“Cinta untuk Semua, Kebencian Tidak Untuk Siapapun” – Perjalanan Bersejarah ke Spanyol

116
Hadhrat Hafiz Mirza Nasir Ahmad rh Khalifah Masih III
Hadhrat Hafiz Mirza Nasir Ahmad rh Khalifah Masih III

Sejarah Islam di Spanyol adalah sejarah yang gemilang dan mengalami kebangkitan pada masa Khilafat Hazrat Khalifatul Masih III ra.

Islam pertama kali tiba di Spanyol ketika rakyat Spanyol meminta bantuan jenderal Muslim Musa bin Nusair untuk membebaskan mereka dari kekejaman Roderick yang kejam. Musa bin Nasir mengirim Tariq bin Ziyad sebagai kepala pasukan militer berkekuatan 8.000 orang, yang kemudian berkembang menjadi 12.000 orang dengan bala bantuan.

Tariq sampai di Gibraltar (Jabal at-Tariq) yang akan menyandang namanya selamanya, di dekat pantai Spanyol. Malam itu, dalam wahyu dan mimpi, diriwayatkan bahwa beliau bermimpi melihat Rasulullah saw bersama Hazrat Abu Bakar ra dan Hazrat Umar ra. Rasulullah saw. bersabda kepadanya, ‘Wahai Tariq! Seranglah musuh tanpa rasa takut. Kami akan bersamamu dalam peperangan. Kemenangan adalah milikmu.

Sangat terdorong oleh mimpi ini, Tariq dikatakan telah memerintahkan semua kapal yang mengirimnya ke sana untuk dibakar dan meningkatkan semangat pasukannya dengan pidato yang menginspirasi yang ia akhiri dengan kata-kata ini: ‘Musuh ada di depan kalian dan laut di belakang kalian. Perahu-perahu telah dibakar. Tidak ada jalan untuk melarikan diri kecuali dengan keberanian dan tekad yang kuat. Wahai para Muslim yang gagah berani, seranglah musuh tanpa rasa takut karena kemenangan telah ditakdirkan untuk kalian.”(1)

Pasukan kecil Tariq memusnahkan musuh dan mendirikan negara Islam di Spanyol. Selama lebih dari tujuh abad, Eropa mendapat manfaat dari berbagai universitas dan perpustakaan yang mengajarkan ajaran-ajaran Qur’an, filsafat dan ilmu pengetahuan, serta dari budaya Islam dan dari rasa kejujuran dan keadilan yang saat ini menjadi legenda seperti yang dikisahkan oleh para pemandu wisata yang membawa Anda berkeliling pada masa lalu Spanyol yang bersejarah dan menawan.

Namun, dengan para penguasa Muslim yang tenggelam dalam kegiatan lain, Kekristenan mendapatkan kembali dominasinya dan Islam direduksi hingga punah kecuali beberapa bangunan bersejarah. Tidak ada yang tersisa dari masjid agung di Kordoba, ibu kota, kecuali beberapa gundukan tanah dan kejayaan kota Muslim ini tenggelam terlupakan dan hanya layak untuk menarik perhatian para sejarawan.

Lawatan Hazrat Khalifatul Masih III ra. ke Eropa pada tahun 1970 termasuk di dalamnya perjalanan ke Spanyol. Dalam pidato yang beliau sampaikan kepada Jemaat, beliau mengomentari betapa sedihnya beliau melihat kondisi menyedihkan kaum Muslimin di bawah Jendral Franco di Spanyol dan berdoa untuk kebangkitan Islam di Spanyol.

Berbicara mengenai kunjungan tersebut, Hazrat Khalifatul Masih III ra. bersabda:

“Umat Islam berkuasa di sana selama tujuh ratus tahun. Sebagai hasil dari konspirasi dan kegiatan yang menyimpang dari beberapa pendeta pada waktu itu, umat Islam kehilangan kekuasaan mereka atas tanah itu. Tidak ada seorang Muslim pun yang tersisa di sana… Saya mengalami penyiksaan mental yang luar biasa ketika saya berkunjung ke sana. Umat Islam benar-benar tersingkir dari Granada, yang merupakan ibukota negara; kota ini memiliki banyak perpustakaan; memiliki Universitas di mana para pastor dan uskup terkemuka terdaftar sebagai murid para profesor Muslim. Semua kemuliaan dan kemegahan Islam, baik secara sekuler, spiritual maupun moral, dilenyapkan.

