Peran Khilafat Islam Ahmadiyah dalam Perjuangan Kemerdekaan Indonesia

555
Sekelompok pemuda Ahmadiyah dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia) bersama Hazrat Khalifatul Masih IIra, Qadian
Sekelompok pemuda Ahmadiyah dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia) bersama Hazrat Khalifatul Masih IIra, Qadian

Ada sekitar 50 negara Muslim di dunia, dan Indonesia merupakan negara Muslim terbesar dengan populasi sekitar 270 juta jiwa yang terdiri dari sekitar 17.500 pulau.

Pada tahun 1923, empat pemuda dari Sumatra – Maulwi Abu Bakar Ayub Sahib, Maulwi Ahmad Nuruddin Sahib, Maulwi Zaini Dahlan Sahib dan Haji Mahmud Sahib – datang ke India untuk belajar agama. Pada bulan Agustus 1923, takdir Allah membawa mereka ke Qadian setelah kunjungan mereka ke Kalkuta, Lucknow dan Lahore

Sekelompok pemuda Ahmadiyah dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia) bersama Hazrat Khalifatul Masih II ra., Qadian

Para pemuda ini bertemu dengan Hazrat Muslih Mau’ud ra. dan meminta agar pendidikan dan pelatihan agama mereka diatur. Hudzur ra. (sebutan untuk anggota ahmadiyah kepada khalifah-Hazrat Muslih Mau’ud ra.) menerima permintaan tersebut dan mengatur pendidikan mereka. Ketika belajar kebenaran Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Masih Mau’ud as berkembang di hati mereka dan mereka menerima Islam Ahmadiyah. Setelah baiat di Qadian, para pemuda ini menulis surat-surat dakwah kepada keluarga mereka di Indonesia, sehingga membuka jalan bagi dakwah Ahmadiyah di Indonesia.

Sekembalinya Hudzur ra. dari turnya di Eropa pada tahun 1924, beberapa acara resepsi diadakan untuk menghormatinya. Para pemuda Indonesia juga mengadakan jamuan minum teh pada tanggal 29 November 1924, di mana mereka menyampaikan pidato dalam bahasa Arab, dan Hudzur ra. juga menyampaikan pidato dalam bahasa Arab sebagai tanggapannya. (Al Fazl, 4 Desember 1924, hal. 2)

(Al Fazl, 4 Desember 1924, hal. 2)

Dalam acara ini, para mahasiswa Indonesia berbicara dengan Hudzur ra. mengenai dakwah Jemaat Ahmadiyah di Indonesia.
Oleh karena itu, Hudzur ra. mengutus Hazrat Maulwi Rahmat Ali ra. ke Indonesia untuk mendirikan misi Ahmadiyah di sana. Beliau berangkat ke Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1925 dan pada bulan September, sampai di Tapak Tuan, sebuah kota kecil di Sumatra. Beliau mendirikan jemaat (cabang) pertama di Indonesia dalam waktu beberapa bulan, dengan delapan orang yang melakukan bai’at, dan masjid Ahmadiyah pertama dibangun pada tahun 1937.

Hazrat Maulwi Rahmat Ali Sahib ra, Ratopoti Dumang Sahib, Abu Bakr Bugendo Maharajo Sahib, dan Maulwi Abu Bakr Ayub Sahib dengan  Hazrat Khalifatul Masih II ra.

Pergerakan Kemerdekaan Indonesia

Sejak awal, Jamaat Ahmadiyah harus menghadapi penentangan keras di Indonesia, meskipun faktanya Ahmadiyah Indonesia memiliki sejarah panjang dalam melayani negara dengan penuh semangat. Para Ahmadi juga telah memainkan peran besar dalam gerakan kemerdekaan Indonesia.

