Gerhana Bulan dan Matahari dalam Bulan Ramadhan Pertanda Turunya Imam mahdi?

1347
Tentang gerhana bulan dan matahari ini erat kaitannya dengan kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman ini, karena di dalam Al-Quran dan Hadist, bahkan di dalam Bible pun disebutkan nubuwatan tentang gerhana ini yang akan menjadi tanda kedatangan Al-Mahdi Al-Mauud di akhir zaman.

Jika kita berbicara tentang kusuf[1] dan khusuf[2] pastinya sebagai seorang Ahmadi yang telah meyakini dan berbaiat[3] pada Imam akhir zaman kita sudah tidak asing soal kusuf dan khusuf ini.

Tentang gerhana bulan dan matahari ini erat kaitannya dengan kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman ini, karena di dalam Al-Quran dan Hadist, bahkan di dalam Bible pun disebutkan nubuwatan tentang gerhana ini yang akan menjadi tanda kedatangan Al-Mahdi Al-Mauud di akhir zaman. Di dalam Al-Quran  Allah Ta’ala berfirman:

وَخَسَفَ ٱلۡقَمَرُ وَجُمِعَ ٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُ

Dan apabila bulan telah hilang cahayanya. Dan matahari dan bulan dikumpulkan[Al-Qiyamah ayat 9-10]

Berkenaan dengan ayat ini jika kita baca tafsir Hadhrat Masih Mauud as dan Hadhrat Muslih Mauud ra, dikatakan bahwa ayat ini merupakan isyarat yang tertuju kepada gerhana bulan dan matahari yang terjadi bersamaan pada bulan Ramadhan sebagai tanda kedatangan Imam Mahdi akhir zaman. Tidak hanya dalam Al-Quran, tentang gerhana bulan dan matahari ini dinubuwatkan dalam Bible juga dikatakan bahwa:

Segera sesudah siksaan pada masa itu matahari akan menjadi gelap. Dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan digoncangkan[Matius 24:29]

Nubuwatan dalam Bible tersebut merujuk kepada gerhana bulan dan matahari yang mejadi tanda kedatangan Al-Masih yang kedua kali di akhir zaman. Kemudian lebih lanjut bahwa sebuah hadist menubuwatkan tentang kedatangan Imam Mahdi di akhir zaman, dan ada hubungannya dengan gerhana bulan dan matahari yang terjadi pada bulan Ramadhan. Dalam kitab Shahih Daru Al-Qutni, dimana Imam Muhammad Baqir bersabda:

اِنَّ لِمَهْديِّنَا آيَتَيْنِ لَمْ تَكُوْنَا مُنْذُ خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَ الْاَرْضِ تَنْكَسِفُ الْقَمَرُ لِاَوَّلِ لَيْلَةٍ مِّنْ رَمَضَانَ وَ تَنْكَسِفُ الشَّمْسُ فِى النِّصْفِ مِنْهُ وَ لَمْ تَكُوْنَا مُنْذُ خَلَقَ اللهُ السَّمَوَاتِ وَالْاَرْضَ

 “sesungguhnya Bagi Mahdi kami telah ditetapkan dua buah Tanda yang belum pernah zahir  semenjak langit serta bumi diciptakan,    bulan akan gerhana di bulan Ramadhan pada malam pertama (dari malam-malam yang telah ditetapkan baginya) dan matahari akan gerhana pada pertengahan (dari hari-hari yang sudah ditentukan baginya). Dan ini adalah Tanda yang belum pernah zahir   pun semenjak Allah menciptakan langit dan bumi” [Sunan Darul Quthni/ Jilid I /kitab al-‘idain/bab shifat shalat al-khusuf wa al-kusuf/no.1777 /dar al-kutub al-‘ilmiyyah/Beirut -libanon/1996 M]

Sangat jelas hadist di atas menyebutkan bahwa tanda kedatangan Imam Mahdi ditandai dengan adanya dua gerhana, yaitu gerhana bulan dan gerhana matahari pada satu bulan Ramadhan. Nubuwatan ini telah terpenuhi dan telah terjadi di masa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as yang mana beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi pata tahun 1891 Masehi dan pada tahun 1894 Masehi tanda agung tentang kedatangan Imam Mahdi as yaitu terjadinya gerhana bulan terjadi pada malam pertama yaitu pada hari kamis tanggal 13 ramadhan tahun 1311 Hijriyah atau bertepatan dengan tanggal 22 Maret 1894 Masehi dan gerhana matahari pada hari jumat tanggal 28 ramadhan 1311 Hijriyah atau bertepatan tanggal 6 April 1894 Masehi.