Anda tidak tahu penderitaan saya. Ketika saya pergi ke Granada, yang ada di benak saya adalah pemikiran bahwa dulu doa-doa untuk Rasulullah saw bergema dari tembok-tembok dan portal-portalnya, dan sekarang yang muncul adalah kutukan. Saya merasa sangat tertekan.

Kemudian saya memutuskan untuk bershalawat kepada Rasulullah saw sebagai penebusan dosa kecil, namun Kebijaksanaan Allah yang Maha Agung, tanpa peringatan, mengubah ekspresi bibir saya. Ketika setelah beberapa saat saya tiba-tiba merenungkan kata-kata itu, saya menemukan bahwa bukannya shalawat kepada Nabi saw yang saya ucapkan, tetapi saya mengucapkan:

(Tidak ada yang patut disembah kecuali Engkau, tidak ada yang patut disembah kecuali Engkau).

Lidah saya mengucapkan kalimat tauhid. Kemudian, saya menyimpulkan bahwa realitas dasar adalah Tauhid Ilahi dan kedatangan Rasulullah saw bertujuan untuk menegakkannya. Tekad saya bahwa saya harus memberikan tekanan besar pada shalat adalah benar, tetapi saya secara pribadi telah memilih kata-kata saya. Keyakinan bahwa Allah itu Esa lebih diutamakan daripada memanjatkan doa kepada Nabi saw.  Saya sangat senang saat itu karena Allah Yang Maha Agung sendiri yang memberikan arahan baru kepada lidah saya.


Saya tidak bisa tidur sepanjang malam, bertanya-tanya bahwa kita kekurangan sumber daya material dan negara-negara ini adalah kekuatan besar serta telah membuat langkah panjang dalam kemajuan material. Kita kekurangan kekayaan dan sarana. Lalu bagaimana kita akan mengislamkan mereka? Misi Hazrat Masih Mauud as. adalah membawa bangsa-bangsa di dunia ke dalam pangkuan Islam sebagai hamba-hamba Rasulullah saw, dan karena umat ini juga merupakan salah satu dari bangsa-bangsa di dunia, bagaimana mereka bisa masuk Islam? Singkatnya, bagaimana hal ini akan terjadi.

Inilah bentuk pemikiran yang menjadi dasar doaku; itulah keadaan pikiran saya sepanjang malam. …

Hari terbit di sana lebih awal. Saya kira antara pukul 3.00 dan 3.30 pagi, ketika saya berbaring setelah shalat subuh dan tiba-tiba mata saya menjadi berat; dan kemudian ayat Al-Qur’an ini ada di bibir saya:

Dan Dia akan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak pernah ia sangka. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Dia memadai baginya. Sesungguhnya Allah menyempurnakan urusan-Nya. Sesungguhnya Allah telah menetapkan ketentuan bagi segala sesuatu (Al-Qur’an, Surah Al-Talaq 65:4)

Inilah jawaban dari pertanyaan bagaimana semua ini bisa terjadi tanpa adanya sumber daya. Allah Yang Maha Agung berfirman, “Orang yang bertawakal kepada Allah tidak perlu mengkhawatirkan cara-cara lain. Cukuplah Allah baginya. Ketika Allah Yang Mahaagung menetapkan suatu tujuan di hadapan-Nya, Dia selalu mencapainya. Oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir atau cemas tentang bagaimana semua ini akan terjadi. Ini pasti terjadi dan akan terjadi. Karena, Allah, Yang Maha Agung, berfirman bahwa misi Hadhrat Masih Mau’ud (as) bertujuan untuk memasukkan seluruh umat manusia ke dalam kesatuan Islam di bawah panji Nabi Muhammad saw.