Indonesia berada di bawah kekuasaan Belanda sejak abad ke-17 hingga tahun 1942, ketika Jepang menyerbu selama Perang Dunia II.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, ketika Jepang menyerah kepada pasukan sekutu, Terauchi Hisaichi, komandan pasukan ekspedisi Jepang di Asia Tenggara, berjanji kepada Dr. Ir. Soekarno dan Mohammad Hatta – para pemimpin nasionalis Indonesia – untuk segera menyerahkan kedaulatan.
Pada tanggal 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan mengumumkan pembentukan pemerintahan baru. Belanda tidak mengakui pembentukan pemerintahan ini. Mereka berusaha untuk mendapatkan kembali kendali mereka atas Indonesia, yang kemudian memicu konflik besar. Dengan demikian, babak baru perjuangan Indonesia untuk mempertahankan kedaulatannya dimulai. (www.britannica.com/place/Indonesia/Toward-independence)

Dr. Ir. Soekarno didampingi Mohammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, di Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi), Jakarta | Wiki Commons

Pada saat pengumuman ini, Maulana Muhammad Sadiq Sahib yang bertugas sebagai mubaligh Ahmadiyah di Sumatra, menulis surat kepada Hazrat Muslih Mauud ra. untuk meminta petunjuk beliau mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan kejadian yang sedang berlangsung.

Mubaligh tersebut menyatakan bahwa meskipun bangsa Indonesia telah mengumumkan kemerdekaannya dan membentuk pemerintahan, namun pasukan sekutu tidak mengakui pemerintahan mereka. Ia bertanya apakah menurut ajaran Islam, ketaatan kepada pemerintah semacam itu wajib dilakukan oleh masyarakat, atau apakah itu adalah pemerintah yang memberontak. 

Hudzur ra. mengatakan bahwa hanya pemerintahan yang sah yang mendapat dukungan dari mayoritas negara, dan jika mayoritas negara membentuk pemerintahan yang independen, maka itu tidak akan disebut sebagai pemberontakan sesuai syariah. Hudzur ra. menambahkan bahwa dalam pandangannya, pemerintah Barat tidak akan mengizinkan pemerintahan yang sepenuhnya berdaulat, sehingga kompromi akan lebih menguntungkan.

Pertanyaan kedua adalah apakah Ahmadiyah Indonesia dapat mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan. 

Hudzur ra. menjawab bahwa jika pemerintah Indonesia mendapat dukungan mayoritas, maka itu adalah pemerintah yang sah, dan dengan demikian, sesuai dengan syariah, para Ahmadi harus mengikuti rencana pemerintah.

Maulana Muhammad Sadiq Sahib

Pertanyaan ketiga adalah seandainya Belanda menginvasi Indonesia dan orang Indonesia mencoba untuk membalas, apa yang harus dilakukan oleh para Ahmadi.

Hudzur ra. menyatakan bahwa pilihan terbaik adalah mendapatkan hak sebanyak mungkin dan melakukan konsiliasi. Jika pemerintah mendapat dukungan mayoritas, maka para Ahmadi harus mendukungnya, tetapi karena Belanda mendapat dukungan dari kekuatan Barat, maka tidak bijaksana jika Indonesia tidak berdamai dengan mereka. (Tarikh-e-Ahmadiyyat, jilid 9, hal. 588-589)

Hazrat Muslih Mauud ra. ingin agar bangsa Indonesia mendapatkan hak-hak mereka dengan cara berdamai, yang pada akhirnya akan menghasilkan kedaulatan bagi mereka, daripada bertindak terlalu agresif.

Pada tanggal 16 Agustus 1946, Hazrat Muslih Mauud ra. meminta perhatian dunia Muslim untuk mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. 

Hudzur ra. menyatakan bahwa ada sekitar 70 juta Muslim di Indonesia, yang merupakan bagian dari satu bangsa, berbicara dengan bahasa yang sama dan memiliki keinginan untuk bersatu.

Beliau bersabda:

“Muslim Indonesia telah menunjukkan contoh yang luar biasa dalam persatuan mereka, ketika berjuang untuk kemerdekaan mereka, dan contoh seperti itu bahkan tidak ditemukan di negara-negara Arab […] Pulau-pulau di Indonesia telah menunjukkan keunggulan yang luar biasa yang tidak dimiliki oleh dunia Islam lainnya. Mereka memiliki suara yang bersatu […] Selama beberapa bulan terakhir, Belanda berusaha sekuat tenaga untuk menciptakan perbedaan di antara mereka, tetapi tidak berhasil. Sangat disayangkan, negara-negara Islam lainnya tidak merasakan indahnya persatuan […].

