Seluruh pembaca pasti setuju, bahwa sumber utama akidah Islam itu adalah Firman Allah yang telah dituliskan dalam Al-Qur’an. Tapi, kita tidak bisa langsung mengerti semua ayat tanpa adanya penafsiran.
Masalahnya, ada pengaruh akidah Nasrani yang jadi rujukan para mayoritas ulama untuk menafsirkan setiap ayat. Jadi, pada kitab-kitab tafsir Al-Qu’ran adalah hal biasa untuk memasukan kisah-kisah yang berasal dari agama Yahudi atau Nasrani, yang bisa disebut kisah israiliyyat, untuk menafsirkan ayat-ayat suci di Al-Qur’an[1][2]. Termasuk keyakinan kita tentang Nabi Isa (as).
Pengaruh inilah yang mempengaruhi mayoritas ulama ketika menafsirkan ayat An-Nisa : 156-158. Ayat ini bercerita tentang usaha penyaliban Nabi Isa (as). Untuk menafsirkan ayat ini, mayoritas ulama memasukan kisah akidah sebagian Nasrani kuno yang mana seseorang diserupakan dan menjadi pengganti Nabi Isa(as.) untuk disalib, sementara Nabi Isa (as.) sendiri diangkat ke langit dan masih hidup sampai sekarang[3]. Mengenai siapa yang diserupakan ini, berbagai kisah menyebut nama-nama yang berbeda. Namun, kitab tafsir Al-Qur’an tertua karya Muqatil ibn Sulaiman (w. 150 H), menyebutkan Yudas Iskariot yang disalib sebagai pengganti. Yang menarik, gagasan ini sangat mirip dengan narasi yang ditemukan dalam Injil Barnabas[4]. Kitab tafsir ini pun jadi rujukan mayoritas ulama[5].
Prinsip Dasar Akidah Islam
Padahal, dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an wajib menggunakan hujjah (argumentasi) internal Al-Qur’an itu sendiri. Ayat suci Al-Qur’an wajib berdiri sendiri dan mampu menjelaskan dirinya sendiri (yafsir ba’dahu ba’dan)[6] tanpa memerlukan penjelasan tambahan dari ajaran agama lain, termasuk akidah Nasrani. Inilah ajaran yang wajib kita terima sebagai landasan akidah (dasar keyakinan) yang utama dan primer. Oleh karena itu, kepercayaan kita terhadap Nabi Isa (as.) tidak dapat didasarkan pada akidah Nasrani, yang mana mereka percaya Nabi Isa (as.) naik ke langit dan masih hidup hingga sekarang. Akidah Nasrani dapat kita terima kebenarannya hanya apabila ajaran tersebut secara eksplisit konsisten dan dimendukung ajaran yang terdapat dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Ajaran dari luar Al-Qur’an, sekonsisten apa pun itu, hanya dapat berfungsi sebagai sumber sekunder atau pendukung saja, bukan sebagai penentu makna akidah.
Contoh gampangnya adalah akidah Nasrani yang mengatakan Yesus diutus oleh Allah atau Yahweh, yang sejalan sepenuhnya dengan konsep kenabian dalam Islam. Dalam Alkitab, Yesus secara eksplisit menyebut dirinya diutus oleh Bapa/Allah, yang sangat konsisten dengan gelar Nabi Isa (as.) sebagai Utusan Allah dalam Al-Qur’an. Misalnya, dalam Injil Yohanes 5:30, Yesus berkata, “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri. Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.” Ayat-ayat Alkitab ini mendukung ayat-ayat Al-Qur’an yang berulang kali menegaskan bahwa Isa Al-Masih hanyalah seorang hamba dan utusan Allah (QS. An-Nisa’ 4:171 dan QS. Al-Ma’idah 5:75). Dengan demikian, ajaran Alkitab ini dapat diterima sebagai sumber sekunder karena konsisten dengan pandangan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai sumber primer.
Tafsir Ayat Penyaliban
Ketika AAkidah Nasrani menyebutkan dua kemungkinan untuk penyaliban. Pertama Nabi Isa (as.) disalib, wafat, kemudian hidup kembali. Kedua, yang banyak diadopsi oleh mayoritas ulama, yakni teori substitusi. Seseorang diserupakan wajahnya supaya menyerupai Nabi Isa (as.), sedangkan Nabi Isa (as.) diangkat ke langit.
Menggunakan prinsip yafsir ba’dahu ba’dan, tentu saja Al-Qur’an membantah kedua teori ini. Dengan mempelajari tata bahasa arab, kita bisa yakin menyimpulkan bahwa bukan seseorang diserupakan wajahnya menjadi wajah Nabi Isa (as.) yang diserupakan, tapi peristiwa pembunuhan di atas salibnya yang diserupakan seakan benar-benar terjadi[7]. Sehingga kesimpulan akhirnya Nabi Isa (as.) selamat dari percobaan pembunuhan, dan melanjutkan misinya hingga selesai. Kemana Nabi Isa (as.) pergi? Al-Qu’ran menyebutkan bahwa Nabi Isa (as.) dan ibunya Maryam, pergi mencari tempat perlindungan yang aman. Hal ini dijelaskan dalam QS. Al-Mu’minun 23:50:
“Dan Kami jadikan (pula) putra Maryam dan ibunya sebagai suatu tanda (kebesaran Kami), dan Kami berikan keduanya tempat perlindungan di sebuah dataran tinggi (rabwah) yang datar dengan mata air yang mengalir.”