Dua penentang menunjukan setidaknya tiga keberatan terhadap pendakwaaan Masih Mauud as sebagai Imam Mahdi yang ditandai dengan terjadinya gerhana bulan dan matahari tersebut.

Mereka mengatakan kalimat hadist menyebutkan bahwa gerhana bulan akan terjadi pada malam pertama (awal bulan) dan gerhana matahari  pada pertengahannya. Namun yang terjadi tidaklah sesuai dengan keinginan mereka yang menganggap bahwa gerhana bulan seharusnya terjadi pada malam hilal yang merupakan malam pertama bulan qomariyah. Sedangkan gerhana matahari seharusnya terjadi pada tanggal 15 bulan qomariyah atau pertengahan Ramadhan. Berkenaan hal ini Hadhrat Masih Mauud as menjelaskan di dalm salah satu kitabnya yaitu haqiqatul wahyu beliau bersabda yaitu: Anggapan mereka itu keliru karena sejak awal dunia, berdasarkan hukum takdir  Allah Ta’ala kejadian gerjana bulan adalah tiga malam, yaitu pada malam-malam ke 13, 14, 15 adapaun malam pertama gerhana bulan yang sesuai dengan hukum  Allah Ta’ala itu berarti malam ke 13 pada bulan qomariyah. Adapun peristiwa gerhana matahari menurut ketentuan ilahi dapat terjadi dalam tiga hari yaitu tanggal-tanggal 27, 28, 29 dari ketiga hari-hari gerhana matahari itu, berdasarkan system penaggalan qomariah hari ke 28 adalah hari pertengahannya. Jadi terjadinya gerhana-gerhana sebagai tanda datangnya Imam Mahdi pada tahun 1894 itu persis dengan hadist diatas.

Keberatan kedua adalah apakah yang luar biasa dari gerhana tersebut? Apakah pada bulan Ramadhan tidak pernah terjadi gerhan bulan dan matahari? Beliau as menjelaskan bahwa maksud hadist ini adalah bukan lah bahwa kedua gerhana ini tidak pernah terjadi bersamaan dalam satu bulan Ramadhan, melainkan kedua gerhana ini tidak pernah terjadi bersamaan saat kemunculan pendakwaan risalah dan kenabian. Kita tahu bahwa para ulama pada waktu itu yang meminta tanda atau bukti tentang kebenaran Hadhra Masih Mauud as dan beliau mendakwakan diri pada tahun 1891 dan tandanya sebagaimana dalam hadist tergenapi apda tahun 1894.

Keberatan ketiga, dikatakan bahwa hadist tersebut dhaif, beliau as menjelaskan bahwa sebelum beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi tidak ada yang mendhaifkan hadist ini, namun mengapa setelah beliau mendakwakan diri dikatakan dhaif?.

Dan perlu diingat juga pada awalnya yang meminta tanda ini, adalah para ulama pada zaman itu yang mana mereka tidak percaya atas pendakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as sebagai Imam Mahdi. Namun setelah tanda tersebut tergenapi mereka malahan mencari-cari alasan untuk tidak membenarkan pendakwaan beliau. Hadhrat Masih Mauud as bersabda: “Aku juga bersumpah demi  Allah Ta’ala bahwa kau adalah Al-Masih yang dijanjikan oleh para nabi, terdapat kabar tentangku dan zamanku di dalam Taurat, Injil dan Al-Quran, bahwa akan terjadi gerhana di langit, wabah bahwa yang meliputi bumi”. (Dafiaul Bala). Jazakumullah!


Ditulis Oleh : Tata Rosada

catatan kaki

[1] Gerhana Bulan

[2] Gerhana Matahari

[3] Janji setia kepada pemimpin