“Singapura adalah kunci bagi negara-negara Asia, dan itu pun tidak dapat dipisahkan dari kepulauan [Indonesia] karena Singapura adalah bagian dari kepulauan ini dalam hal ras dan bahasa. Dan jika Singapura berada dalam cengkeraman sebuah negara, maka negara-negara lain akan merasa terdorong untuk berdamai dengannya.” (Al Fazl, 27 Agustus 1946, hal. 3)

Hudzur ra. melanjutkan:

“Jika pulau-pulau ini merdeka, mereka dapat menjadi sumber yang sangat besar untuk menyebarkan ajaran Islam dan keagungan Islam. Namun sayangnya, negara-negara Islam lainnya hanya menyuarakan suara yang sangat minim dalam mendukung pulau-pulau ini, dan menunjukkan simpati yang sangat kecil untuk mereka. Ini adalah daerah di mana umat Islam adalah mayoritas […] Umat Islam harus mengerahkan segala upaya yang mungkin untuk membantu daerah ini, dan menuntut kemerdekaan mereka dari Belanda […]

“Kebutuhan yang sangat mendesak pada saat ini adalah bahwa umat Islam harus mengangkat suara mereka untuk mendukung saudara-saudara mereka [Indonesia], dalam surat kabar, majalah dan pertemuan-pertemuan mereka, dan menuntut kemerdekaan mereka. Jika mereka tidak dibantu dan didukung sekarang, maka saya khawatir Belanda akan benar-benar menekan suara [orang Indonesia].” (Ibid)

Hudzur ra. menekankan bahwa masa depan politik umat Islam Asia terkait dengan masa depan umat Islam di Jawa dan Sumatra karena tidak ada negara lain yang memiliki umat Islam yang bersatu dalam jumlah yang begitu besar seperti Indonesia. Selain itu, pulau-pulau ini dapat terbukti sangat bermanfaat untuk menjalin hubungan baik dengan negara-negara lain melalui jalur laut.

Hudzurra. melanjutkan:

“Para mubaligh kita yang berada di berbagai negara harus menyuarakan suara mereka [untuk kemerdekaan Indonesia] dan menulis artikel di berbagai majalah dan koran yang mendukung Indonesia. Adalah tugas surat kabar dan majalah kita sendiri untuk menyuarakan hal ini berkali-kali sebanyak mungkin, sehingga semua umat Islam mulai mendukung kemerdekaan Indonesia, yang mengetahui hal ini melalui surat kabar dan majalah kita […]

Presiden pertama Indonesia, Dr AR Soekarno (kiri) bertemu dengan para mubaligh Ahmadiyah di Indonesia, Syed Shah Muhammad Sahib dan Hafiz Qudratullah Sahib

“Para misionaris kami hadir di lima negara Eropa. Mubaligh kita hadir di Amerika Utara dan Selatan. Jika para anggota Jemaat memahami tugas mereka, saya pikir mereka pasti akan berhasil dalam tujuan ini dengan karunia Allah Ta’ala. Artikel-artikel seperti itu harus diterbitkan secara teratur di surat kabar dan majalah kita, yang menyatakan bahwa rakyat Jawa dan Sumatera memiliki hak untuk mendapatkan kemerdekaan.

“[Indonesia] adalah negara yang maju dalam hal pendidikan dan industri, dan bangsa yang lebih kecil seperti Belanda tidak berhak memerintah negara yang begitu besar dengan jumlah penduduk yang begitu banyak. Manfaat pertama dari kehadiran pemerintah asing seharusnya adalah melindungi negara yang diperintah, tetapi pemerintah Belanda tidak mampu melindungi Indonesia dari serangan asing.” (Ibid, hal. 4)

Hudzur ra. lebih lanjut menyatakan bahwa artikel-artikel seperti itu harus diterbitkan di surat kabar dan majalah yang harus diberitahukan kepada Belanda:

“Jika mereka tidak memberikan kemerdekaan kepada Indonesia, maka ada bahaya bahwa komunisme akan menyebar di sana, yang akan berbahaya bagi semua pemerintah lainnya juga […] Tindakan Anda memberikan kemerdekaan kepada Jawa dan Sumatra, tidak akan melemahkan Anda; sebaliknya, hal itu akan menjadi sumber kekuatan […] Jika Anda memberikan kemerdekaan kepada mereka dengan cinta dan perdamaian, hal itu akan menanamkan perasaan cinta kepada Anda di dalam hati mereka. Tetapi jika Anda menindas mereka, itu akan menciptakan dendam yang parah terhadap Anda di dalam hati mereka begitu mereka mendapatkan kemerdekaan dari Anda.” (Ibid, hal. 5)

Hudzur ra. melanjutkan:

“Kami tidak tertarik pada masalah politik, sebaliknya kami lebih tertarik pada dakwah. Namun, kami akan mengerahkan segala upaya yang mungkin dilakukan setiap kali masa depan Islam menjadi perhatian kami […] dan sesuai dengan kebutuhan, kami akan terus mengembangkan upaya kami […] Jika alasan di balik simpati khusus kami terhadap [dunia] Arab adalah karena kami telah mempelajari Islam dari orang-orang Arab, maka alasan di balik simpati khusus kami terhadap Indonesia adalah karena setelah India, wilayah ini berada di garis depan dalam menerima Ahmadiyah. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengerahkan segala upaya yang mungkin untuk kemerdekaan negara ini.” (Ibid)

Masjid Nasr, Indonesia

Kemudian, dalam Khotbah Jumat pada 30 Agustus 1946, Hazrat Muslih Mau’ud ra. menyatakan:

“Keadaan yang dihadapi oleh umat Islam saat ini sangat suram. Identitas kaum Muslimin di tempat-tempat seperti India, Palestina, Mesir, Indonesia berada dalam bahaya besar […] Pemerintah Belanda tidak meninggalkan satu langkah pun untuk memperbudak kaum Muslimin di Indonesia […] Jadi, semua anggota [Jemaat] hendaknya secara khusus berdoa pada hari-hari ini. Umat Islam lainnya [non-Ahmadi] juga harus didesak untuk mulai berdoa, karena tidak ada jalan lain bagi umat Islam. Sampai umat Islam menyingkir dari keduniawian dan mengejar kemewahan dan bersatu untuk mempersembahkan semua jenis pengorbanan […] kesuksesan tidak mungkin terjadi.” (Al Fazl, 10 September 1946, hal. 2)

Dalam Khotbah Jumatnya pada 18 Oktober 1946, Hudzur ra. menyatakan:

“Awalnya, Jepang telah menduduki Sumatera dan Jawa, kemudian pemerintah Indonesia yang berdaulat didirikan. Kemudian, Inggris mencoba membawa Belanda ke sana [lagi], dan sekarang pemerintahan republik didirikan di sana. Ada banyak cobaan bagi Jemaat kita juga, dan selama masa pendudukan Jepang, para Ahmadi telah diperlakukan dengan kasar […] Ketika mereka telah dengan tegas mengungkapkan niat mereka terhadap Jamaat Ahmadiyah, tiba-tiba Allah Ta’ala membubarkan pemerintahan mereka, dan pemerintahan republik didirikan di Indonesia […]

Penyerahan Resmi Jepang, Teluk Tokyo, 2 September 1945

“Selama masa pemerintahan republik dan bahkan sebelum itu, ketika orang-orang hanya berjuang untuk perlindungan hak-hak individu mereka, Jemaat kami mendukung gerakan republik, dan mengerahkan upaya untuk kemerdekaan negara. Untuk alasan ini, ketika pemerintah republik didirikan setelah penarikan Jepang, perlakuan terhadap Jemaat kita secara keseluruhan baik.” (Al Fazl, 13 November 1946, hal. 1)

Dalam Khotbah Jumat pada 10 September 1948, ketika menjelaskan masalah-masalah yang dihadapi oleh dunia Muslim, Hudzur ra. menyatakan bahwa satu-satunya solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut adalah persatuan umat Islam. (Al Fazl, 28 September 1948, hal. 4)