Ayat ini mengindikasikan bahwa setelah diselamatkan dari upaya pembunuhan, Nabi Isa melanjutkan misinya yakni mengumpulkan domba-domba Bani Israiel yang hilangtersesat. Hingga akhirnya berlabuh ke suatu wilayah dataran tinggi (rabwah) yang aman dan subur sampai beliau wafat karena usia.
Tafsir kata Tawaffa pada Al-Qur’an
Dalam Al-Quran, Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu(mutawaffika) dan mengangkat kamu kepada-Ku (rāfi’uka ilayya).” (QS. Ali Imran: 55).
Menggunakan prinsip yafsir ba’dahu ba’dan, Dalam beberapa ayat Al-Quran, arti dari kata tawafa atau mematikan, “tawaffā” dan turunannya, ketika merujuk pada manusia, hampir selalu berarti “kematian” atau “mengambil jiwa hingga wafat.”, bahkan di ayat yang memiliki konteks di malam hari (6:60, 39:42), Allah menggunakan kata tawaffa untuk tidur yang bisa diartikan ‘kematian sementara’. Intinya, Al-Qu’ran tidak menggunakan kata ini untuk arti selain dari wafat, baik permanen atau sementara.
Kesimpulannya, Allah telah mewafatkan Nabi Isa (as). Inilah akidah Islam, murni berdasarkan Al-Qur’an. Namun, mayoritas ulama menafsirkan kata tawaffa ini dengan arti lain, yakni mengangkat. Artinya ada sesuatu yang mempengaruhi mereka, tentunya bukan dari Al-Qu’ran atau Rasulullah saw.SAW, karena tidak pernah Al-Qu’ran atau Rasulullah saw. SAW menggunakan kata tawaffā untuk mengangkat.
Akidah Nasrani -lah yang kemudian yang memperkuat pandangan mayoritas ulama untuk menafsirkan kata tawaffa menjadi mengangkat. Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas, dikutip dari suaramuhamaddiyah.id menjelaskan[8]:
“Untuk menjelaskan hal ini, mereka mengacu pada tradisi Kristen, dengan mengatakan bahwa Isa berada di kayu salib dan Tuhan menyebabkan kematiannya selama beberapa jam, kemudian membangkitkannya untuk diri-Nya sendiri.”
Sependapat dengan ini, Sayid Rashid Rida menulis[9]:
“Itu hanyalah akidah dari kebanyakan orang Nasrani, sedang mereka itu telah berusaha sejak lahirnya Islam menyebarkan kepercayaan ini dalam kalangan kaum Muslimin.”
Mayoritas ulama akan membantah hal ini dan mengatakan bahwa Tawaffa tidak selalu berarti mati, tetapi bisa berarti menyempurnakan, atau menuntaskan, atau memenuhi atau menepati sesuatu yang telah ditentukan. Karena itu pada ayat QS. Ali Imran: 55 Allah menggunakan kata tTawaffa, bukan mMaut, kata lain yang bermakna kematian, untuk Nabi Isa (as). Jadi, Allah hanya menyempurnakan atau menyelesaikan, atau menepati sesuai yang telah ditentukan ketetapannya untuk Nabi Isa (as). Ini benar, tetapi sesuai prinsip yafsir ba’dahu ba’dan, tidak bisa dijadikan dasar untuk mengubah arti tTawaffa menjadi mengangkat. Ketika konteksnya dipakai untuk Nabi Isa (as.), kata tTawaffa tentu menjadi jaminan bahwa Nabi Isa (as.) akan berhasil menyelesaikan misinya dengan sempurna, selamat dari usaha pembunuhan atau penyaliban dari kaum Yahudi yang jahat. Konsisten dengan tafsir ayat penyaliban diatas. Lantas, apakah seseorang yang gagal dibunuh atau disalib 2000 tahun yang lalu berarti masih hidup sampai sekarang? Tentu tidak! Apalagi mengatakan Nabi Isa (as.) diangkat ke langit, sungguh keliru!.
Menggunakan prinsip yafsir ba’dahu ba’dan, tidak ada justifikasi dari ayat-ayat Al-Qur’an untuk mengartikan kata Tawaffa selain daripada kewafatan. Karena itu kita sebagai umat Muslim yang memiliki akidah Islam yang murni berdasarkan Al-Qur’an berkewajiban untuk meyakini bahwa Nabi Isa (as.) selamat dari penyaliban dan sudah wafat secara wajar. Mengenai lokasi pemakamannya diperkirakan di suatu wilayah dataran tinggi yang aman dan subur, sesuai yang dijelaskan oleh ayat QS. Al-Mu’minun 23:50.
Tafsir kata Rafa’a/rāfi’uka pada Al-Qur’an
Bagaimana dengan kata angkat itu sendiri, yang digunakan Allah pada QS. Ali Imran: 55 dan An-Nisa:158? Kata ini juga wajib ditafsirkan sesuai dengan makna bahasa Arab yang luas dan penggunaannya dalam Al-Qur’an sendiri, yaitu sebagai pengangkatan derajat/status (spiritual). Penafsiran menggunakan prinsip yafsir ba’dahu ba’dan inilah yang harus diutamakan, demi menjaga kemurnian akidah.
