Mensyukuri Kehadiran Ramadhan dengan Tak Sekadar Kata dan Cinta

174

Alhamdulillah, bersyukur dapat berjumpa  kembali dengan Ramadhan di tahun ini

Sebaris kalimat ini kiranya begitu ramah di telinga. Mengapa tidak, umat muslim yang menanti-nanti hadirnya Ramadhan sejatinya bersyukur atas karunia umur panjang hingga dapat berjumpa dan menikmati kembali keberkahan Ramadhan di tahun ini. Menelisik lebih dalam terkait syukur, seperti apakah syukur yang sebenar-benarnya? Apakah cukup hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah? Atau mungkin hanya dengan mengucapkan terima kasih kepada Allah?

Pemimpin rohani Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hz.Mirza Masroor Ahmad Aba menjelaskan terkait syukur:

Syukur adalah bahwa seluruh keberadaan seseorang harus bersujud di hadapan Allah dalam kerendahan hati dan mengekspresikan cintanya untuk-Nya; melakukan upaya untuk mendapatkan cinta itu; mengakui bahwa setiap berkat dalam hidupnya memang berasal dari-Nya; menyatakan pujian dan kemuliaan Allah dengan kata-kata di lidah; dan memanfaatkan karunia-Nya sehingga menjadi sumber untuk mendapatkan keridhaan Allah.

Point yang pertama dan begitu penting dari penjelasan syukur ini adalah terkait kerendahan hati. Bagaimana manusia harus benar-benar dalam kerendahan hati dapat mengakui bahwa segala sesuatu yang hadir dalam hidupnya bukan semata-mata hasil upayanya saja. Sebaliknya, hanya semata karunia-Nya. Bahkan, untuk sekadar mengkancingkan bajunya saja manusia tidak akan mampu tanpa karunia Allah Ta’ala. Kemudian, pengakuan tak ada daya dan upaya selain karunia Allah Ta’ala, diungkapkan dalam bentuk kata dan cinta kepada-Nya. Berterima kasih atas segala yang dimiliki, kekuatan yang diberikan dalam menghadapi ujian dan cobaan, hingga nikmat iman, islam, dan kesehataan yang tak terhitung nilainya.

Setelah kata dan cinta dipanjatkan untuk memuji kebesaran-Nya, rasa syukur pun menanti pembuktian yang nyata. Bagaimana segala karunia yang turun dari Allah Ta’ala dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk mencapai keridhaan Allah Ta’ala. Sebut saja nikmat iman, islam, dan kesehatan, dapat dibuktikan rasa syukur dengan terus mecoba berupaya bagaimana menjadi seorang muslim yang baik yang senantiasa mengikuti segala perintah-Nya, juga mengoptimalkan kesehatan yang dimiliki untuk berupaya memberikan manfaat bagi yang lain. Jadi, tak sekadar kata, syukur dinanti untuk ditunaikan dalam bentuk langkah nyata.

Dan Ramadhan ini, disaat umat muslim begitu bersyukur akan kehadirannya, tak sekadar kata dan cinta, langkah nyata bentuk syukur pun dapat diungkapkan dengan berbagai macam cara. Dengan banyak melakukan ibadah kepada-Nya, hingga mencoba berbagi dan bermanfaat bagi yang lain. Hablumminallah hingga hablumminannas seolah semakin diasah di bulan suci ini.

Begitu banyak pengamalan bentuk syukur yang dapat dilakukan. Pun begitu banyak kata dan cinta penuh syukur dapat dipanjatkan kepada-Nya atas segala karunia yang telah Dia berikan. Namun kiranya, semua itu masih belum sebanding dengan apa yang telah Allah Ta’ala berikan kepada manusia. Jika manusia mencoba menghitung berapa banyak nikmat yang Tuhan berikan, sejatinya begitu banyak dan tak akan mungkin terhitung nilainya. Namun terkadang, karena sifat manusia yang selalu merasa tidak cukup, ingin ini dan itu, berharap lebih dan jauh dari kenyataan bagai pungguk merindukan bulan, membuatnya menjadi sulit bersyukur hingga luput mensyukuri hal-hal kecil yang telah Allah Ta’ala berikan. Pada akhirnya menjadi kufur nikmat. Naudzubilahimindzalik.

Padahal, diceritakan dalam tradisi hadits bahwa Rasulullah Saw akan menghitung semua berkat dan karunia Allah Ta’ala pada hari itu sebelum tidur di malam hari. Dan akan bersyukur kepada Allah Ta’ala untuk semua nikmat-Nya dan akan memuji Allah, yang telah memberikan kepada beliau kebaikan dan rahmat-Nya dan telah menganugerahkan kepada beliau karunia-karunia dalam kehidupan beliau.

Rasulullah Saw saja setiap harinya menghitung betapa banyak karunia Alllah Ta’ala yang turun kepadanya, namun manusia? alih-alih menghitung, yang ada terus meminta tanpa mensyukuri apa yang telah dimiliki.

Sejatinya, dengan kerendahan hati dan kemauan untuk menyadari berbagai hal yang telah  dimiliki bahkan dari hal yang terkecil sekalipun, sebut saja seperti udara, air, hingga kehidupan yang Allah Ta’ala berikan, seolah sekilas nampak sepele dan luput untuk disyukuri, namun sejatinya begitu berarti. Ya, pada akhirnya, tanpa disadari begitu banyak alasan untuk bersyukur kepada-Nya.

Teringat sabda Hz.Mirza Masroor Ahmad Aba

Janganlah melihat ke bumi (duniawi), Anda harus berusaha untuk melihat ketinggian di langit (kerohanian) dan ketika ini terjadi, maka kita bisa bersyukur kepada Allah, yang juga ketika slogan dan semua perbuatan anda akan menuai hasilnya untuk mendapatkan keridhaan Allah.”

Benar memang, ketika melihat duniawi kiranya hasrat untuk memenuhi segala keinginan bukan kebutuhan terus menjadi tuntuan. Layaknya rumput tetangga yang lebih hijau, dan diatas langit masih ada langit, kepuasan seolah sulit didapatkan hingga luput untuk mensyukuri.

Selagi masih ada waktu, sebelum Ramadhan ini pergi meninggalkan, mari berupaya mensyukuri kehadirannya dengan tak sekadar kata dan cinta, namun dengan bukti nyata mengoptimalkan segala karunia yang dimiliki semata untuk mencapai Ridha-Nya.


Ditulis Oleh : Mutia Siddiqa Muhsin
Referensi: https://ahmadiyah.id/khotbah/bersyukur-yang-sebenar-benarnya