3 Jalan Menuju Bahagia

602

Bahagia, faktanya satu kalimat yang sekilas sederhana namun penuh makna itu, begitu diidam-idamkan oleh banyak orang. Ada yang berjuang pergi pagi pulang pagi, hingga harus kesana-kemari, mencari sebuah kebahagiaan. Namun, apakah bahagia itu didapatkan? Dan kalaupun didapatkan, apakah bahagia itu akan lekang tak habis dimakan waktu? Mari menelesik bagaimana jalan menuju bahagia, yang tanpa disadari luput, karena seolah bahagia identik dengan sebuah materi.

1. Berdoa dan Berusaha

Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, sejatinya tak lepas dari berbagai ujian. Berdo’a dan berusaha, mau tidak mau menjadi formula yang paling utama untuk memampukan dan menguatkan. Dimulai dengan berdo’a kepada Tuhan yang Maha segala-Nya, diri akan menjadi semakin yakin bahwa segala yang dijalani, diiringi oleh Ridha-Nya. Sebagaimana ayat suci Al-Qur’an yang kerap kita lantunkan setiap harinya dalam Surah Al-Fatihah ayat 5

إِيّاكَ نَعبُدُ وَإِيّاكَ نَستَعينُ

Hanya Engkau-lah yang kami sembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.

Manusia sebagai makhluk yang lemah dirasa tak dapat lepas dari pertolongan-Nya, sehingga berdo’a menjadi kekuatan tersendiri untuk memulai semuanya.

Setelah ber’doa, disanalah letak ikhtiar selanjutnya. Berusaha dengan segenap kemampuan yang dimiliki, untuk melakukan yang terbaik. Karena jika do’a saja yang dipanjatkan tanpa sebuah usaha, tentunya Allah Swt pun tidak berkenan membantu makhluk-Nya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfriman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 12

إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.”

Kondisi apapun yang dialami manusia dalam menjalani kehidupan ini, tentunya dikembalikan kepada dirinya sendiri. Apakah tetap terpuruk dalam keadaan, namun mencoba bangkit untuk merubah keadaan menjadi lebih baik. Sebagaimana pendiri Jemaat Ahmadiyah memberikan nasihat :

Segala kemampuan yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala bukanlah untuk disia-siakan. Mereka dikembangkan melalui penggunaan yang benar dan tepat. (Artinya jika kalian ingin menikmati dan mengambil manfaat dari itu semua dan menjaganya tetap selamat maka kalian harus menggunakannya secara benar.)

Berbagai kemampuan telah Allah Ta’ala berikan kepada manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Sehingga itu menjadi modal utama untuk manusia berusaha, memberikan yang terbaik untuk membuat keadaannya menjadi lebih baik.

2. Berpasrah dan Husnuzhan kepada Allah Ta’ala

Setelah manusia bermodalkan do’a dan telah berusaha dengan sekuat tenaga, hasil menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Apakah hasil itu teramu menjadi sebuah kata bahagia? Karena terkadang, kenyataan juga dapat hadir tak sesuai dengan yang diharapkan. Hingga disinilah letak jalan menuju bahagia yang kedua yaitu berpasrah (tawakal) dan husnuzhon kepada Allah Ta’ala.

Ketika do’a telah dipanjatkan dengan diiringi usaha yang maksimal, sejatinya, apapun hasilnya, berpasrah yakni tawakal menjadi jalan yang paling utama. Berpasrah menerima kehendaknya dengan hasil yang mungkin baik atau tidak baik sekalipun. Karena Dialah yang lebih mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya, meskipun secara kasat mata manusia itu cukup pahit. Ya, sebagaimana firman-Nya dalam Surah At-Talaq ayat 4:

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka Dia memadai bagi-nya urusan-nya

Allah Ta’ala sendiri yang memberikan hasil yang terbaik menurut-Nya, dan tentunya Allah Ta’ala yang akan memadainya. Menguatkan, memampukan, dan tentunya memberikan rasa bahagia kepada hamba-Nya terlepas dari hasil apapun yang diterima.