Kenyataannya, lagi-lagi kata angkat ini diterjemahkan dengan menggunakan akidah Nasrani. Kaum Yahudi percaya bahwa sebelum Almasih mereka datang, Elia juga harus turun kembali dari langit. Tahukah kamu, dalam akidah Nasrani, Nabi Elia, atau Nabi Ilyas (as.), juga diyakini diangkat secara fisik ke langit tanpa mengalami kematian. Kisah ini tercatat dalam 2 Raja-Raja 2:11: “Sedang mereka berjalan terus sambil bercakap-cakap, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu terangkatlah Elia ke sorga dalam angin badai.” Apakah klaim ini benar, tentu saja ssangat-sangat salah!
Kaum Yahudi percaya bahwa sebelum Almasih mereka datang, Elia juga harus turun kembali dari langit! Kepercayaan ini didasarkan pada Kitab Maleakhi 4:5, yang berbunyi: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN yang besar dan dahsyat itu.” Bagi umat Yahudi, kedatangan Elia adalah syarat mutlak sebelum Mesias mereka muncul. Namun, ketika Nabi Isa (Yesus Kristus) diutus oleh Allah ke tengah-tengah Bani Israel, Elia tidak pernah turun dari langit. Artinya, kepercayaan orang-orang Yahudi bahwa ada manusia diangkat ke langit itu salah total!
Lantas, jika kepercayaan ini salah, mengapa mayoritas ulama kemudian menafsirkan kata angkat menjadi diangkat fisiknya kesecara langit, sedangkan kepercayaan ini saja sudah menyebabkan banyak kekafiran umat Yahudi terhadap Nabi Isa (as.)? Jawabannya adalah kepercayaan ini diwariskan dari ulama terdahulu yang merupakan mantan pengikut agama Nasrani, sehingga akidah lamanya mereka (secara tidak sengaja) dimasukan ke dalam tafsir Al-Qur’an, seperti Ka’b Al-Ahbar atau Wahab bin Munabbih [10][11].
Bagaimana tafsir yang murni berdasarkan Al-Qur’an? makna kata رفع dalam konteks Nabi Isa (AS) pada QS. Ali Imran: 55 dan QS. An-Nisa’: 158 paling tepat diartikan sebagai pengangkatan derajat, status, dan kehormatan di sisi Allah, bukan pengangkatan fisik ke langit. Prinsip ini didukung oleh penggunaan kata رفع pada ayat-ayat lain ketika merujuk pada manusia; maknanya selalu berhubungan dengan derajat spiritual atau kedudukan. Sebagai contoh, Al-Qur’an menyebutkan Nabi Idris diangkat ke “tempat yang tinggi” (makānan ‘alīyā) dalam QS. Maryam 19:57, dan Allah meninggikan (Rafa’a) sebagian manusia di atas yang lain dalam derajat (darajāt) pada QS. Al-An’am 6:165. Bahkan, amal saleh-lah yang menaikkan (yarfa’uhu) perkataan yang baik kepada Allah (QS. Fathir 35:10). Sedangkan رفع baru bermakna pengangkatan fisik ketika merujuk pada entitas non-manusia, seperti langit yang diangkat tanpa tiang (QS. Ar-Ra’d 13:2). Oleh karena itu, konsistensi penggunaan bahasa Al-Qur’an menunjukkan bahwa رفع untuk Nabi Isa adalah pengangkatan derajat atau status. Penafsiran ini sangat logis dan masuk akal karena kaum Yahudi telah sangat merendahkan derajat seorang Nabi Isa (as).
Pandangan tradisional dalam beberapa sumber Yahudi mengenai Nabi Isa sangatlah negatif dan kontroversial, seringkali berlawanan dengan narasi Kristen dan Islam. Dalam literatur seperti Talmud (khususnya Sanhedrin 107b) dan beberapa teks pasca-Talmudik, Nabi Isa sangat diremehkan. Mereka menuduh Nabi Isa adalah anak seorang pelacur (atau anak haram) dan bahwa ia adalah seorang penyesat yang merusak Israel dengan mengajarkan sihir dan bid’ah. Puncak dari pandangan ini adalah bahwa ia pantas dihukum mati di atas kayu salib karena pencemaran agama. kaum Yahudi percaya siapapun yang mati di atas kayu salib berarti terkutuk di mata Tuhan, dan mereka berkeyakinan ini adalah sebuah hukuman yang pantas untuk Nabi Isa, nNauzubilah!.
Lebih jauh lagi, kaum Yahudi secara tegas menyangkal statusnya sebagai Al-Masih (Mesias) yang sejati, menilai bahwa ia gagal menjalankan tugasnya untuk membebaskan dan memulihkan Israel. Beberapa teks mistik, seperti dalam Buku Zohar III, bahkan menggambarkan kematiannya dengan sangat brutal dan menghina, menyatakan bahwa Yesus mati seperti binatang dan dikuburkan di tempat yang paling najis dan kotor, bersama dengan bangkai hewan. Pandangan ini juga mencakup pengucilan para pengikutnya, yaitu orang-orang Kristen, yang disebut sebagai penganut aliran sesat dan dianggap najis.