Pikiran kedua yang ada di benak saya dan doa-doa saya adalah kapan hal itu akan terjadi? Ada jawaban mengenainya juga. Allah Yang Maha Mulia telah menetapkan ukuran dan perkiraan untuk segala sesuatu; ketika waktunya tiba, ia akan terwujud; oleh karena itu, Anda tidak perlu khawatir tentang hal itu. Jika tidak ada sumber daya materi, Anda tidak perlu khawatir; karena Allah sudah mencukupi. Saya kemudian merasakan ketenangan yang luar biasa di dalam hati saya. Oleh karena itu, saya tidak membuat rencana apapun di hadapan kalian dalam hal ini, karena saya tidak mengetahui rencana Allah Yang Maha Agung dalam hal ini.”(2)


Peletakan Batu Pertama
Penyerahan diri Hazrat Khalifatul Masih III ra secara total kepada Kehendak Allah dan ketergantungan penuh pada pertolongan-Nya membuahkan hasil. Jemaat menemukan sebidang tanah di Pedrobad beberapa mil dari kota budaya Kordoba, sebuah tempat yang mengesankan di dekat jalan raya yang padat dari utara. Setelah selang waktu lebih dari 700 tahun, pada pukul 15.40 (waktu setempat) pada tanggal 9 Oktober 1980, beliau rh. meletakkan batu pertama pembangunan masjid pertama di Pedroabad, Spanyol.

Pada saat beliau berkhotbah kepada Jemaat, Hazrat Khalifatul Masih III ra. bersabda:

‘Mendirikan sebuah masjid adalah hal yang sangat penting, dan selalu dibangun dengan tujuan supaya Allah semata yang disembah di sana. Pelajaran yang diberikannya adalah bahwa semua manusia, di mata Allah Ta’ala, adalah satu, baik kaya maupun miskin, terpelajar maupun buta huruf, penduduk Pedroabad maupun yang datang dari jarak 1.000 mil atau lebih dan mungkin tinggal di Pakistan sebagai manusia mereka semua sama. Islam mengajarkan kita untuk hidup dengan saling mencintai dan menyayangi dan dengan kerendahan hati. Islam mengajarkan kita untuk tidak membedakan antara Muslim atau non-Muslim. Pesan saya kepada semua orang adalah bahwa Anda harus memiliki ‘Cinta untuk semua, Kebencian tidak untuk siapa pun (Love For All Hatred For None)! (3)

Hal ini mendapat sambutan meriah dari masyarakat Pedroabad. Dengan latar belakang inilah kata-kata spontan yang diucapkan oleh Hazrat Khalifatul Masih III ra. menjadi slogan unik Jemaat Muslim Ahmadiyah. Slogan ini diulangi lagi pada sebuah konferensi pers dan di Cafe Royale di Piccadilly, London, pada konferensi pers lainnya.

Selama perjalanan ini Hazrat Khalifatul Masih III ra. bersabda bahwa merupakan suatu hal yang sangat memuaskan dan menggembirakan bahwa masjid pertama di abad keempat belas Hijriah akan didirikan di Spanyol yang patut disyukuri kepada Allah Taala Beliau menambahkan lebih lanjut bahwa orang-orang harus diberitahu bahwa kedatangan Imam Mahdi diramalkan terjadi pada abad keempat belas dan abad kelima belas baru saja tiba dengan hanya satu orang yang mengaku sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih, yang dengan dukungannya, Allah Ta’ala telah memanifestasikan banyak sekali Tanda-tanda di bumi dan juga di langit.

The Basharat Mosque in Pedro Abad, Spain

Referensi:
1. Muslim Herald, September, 1982.

2. Al Fazl, 15 Juli, 1970, hal. 133. M.A. Saqi: Peletakan fondasi Masjid Pedrobad. The Muslim Herald, 1982.

diterjemahkan dari:
https://www.reviewofreligions.org/1966/love-for-all-hatred-for-none-historical-trip-to-spain/