Kerja Keras tak Mengenal Batas

372

Kerja Keras merupakan bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencapai tujuan atau prestasi. Seberapa besar yang kita kerjakan sebesar itu pula yang kita dapatkan. Contohnya dalam dunia perkuliahan, belajar dengan bersungguh- sungguh, akan mendapatkan hasil yang maksimal. Jika kita konsisten dalam pancapaian setiap semester dengan hasil yang memuaskan, otomatis nilai akhir yang didapatkan untuk mencapai prestasi lulusan terbaik pun bukan hal yang mustahil di dapatkan.

Kemudian, disertai dengan berserah diri (tawakkal) kepada Allah SWT baik untuk kepentingan dunia maupun akhirat. Usaha tanpa doa merupakan hal yang sombong. Bagaimana tidak, untuk mendapatkan pencapaian yang diinginkan dengan sempurna tentu saja harus diingat, dari manakah datangnya kesuksesan jika tidak dari Allah Maha Pemberi Rezeki maupun kenikmatan. Sebab usaha dan doa adalah hal yang tidak dapat di pisahkan.

Karena doa merupakan permohonan kita kepada Allah SWT. Atas apa yang ingin dicapai dan keberhasilan apa yang ingin di raih. Sedangkan usaha adalah pembuktian kesungguhan kita akan permohonan yang dipanjatkan. Memanjatkan do’a sebanyak-banyaknya disertai dengan meningkatkan mutu ibadah yang lebih baik juga berusaha untuk meraih kedudukan lebih dekat dengan Allah Ta’ala. Banyak sekali orang-orang yang memperoleh ketenteraman disebabkan mereka banyak memanjatkan doa dan telah berhasil meraih kedekatan/qurb Allah Ta’ala.

Mereka telah menyaksikan sempurnanya firman Tuhan ’fa-innii qariib’ – “Sesungguhnya Aku ini dekat dengan kalian!” Semuanya menjadi sarana yang sangat baik bagi kita untuk meraih kemaqbulan doa-doa dan untuk meraih qurb Allah Ta’ala. Untuk memperlancar atau mempermudah ikhtiar kita mencapai keberhasilan, kita perlu dan bahkan harus melakukan doa sebagai usaha batiniah.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al Mukmin, ayat 60: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Artinya: “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doa-mu”. Allah SWT akan memberikan jawaban atau merespons apa yang menjadi keinginan atau usaha kita, kalau kita berdoa kepada-Nya. Hikmah berdoa kepada Allah SWT dalam kaitannnya dengan ikhtiar adalah bahwa doa akan mendekatkan kita kepada Allah SWT, dan karenanya akan memperlancar tercapainya apa yang kita usahakan.

Namun, jika kita merasa doa-doa kita belum juga terjawab, teruslah berdoa sampai doamu itu dikabulkan. Karena semuanya butuh proses. Pendiri Ahmadiyah menggambarkan bahwa doa itu bagaikan seorang ibu yang sedang hamil. Beliau bersabda:

“Bila seorang wanita hamil setelah empat atau lima bulan menjadi tidak sabaran untuk melihat anaknya dan mengupayakan melahirkan cepat dengan bantuan obat-obatan, tidak saja anaknya tidak akan lahir hidup tetapi ia sendiri juga akan mengalami kekecewaan berat. Begitu pula dengan orang-orang yang tidak sabar melihat hasil sebelum waktunya, bukan saja ia akan merugi tetapi juga membahayakan keimanannya sendiri. Dalam keadaan demikian itu orang lalu menjadi atheis”

Jadi, jangan pernah menanggap bahwa apa yang sudah kita lakukan merupakan hal yang sia sia jika tidak mencapai tujuan yang tidak sesuai. Sebab usaha / kerja keras yang sudah kita lakukan masih awal proses untuk menciptakan rasa usaha yang tinggi untuk mencapai sesuatu yang selanjutnya.

Percayalah dengan prosesmu.

Apa yang sudah kamu lewati sampai saat ini. Apa yang sudah kamu miliki sampai detik ini. Setiap langkah sulit yang sudah kamu pilih, jalani dan lewati. Semua itu akan kamu rasakan dampak baiknya. Percayalah dengan prosesmu. Karena jika dirimu tidak percaya diri. Bagaimana orang lain bisa percaya padamu?

Kamu sudah berjuang.

Kamu masih berjuang.

Bahkan sampai detik ini. Mungkin dirimu berpikir bahwa hasil usahamu belum sesuai dengan apa yang kamu harapkan. It`s okey, Kamu hanya harus berproses lebih baik lagi dan lagi. Sampai suatu saat kamu merasa, bahwa kamu sudah berada dipuncak pencapaian terbaik dalam hidupmu.


Penulis : Dedus Lihoko

Referansi  :

Kewajiban Para Tamu dan Penerima Tamu (alislam.org)

Mengapa Pengabulan Doa Kita Tertunda? – islamkukeren.id

Trilogi: Usaha, Doa, dan Tawakal | NU Online

Inti Ajaran Islam hlm. 185