Jelaslah, mengapa Allah mengangkat derajat Nabi Isa (as.) ketika wafat. Kata kerja رفع yang memiliki arti sebagai pengangkatan status dan kehormatan—adalah jawaban mutlak dan abadi dari Allah terhadap setiap tuduhan keji dan penghinaan yang disebutkan di atas. Jika musuh-musuh Isa berusaha merendahkan derajatnya serendah mungkin dengan menuduhnya sebagai anak haram, penyesat, dan mengklaim kematiannya yang terkutuk dan memalukan, maka Allah membalasnya dengan mengangkat derajat dan kemuliaan Isa setinggi mungkin di sisi-Nya (seperti pada QS. Ali Imran 3:55 dan QS. An-Nisa’ 4:158). Pengangkatan ini secara teologis membersihkan Isa dari semua kotoran dan fitnah yang dilontarkan oleh kaum Yahudi, sekaligus menguatkan akidah Tauhid bahwa Isa adalah hamba dan utusan Allah yang suci dan terhormat, bukan Tuhan, dan misinya yakni mengumpulkan domba-domba Bani Israiel yang hilangtersesat telah berhasil diselesaikan dengan baik dan sempurna, sesuai arti kata tawaffa.
Ayat-Ayat Pendukung Nabi Isa (as.) Sudah Wafat
Memang tidak ada ayat eksplisit yang menyatakan bahwa Nabi Isa (aAs.) sudah atau belum wafat, sehingga kita bisa mengambil ayat-ayat pendukung lainnya, seperti:
- Ayat Mengenai Kematian Seluruh Rasul (QS. Ali Imran 3:144):
“Dan Muhammad hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu rasul-rasul sebelumnya.sebelumnya telah berlalu beberapa rasul.” Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa semua rasul yang mendahului Nabi Muhammad SAW telah wafat. Jika Isa (as.AS) masih hidup secara fisik, ia akan menjadi satu-satunya pengecualian, yang secara tata bahasa bertentangan dengan frasa al-rusul pada ayat ini,dimana alif lam disini berfungsi sebagai Alif Lam Al-Istighrāq , untuk menunjukan bahwa semua Rasul yg hadir sebelum Muhammad (saw.Saw), termasuk Nabi Isa (as.), Nabi Idris (as.), dan Nabi Ilyas (as). - Ayat Pengambilan Jiwa (QS. Al-Ma’idah 5:117): Ayat ini mencatat dialog antara Allah dan Isa di akhirat. Isa berkata:
“Tidaklah aku mengatakan kepada mereka melainkan apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau mewafatkan aku (tawaffaitanī), Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.” Penggunaan kata tawaffaitanī oleh Isa sendiri di sini, yang diterjemahkan sebagai “mewafatkan aku”, dilihat sebagai bukti langsung dari lisan Isa bahwa ia memang mengalami kematian sebelum Hari Kiamat. Ini adalah salah satu ayat pendukung terkuat bagi pandangan bahwa tawaffa pada Isa berarti kematian. - Ayat Mengenai Watak Kemanusiaan Para Rasul: Beberapa ayat menegaskan watak kemanusiaan penuh Isa dan para rasul, yang meliputi kematian, sama seperti manusia lainnya.
- QS. Al-Ma’idah (5:75): “Al-Masih putera Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul; dan ibunya seorang wanita yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan.” Tindakan memakan makanan menunjukkan watak fisik manusia yang pasti akan mengalami kematian. Karena ayat ini menunjukan bahwa Nabi Isa (as.) tidak lagi makan, artinya sudah wafat.
- QS. Al-Anbiya (21:9): “Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka… Dan Kami tidak menjadikan mereka tubuh-tubuh yang tidak memakan makanan, dan tidak (pula) mereka itu orang-orang yang kekal.” Ayat ini berlaku umum bagi semua rasul, termasuk Isa, menolak kemungkinan keabadian fisik di langit.
- Ayat Mengenai Kehidupan dan Kematian Isa (AS): Ayat-ayat ini menyebutkan kematian dan kebangkitan Isa, sebuah siklus manusia normal.
- QS. Maryam (19:33): “Dan kesejahteraan atasku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan kembali hidup-hidup.” (Perkataan Isa saat masih bayi). Perkataan Isa as. ini secara eksplisit meramalkan kematiannya di masa depan.
- QS. Maryam (19:31): “Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” Kewajiban salat dan zakat berlaku selama ia hidup di dunia, menyiratkan bahwa setelah tugas kenabiannya selesai, ia akan mengalami akhir kehidupan yang normal. Jika Isa masih hidup di langit, secara logis ia tidak lagi terikat pada kewajiban syariat seperti salat dan zakat yang merupakan perbuatan yang dilakukan di bumi, sehingga keberadaannya yang berkelanjutan di langit dalam keadaan fisik menjadi tidak relevan.