Husnuzhon kepada Allah Ta’ala pun menjadi formula yang membahagiakan. Ketika apapun hasil yang diterima, namun dapat tetap berfikiran positif kepada Allah Ta’ala, serta berfikir banyak hikmah yang terkandung didalamnya. Manusia dapat menjadi makhluk yang bahagia. Yang tetap tersenyum, baik ketika hasil itu sesuai atau tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Karena memang, selalu ada hikmah yang begitu luar biasa, yang Allah titipkan dari sebuah do’a dan usaha yang telah dilakukan.

3. Merasa Cukup dan Bersyukur

Terkadang rumput tetangga yang terlihat lebih hijau, cukup “mengganggu” seseorang mencapai bahagia. Seolah merasa kurang dibanding yang lain, hingga pada akhirnya tak cukup puas dan tak mendapat kebahagiaan. Pada jalan ketiga inilah, menjadi formula penutup untuk mencapai kebahagiaan yaitu merasa cukup dan bersyukur. Ketika apa yang didapatkan dengan hasil do’a & usaha, dengan berpasrah & husnuzhan kepada Allah Ta’ala, kemudian merasa cukup dengan apa yang diterima, dan terus memanjatkan rasa syukur kepada-Nya, hari-hari yang dijalani akan diliputi kebahagian yang hakiki. Allah Ta’ala pun berfirman dalam surah An-Nahl ayat 16

 وَإِن تَعُدُّوا۟ نِعْمَةَ ٱللَّهِ لَا تُحْصُوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Dan sekiranya kamu mencoba menghitung nikmat-nikmat Allah, kamu tidak dapat menghitungnya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Terkadang karena terlalu jauh mengharapkan berbagai materi yang begitu besar diluar sana, hal yang sekilas tampak sepele namun tanpa disadari berdampak besar dalam hidup, luput disyukuri. Sebut saja, nikmat hidup dan bernafas, sehat, hingga nikmat menjalani hidup ini. Seolah nampak sepele namun ketika harus terenggut, banyak manusia baru menyadari kurang atau bahkan tidak bersyukur. Sebagaimana Pemimpin Rohani Jemaat Muslim Ahmadiyah saat ini, Hz. Mirza Masroor Ahmad Aba menasehatkan:

“Tidak terhitung nikmat yang dianugerahkan pada manusia,dan kadang-kadang sama sekali tidak terfikirkan ke arah itu, Kecuali ada satu nikmat yang untuk sementara dirampas. Selama penyakit tidak melanda, maka sampai pada waktu itu nikmat-nikmat itu tidak akan dihargai. Jadi, jika seorang manusia  berusaha mnghitung nikmat-nikmat Allah  yang ada dalam dirinya,maka tidak akan bisa menghitungnya.”

Naudzhubilah, terkadang karena keinginan bermetamorfosis menjadi sebuah kebutuhan yang tanpa henti begitu haus untuk dicari, nikmat-nikmat lainnya seolah tak dirasakan lagi, hingga sulit untuk disyukuri. Padahal sejatinya dengan merasa cukup dan bersyukur menjadi jurus jitu manusia mencapai bahagia. Teringat sabda Rasulullah Saw:

Siapa di antara kalian berpagi hari dalam keadaan mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.”

Seolah dunia ada dalam genggaman, rasa syukur menjadi kenikmatan yang hadir hingga menimbulkan kebahagiaan yang tiada tara.

Begitulah 3 jalan menuju bahagia yang menurut penulis dapat menjadi realita tak terbantahkan untuk menghadirkan kebahagiaan, ketika dapat diamalkan. Dengan bermodalkan berdo’a dan berusaha, dan siap menerima hasil apapun itu dengan berpasrah dan husnuzhon kepada Sang Maha Segala-Nya, dan tentunya diiringi dengan merasa cukup dan penuh syukur, kiranya bahagia ada dalam genggaman.

Oleh: Mutia Siddiqa Muhsin

Sumber Referensi:

  1. https://ahmadiyah.id/pengabulan-doa-menuntut-hasrat-yang-tinggi.html
  2. https://ahmadiyah.id/khotbah/ramadhan-ketakwaan-dan-pembaharuan-diri
  3. https://ahmadiyah.id/ramadhan-dan-ketakwaan.html
  4. https://ahmadiyah.id/khotbah/nama-nama-allah-ghafur-dan-rahim-bagian-2
  5. https://ahmadiyah.id/khotbah/mencari-keridhaan-allah-taala

Sumber gambar:

https://www.republika.co.id/berita/qxc6mj318/jangan-lupa-bahagia