Melalui Perjanjian Linggadjati tanggal 15 November 1946 – yang ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 – Belanda setuju untuk menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia pada waktunya. Pada bulan Juli 1947, Belanda, dalam upaya untuk menyelesaikan masalah dengan paksaan, memulai tindakan polisi terhadap republik, dan sekali lagi pada bulan Desember 1948. Akhirnya, Belanda setuju pada bulan Agustus 1949 untuk menyerahkan kedaulatan kepada Indonesia pada bulan Desember 1949. (www.britannica.com/place/Indonesia/Toward-independence)

Sutan Sjahrir (perdana menteri pertama Indonesia) dan Willem Schermerhorn (mantan perdana menteri Belanda) menyusun Perjanjian Linggadjati | Wiki Commons

Dalam Khotbah Jumat pada 11 Februari 2011, ketika menyebutkan jasa-jasa Jemaat untuk kemerdekaan Indonesia, Hazrat Khalifatul Masih V aba. menyatakan:

Hazrat Muslih Mau’ud ra. menyuarakan suara yang kuat dari anak benua India yang mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia, dan mendesak umat Islam lainnya untuk mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Hazrat Khalifatul Masih IIra dalam Khotbah Jumatnya pada tanggal 16 Agustus 1946. Mengikuti petunjuk ini, misi-misi Ahmadiyah di seluruh dunia, di samping pers pusat Qadian, diminta untuk mengangkat suara mereka untuk mendukung gerakan kemerdekaan Indonesia. Akhirnya, Indonesia memperoleh kemerdekaan […].

“Para mubaligh Ahmadiyah dan para Ahmadi [Indonesia] lainnya ikut ambil bagian dalam gerakan kemerdekaan di bawah bimbingan Hazrat Khalifatul Masih IIra, dan para mubaligh Ahmadiyah serta para anggota Jemaat [Indonesia] bekerja sama dengan pemerintah Republik.

“Syed Shah Muhammad Sahib pergi ke Yogyakarta dan bertemu dengan Ir. Soekarno dan memintanya agar beliau mau mengabdi kepada negara dengan bergabung dalam gerakan kemerdekaan. Dia juga seorang misionaris. Selain beberapa pekerjaan lainnya, Presiden Soekarno memberinya tugas untuk menyiarkan berita dalam bahasa Urdu di radio. Selain itu, Maulwi Abdul Wahid Sahib dan Malik Aziz Ahmad Khan Sahib juga bekerja di radio selama sekitar dua atau tiga bulan.


“Syed Shah Muhammad Sahib dengan antusias bergabung dengan gerakan ini. Antusiasme beliau begitu besar sehingga seorang mantan menteri dalam negeri [Indonesia] mengatakan, ‘Kami mengakui Syed Shah Muhammad Sahib sebagai anggota bangsa kami sendiri. […] Sebagai pengakuan atas peran yang dimainkan oleh Syed Shah Muhammad Sahib selama pergerakan kemerdekaan Indonesia dan jasa-jasa yang diberikan olehnya, Indonesia memberinya sertifikat pengakuan pada tanggal 3 Agustus 1957 […]

“Selama pergerakan kemerdekaan pada tahun 1946, beberapa anggota Ahmadiyah mengorbankan nyawa mereka dan menjadi martir. Salah satunya adalah Raden Muhyiddin Sahib, presiden Jemaat Indonesia, yang juga merupakan sekretaris Komite Indonesia. Beliau sedang sibuk mempersiapkan perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang pertama, ketika beliau diculik oleh pasukan Belanda, dan kemudian syahid.” (Khutbat-e-Masroor, Vol. 9, hal. 67-68)”

Jemaat Ahmadiyah memainkan peran besar dalam kemerdekaan Indonesia, dan para Ahmadi Indonesia terus mengabdi kepada negara mereka, meskipun menghadapi penentangan keras dari orang-orang senegaranya.

Diterjemahkan dari :
https://www.alhakam.org/jamaat-e-ahmadiyyas-role-in-indonesias-independence-from-the-dutch/