- Ayat Mengenai Takdir Kehidupan Manusia di Bumi: Ayat ini menegaskan bahwa alam yang ditetapkan bagi kehidupan dan kematian manusia adalah dunia, bukan langit: QS. Al-Baqarah (2:36): Allah berfirman kepada Adam dan Hawa setelah dikeluarkan dari Surga: “Kami berfirman: ‘Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain. Dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan’.” Ayat ini menetapkan bumi sebagai tempat tinggal, hidup, dan berakhirnya (sampai waktu yang ditentukan/kematian) bagi keturunan Adam. Hidup fisik secara berkelanjutan di alam langit akan bertentangan dengan takdir fitrah manusia ini.
- Ayat Mengenai Kematian Segala Sesuatu Selain Allah (Menolak Keilahian): Ayat ini secara tegas menyatakan bahwa segala sesuatu yang disembah selain Allah tidak memiliki kuasa untuk hidup abadi dan pasti akan mati. Terdapat pada QS. An-Nahl (16:20-21): “Dan sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, tidaklah menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan. (Mereka) benda mati tidak hidup, dan tidak (pula) mengetahui bilakah mereka akan dibangkitkan.” Ayat ini memberikan kaidah universal: segala sesuatu selain Allah adalah makhluk yang diciptakan, bersifat mati dan tidak hidup abadi. Karena Isa as. (AS) disembah sebagai Tuhan oleh sebagian pengikutnya, maka ayat ini berfungsi sebagai bantahan teologis yang mutlak. Jika Isa masih hidup secara fisik di langit (abadi), hal itu secara tidak langsung akan memberi dukungan akidah Nasrani yang menuhankan Yesus.
Fenomena Penalaran Melingkar
Seperti yang dijelaskan diatas, kKegagalan Nabi Elia untuk turun tidak menggagalkan Nabi Isa sebagai Almasih yang sejati. Bahkan, dalam Injil Matius 11:14, Isa menyatakan bahwa Yohanes Pembaptis (Nabi Yahya as.)-lah yang sebenarnya adalah Elia yang dinubuatkan itu, sebagai penafsiran spiritual, bukan kedatangan Elia secara fisik. Ini menunjukkan satu pertanyaan, jika keyakinan turunnya seseorang dari langit itu telah terbukti salah untuk kaum Yahudi, mengapa kita umat Muslim mengulangi kesalahan yang sama? Apa yang membuat kita yakin, bahwa ketika Rasulullah saw.SAW bersabda Isa akan turun di akhir zaman, artinya akan ada sosok yang turun dari langit?
Hal ini membawa kita pada fenomena penalaran melingkar (circular reasoning) dalam menafsirkan ajaran tentang turunnya Nabi Isa (as). Dalam kasus ini, mayoritas ulama berusaha menjustifikasi bahwa Al-Qur’an menjelaskan Nabi Isa (as.) masih hidup dengan infiltrasi akidah Nasrani mengenai diangkatnya Nabi Isa (as.) secara fisik, sementara ayat-ayat Al-Qur’an sendiri (seperti yang telah dibahas: QS. Ali Imran 3:144, QS. Al-Ma’idah 5:117, dan penafsiran Rafa’a sebagai derajat) justru memiliki pandangan yang kuat mengimplikasikan bahwa Nabi Isa (as.) sudah wafat.
Untuk membantah tuduhan bahwa keyakinan hidupnya Nabi Isa (as.) di langit bukan pengaruh dari akidah Nasrani, mayoritas ulama menggunakan hHadis tentang turunnya Nabi Isa di akhir zaman sebagai bukti kuat bahwa Nabi Isa masih hidup secara fisik. Padahal, sama seperti kasus Elia/Yahya, hadis tersebut sangat mungkin diartikan secara metafora, yaitu kedatangan sosok manusia yang membawa sifat, semangat, dan ajaran Isa (as.). Artinya harus ada bukti tunggal yang kokoh dari Al-Qur’an, sebagai sumber akidah Islam yang utama, yang menyatakan Nabi Isa (as.) masih hidup, sehingga hadis ini bisa ditafsirkan bahwa Nabi Isa (as.) yang dulu akan turun di akhir zaman.
Untuk hal ini, mayoritas ulama pun akan kembali menunjuk pada penafsiran kata angkat atau rRafa’a yang sudah dipengaruhi oleh hHadis tersebut atau dipengaruhi oleh akidah Nasrani. Disinilah adanya penalaran melingkar:
- Premis A (Tafsiran Al-Qur’an): Mayoritas ulama menafsirkan ayat Al-Qur’an seperti 4:158 (tentang rRafa’a) dan 3:55 (tentang mMutawaffīka dan rRafa’a) dengan makna bahwa Isa diangkat hidup-hidup.
- Bukti untuk Premis A: Ketika ditanya mengapa menggunakan akidah Nasrani untuk menafsirkan ayat diatas, mereka akan mengelak dan mengacu pada hadis-hadis tentang turunnya Isa di akhir zaman.
- Premis B (Tafsiran Hadis): Mayoritas ulama menafsirkan hadis turunnya Isa secara literal (sosok fisik turun dari langit).
- Bukti untuk Premis B: Ketika ditanya mengapa hadis diartikan literal, mereka akan mengeluarkan Premis A. disinilah penalaran melingkar terjadi, Premis A membuktikan Premis B, Premis B membuktikan Premis A.
