sebagai permisalan wujud Nabi itu, sebagai perwujudan bayangannya, yang memiliki corak maupun warnanya, dan yang menjadikan Nabi itu seakan hidup untuk selamanya.” (Hlm. 123)

Kita pun diajarkan untuk senantiasa berdoa: “Wahai Tuhan, tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus, yakni jalan hamba-hamba Engkau yang telah mendapat anugerah karunia Engkau”. (QS. Al-Ankabut, 29:70)

Berkenaan dengan ayat ini, Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. menjelaskan:

“…karunia dari Allah Ta’ala terlimpah pada wujud para Nabi. Dan perintah yang terdapat di dalam ayat ini adalah supaya berdoa kepada Allah Ta’ala untuk memohon karunia-Nya tersebut.” (Hlm. 124)

Karunia-karunia apa saja yang dimaksud yang dimohonkan dalam doa itu?

“…karunia-Nya tersebut adalah berupa cahaya suci keruhanian, keberkatan-keberkatan, kecintaan, keyakinan maupun keteguhan, kejadian-kejadian yang di luar batas kemampuan, pertolongan-pertolongan dari langit, pengabulan-pengabulan doa, keluasan ilmu keruhanian yang sempurna dan seutuhnya, serta turunnya kasyaf maupun ilham.” (Hlm. 124)

Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. pun menjelaskan bahwa:

“…dari ayat itu pun telah terbukti dengan sangat jelas bahwa Allah Ta’ala telah menjadikan umat ini sebagai pewaris para Nabi secara perwujudan bayangannya, supaya wujud para Nabi tersebut akan senantiasa ada secara perwujudan bayangannya, dan supaya dunia tidak akan pernah kosong dari keberadaan wujud-wujud mereka.” (Hlm. 124)

Seperti sudah saya sampaikan sebelumnya bahwa sebenarnya ada banyak sekali ayat Al-Qur’an yang dikutip Hz. Mirza Ghulam Ahmad a.s. dalam buku ini yang membuktikan bahwa Al-Qur’an pun bersaksi mengenai keberlangsungan turunnya utusan-utusan Allah Ta’ala ke dunia ini. Namun tentu saja tak bisa saya kutip semuanya, tetapi hanya sedikit saja untuk memberikan gambaran sekilas mengenai isi buku ini.

Namun, bisa disimpulkan bahwa datangnya Imam Mahdi merupakan keniscayaan, karena ia justru menjadi pemenuhan janji Allah Ta’ala untuk menjaga Al-Qur’an. Karenanya, menerima kedatangan Imam Mahdi termasuk amalan yang utama bagi mereka yang menyatakan mencintai Allah SWT., Rasulullah SAW. dan kitab-Nya.


Penulis : Lisa Aviatun Nahar

Sumber Gambar : https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F-JehQRn2fApU%2FVkng1IXZZQI%2FAAAAAAAARfU%2FujFQan5r4B4%2Fs1600%2Fmirza_ghulam_ahmad-490×326.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fpojokkota.beritaislam.org%2F2015%2F11%2Fmirza-ghulam-mati-dipenuhi-kotoran.html&tbnid=R-hrpSzy7FHt7M&vet=12ahUKEwj_n968_of1AhX7idgFHZcUCuUQMygMegUIARC8AQ..i&docid=zcViEI7EIVsBSM&w=490&h=326&itg=1&q=khalifah%20ahmadiyah&hl=id&ved=2ahUKEwj_n968_of1AhX7idgFHZcUCuUQMygMegUIARC8AQ