Kesimpulan, tidak ada bukti akidah yang berdiri sendiri (hujjah qā’imah bi-nafsihā) dari Al-Qur’an untuk membuktikan Nabi Isa masih hidup secara fisik.
Penjelasan Hadith Mutawwatir Turunnya Nabi Isa (as)
Satu-satunya solusi untuk keluar dari keyakinan rapuh yang berdasarkan akidah Nasrani dan penalaran melingkar ini adalah menafsirkan hadisth ini secara metafora. Mengingat banyak hHadis sahih lain yang tidak pernah dipahami secara harfiah oleh para ulama, melainkan ditafsirkan berdasarkan makna kiasan.
- Hadis “Tangan Paling Panjang”: Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda mengenai istri-istri beliau, “Yang paling cepat menyusulku (wafat) dari kalian adalah yang paling panjang tangannya.” Jika Hadis ini diartikan secara harfiah, maka istri Rasulullah yang memiliki anggota fisik terpanjang akan wafat pertama. Kenyataannya, yang pertama wafat setelah Nabi SAW adalah Zainab binti Jahsy RA. Para ulama sepakat menafsirkan tangan paling panjang bukan sebagai ukuran fisik, melainkan sebagai orang yang paling banyak memberi sedekah, beramal, dan berbuat baik—sebuah penafsiran metafora yang murni spiritual dan moral.
- Hadis Dajjal dan Kecepatan Perjalanannya: Rasulullah SAW juga menjelaskan bahwa Dajjal akan melakukan perjalanan dengan kecepatan yang luar biasa di bumi, diriwayatkan seperti “hujan yang ditiup angin.” Jika dipahami secara harfiah, mustahil manusia dapat bergerak dengan kecepatan meteorologi semacam itu. Mayoritas ulama modern dan kontemporer menafsirkan hadis ini sebagai gambaran kecepatan penyebaran informasi, komunikasi, atau transportasi di akhir zaman (seperti internet, media massa, atau pesawat), yang menunjukkan bahwa deskripsi Hadis tersebut adalah metafora untuk sebuah fenomena yang melampaui kemampuan fisik normal.
Kedua contoh ini menunjukkan bahwa hadisHadith, sebagai sumber sekunder, wajib ditafsirkan secara kontekstual dan metaforis jika penafsiran harfiahnya bertentangan dengan logika, akal, atau prinsip-prinsip universal Al-Qur’an (seperti keniscayaan kematian bagi semua rasul, QS. Ali Imran 3:144). Oleh karena itu, menafsirkan hadisHadith tentang turunnya Nabi Isa as. (AS) sebagai kedatangan sosok spiritual atau pembaharu, alih-alih sosok fisik turun dari langit, bukanlah sebuah bid’ah, melainkan praktik penafsiran yang diakui dan digunakan dalam tradisi keilmuan Islam sendiri.
Siapakah sosok tersebut. Sudah hadir dalam wujud pendiri Ahmadiyah, Hadhzrat Mirza Ghulam Ahmad (as.). Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. menerima wahyu sebagai berikut [11]:
Masih Ibnu Maryam faot ho cuka he aor us ke rang me ho kar wa’dah ke muwafiq tu aya he. (bahasa Urdu) Artinya: “Masih Ibnu Maryam telah wafat dan sesuai janji-Ku, engkau datang dalam warna (corak/sifat) Isa” (Wahyu Ilahi inii kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as tertulis dalam Izalah-e-Auham, hal 561-562; Ruhani Khazain, Jilid.3, hal.402)
Beliau memiliki sifat, kesamaan dan semangat Isa as. sebagaimana Yohanes Pembaptis memiliki sifat, kesamaan dan semangat Elia as. Beliau menyatakan bahwa Isa tidak akan turun dari langit secara fisik sebagaimana Elia as. juga tidak turun secara fisik ke dunia karena ini sunah Allah. Elia hadir dalam diri Yohanes Pembaptis (Yahya as.) demikian juga Isa as. hadir dalam diri Hadhzrat Mirza Ghulam Ahmad as.
Berikut pesan Beliau untuk semua umat Muslim:
Apakah orang-orang ini (muslim) menunggu Isa ? Padahal disebabkan hal itu muncul banyak fitnah pada saat menurut pemikiran mereka Isa ada dilangit. Lalu apa yang akan terjadi pada masa ini ketika ia (Isa) akan turun ke bumi? Sebelumnya sebagaimana kaum kita, orang-orang Yahudi juga menuggu Hd. Ilyas/Elia. Akan tetapi pada akhir upaya mereka, tak ada yang tersisa selain kehilangan harapan. Inilah cara berfikir manusia yakni ia memperoleh contoh dari orang lain dan menyelamatkan diri dari keburukan dan kerugian (yang menimpa orang lain itu). Allah Ta’ala berfirman ‘Jika kamu tidak tahu, tanyakanlah kepada ahli kitab!’. Maka orang-orang Islam seharusnya bertanya pada orang-orang Kristen ‘Menurut mereka apakah Ilyas/Elia turun dari langit sebelum Isa as?’ dan tanyakanlah kepada orang-orang Yahudi ‘wahai orang-orang yang menunggu (Elia). Apakah kalian telah mendapatkan barang kalian yang hilang (Elia)?’. Jadi terbuktilah bahwa akidah ini (Isa dan Elia turun dari langit secara fisik) hanya harapan dan pemikiran saja. Tak ada yang akan turun dari langit dan tak ada yang telah turun dari langit…”(Mawahibur Rahman, Ruhani Khazain jilid 19 hal 311-312).
Mengapa Akidah Nasrani Menjadi Bagian dari Tafsir Al-Qur’an?
Hal ini merujuk pada fenomena iIsrailiyat atau dDakhil (infiltrasi) dalam khazanah tafsir Al-Qur’an[12], yang menjadi pintu masuk bagi pandangan Kristiani ke dalam literatur Islam, khususnya mengenai kisah Nabi Isa as. (AS). Infiltrasi ini terjadi pada masa-awal kodifikasi tafsir (periode tabi’in) karena kondisi sosio-kultural masyarakat Arab saat itu. Banyak ulama Yahudi dan Nasrani yang baru memeluk Islam, seperti Ka’ab al-Ahbar dan Wahab bin Munabbih, masih membawa cerita-cerita keagamaan dari kitab suci mereka sebelumnya. Para ulama tafsir awal (mufassirūn)—karena rasa ingin tahu atau demi mengisi kekosongan detail narasi (misalnya, siapa yang diserupakan dengan Isa dalam QS. An-Nisa’ 4:157)—menerima riwayat-riwayat dari Ahli Kitab ini.
Pada masa kehidupan Rasulullah saw.SAW, umat Islam tidak terlalu bergantung pada kisah-kisah israiliyyat dari Ahli Kitab. Hal ini karena Rasulullah SAW adalah sumber otoritas tertinggi. Jika muncul pertanyaan atau keraguan mengenai kisah para nabi terdahulu, para sSahabat dapat langsung bertanya kepada Beliau, dan Rasulullah akan memberikan jawaban yang benar, yang dijamin oleh wahyu Ilahi. Oleh karena itu, iIsrailiyyat yang beredar pada saat itu tidak memiliki dampak yang signifikan pada akidah atau penafsiran Al-Qur’an.
Namun, semenjak wafatnya Rasulullah saw. SAW, sumber utama wahyu terhenti, dan hadis-hadis belum sepenuhnya terkodifikasi. Mulailah berkembang narasi iIsrailiyyat (termasuk dari mualaf Ahli Kitab) ke dalam literatur tafsir dan sejarah untuk mengisi detail-detail yang tidak dijelaskan oleh Al-Qur’an dan Hadis yang ada, termasuk pandangan tentang keabadian dan pengangkatan fisik Nabi Isa (as.AS) ke langit.
Namun demikian, ijtihad mereka tetaplah sah, dan tidak ada kesalahan yang melekat pada ulama yang melakukannya. Para ulama ini bekerja dengan data dan metodologi tafsir terbaik yang tersedia pada zamannya, dan Rasulullah saw.SAW sendiri telah bersabda, “Apabila seorang hakim berijtihad, lalu ijtihadnya benar, ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila ia berijtihad, lalu ijtihadnya salah, ia mendapatkan satu pahala.” Prinsip ini menegaskan bahwa niat untuk mencari kebenaran adalah ibadah dan tetap mendatangkan kebaikan. Selain itu, ijtihad ini dilakukan pada masa ketika Almasih Akhir Zaman yang dijanjikan—yang akan berfungsi sebagai hakim yang adil (hakamun ‘adl) dan menghilangkan perselisihan diantara umat—belum muncul. Oleh karena itu, bagi mereka, menggunakan akidah Nasrani untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an adalah metodologi yang valid demi menegakkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran akidah saat itu.
Hd. Mirza Ghulam AhmadAhmad (as.) menulis:
“Akan tetapi, para ulama sebelumku, yang karena kesalahan mereka dalam berijtihad, mereka menganggap bahwa AlmMasih ibnu Maryam akan turun dari langit, mereka semua menurut pandangan Tuhan adalah ma’dzur [tidak bersalah]. Jangan berkata buruk tentang mereka karena dalam niat mereka tidak ada keburukan, mereka keliru karena sifat manusiawinya. Semoga Allah Taala memaafkan mereka karena mereka tidak diberitahu.” (Penolak Bala dan Standar Orang-Orang yang Terpilih, hal. 24)
Saat ini, kita hidup di masa yang mulia di mana telah munculnya Hadhzrat Mirza Ghulam Ahmad (as) sebagai Almasih Akhir Zaman telah muncul. Atas bimbingan Allah, beliau telah memberikan petunjuk yang benar mengenai fakta sesungguhnya perihal kewafatan Nabi Isa as. (AS), membebaskan akidah Islam dari belenggu iIsrailiyyat dan akidah Nasrani. Berdasarkan pemahaman mendalam atas Al-Qur’an (prinsip yafsir ba’dahu ba’dan) dan hadisHadith, Almasih Akhir Zaman telah menafsirkan taTawaffa sebagai kematian dan rRafa’a sebagai pengangkatan derajat. Beliau juga telah menuliskan banyak kitab yang membantu kita memahami secara jelas bahwa Nabi Isa telah wafat.
Bagi kita yang hidup di zaman ini, munculnya sosok ini memunculkan kewajiban mendasar untuk berbaiat kepada beliau. Kewajiban berbaiat ini didukung oleh Hadis yang memberikan perintah tegas, seperti riwayat dari Ibn Majah:
“Jika kalian melihatnya, maka bai’atlah dia! Walaupun dengan merangkak di atas salju, karena sesungguhnya dia adalah khalifah Allah al-Mahdi.” (HR. Ibn Majah No. 4222)
Hadis ini secara eksplisit memerintahkan umat Muslim untuk berbaiat kepada Imam Mahdi tanpa peduli kesulitan yang harus dihadapi. Selanjutnya, Hadis dari Musnad Ahmad bin Hanbal mengisyaratkan bahwa peran Mahdi dan Isa di akhir zaman menyatu di satu pribadi:
“Hampir-hampir orang yang berada di antara kalian akan bertemu Isa Ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan hakim yang adil.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, Jilid II, hal. 411)
Hadis ini ditafsirkan sebagai isyarat bahwa Isa Ibnu Maryam di akhir zaman akan menjadi Imam Mahdi, sehingga berbaiat kepada Hadhzrat Mirza Ghulam Ahmad (as.) sebagai Almasih Akhir Zaman adalah memenuhi perintah untuk berbaiat kepada Imam Mahdi yang dijanjikan. Kedua hadishadith ini secara kolektif menegaskan bahwa berbaiat kepada pemimpin yang diutus di akhir zaman adalah syarat mutlak bagi keselamatan spiritual di masa tersebut.
Penulis : Fariz Abdussalam
Referensi:
[1] Hubaeib, M.H. (2021) Inilah Para Perawi Israiliyat yang Menjadi Rujukan di Kitab-Kitab Tafsir, Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia. Available at: https://tafsiralquran.id/inilah-para-perawi-israiliyat-yang-menjadi-rujukan-di-kitab-kitab-tafsir/
[2] Abdussalam, Fariz. (2025) Pengaruh Ajaran Kristen pada Keyakinan Hidupnya Nabi Isa di Langit, RajaPena.org. Available at: https://rajapena.org/pengaruh-ajaran-kristen-pada-keyakinan-hidupnya-nabi-isa-di-langit/ (Accessed: 2 December 2025).
[3] Samsuri, A.S. (2015) ‘ISRĀĪLĪYĀT: PERKEMBANGAN DAN DAMPAKNYA DALAM TAFSIR AL-QUR`AN’, Islamuna: Jurnal Studi Islam, 2(2), p. 197. Available at: https://doi.org/10.19105/islamuna.v2i2.662.
[4] Sari, P.D., Siti Masykuroh and Beko Hendro (2024) ‘Analisis Kisah Isra’iliyat Tentang Penyaliban Nabi Isa AS dalam al-Qur’an Surah al-Nisa: 157-158’, El-Afkar: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Tafsir Hadis, 13(2), pp. 320–343. Available at: https://doi.org/10.29300/jpkth.v13i2.5118.
[5] Studi Tafsir (2022) Kolom #9, Studi Tafsir. Available at: https://studitafsir.com/2022/06/03/dilema-kepakaran-muqatil-bin-sulayman-w-150-h-767-m-dalam-ilmu-tafsir/ (Accessed: 2 December 2025).
[6] Redaksi Suara Muhammadiyah (2024) Menafsirkan Al-Qur`an dengan Al-Qur`an, Suara Muhammadiyah. Available at: https://suaramuhammadiyah.id/read/menafsirkan-al-qur-an-dengan-al-qur-an (Accessed: 2 December 2025).
[7] Abdussalam, Fariz. (2024) Al Qur’an Membantah Nabi Isa Diserupakan Disalib, RajaPena.org. Available at: https://rajapena.org/al-quran-membantah-nabi-isa-diserupakan-disalib/ (Accessed: 2 December 2025).
[8] Hamka, B. (2015) Inilah Pendapat Buya hamka tentang Wafatnya Isa as. Available at: https://www.inilah.com/inilah-pendapat-buya-hamka-tentang-wafatnya-isa-as (Accessed: 02 December 2025).
[9] Kenaikan Isa dalam Al-Quran, Suara Muhammadiyah. Available at: https://www.suaramuhammadiyah.id/read/kenaikan-isa-dalam-al-qur-an (Accessed: 2 December 2025).
[10] Hubaeib, M.H. (2021) Inilah Para Perawi Israiliyat yang Menjadi Rujukan di Kitab-Kitab Tafsir, Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia. Available at: https://tafsiralquran.id/inilah-para-perawi-israiliyat-yang-menjadi-rujukan-di-kitab-kitab-tafsir/
[11] Nashih Nashrullah (2020) Benarkah Nabi Isa Masih Hidup Sampai Saat Ini di Langit?, Republika Online. Available at: https://islamdigest.republika.co.id/berita/qe4oq6320/benarkah-nabi-isa-masih-hidup-sampai-saat-ini-di-langit (Accessed: 2 December 2025).
[12] Infiltrasi Israiliyat Dalam Tafsir Al-Qur’an (2025) Blogspot.com. Available at: https://stitattaqwa.blogspot.com/2012/11/infiltrasi-israiliyat-dalam-tafsir-al.html (Accessed: 2 December 2025).
