Mirza Ghulam Ahmad, Pecinta Sejati Rasulullah Saw

68

Siap aku menyerahkan nyawa dan kalbu

Bagi keindahan Sang Muhammad saw.

Tubuhku hanyalah semata debu di jalan

Yang dilintasi keturunan Muhammad saw.

Aku telah melihat dengan mata kalbuku

Dan mendengar dengan telinga yang tajam

Lantunan keindahan Muhammad saw.

Yang melantun ke segenap arah.

Air yang mengalir abadi yang kubagikan

Secara percuma kepada makhluq Ilahi

Hanyalah setitik dari samudera

Kesempurnaan Muhammad saw.

Api yang membakar dalam diriku

Adalah api kecintaan kepada Muhammad saw.

Air yang kumiliki

Berasal dari sumber suci Muhammad saw.

(Majmua Ishtiharat, vol. 1, hal. 97)

4 bait syair yang begitu indah, sarat akan sanjung puji pada keagungan Rasulullah Saw ini, begitu menyentuh kalbu. Tersirat jelas, begitu cintanya sang penulis syair kepada Rasulnya. Dan tak hanya sekedar cinta, begitu merendahnya sang penulis, yang tak mungkin dapat dibandingkan sedikitpun dengan Rasulullah Saw. Siapa gerangan sosok penulis itu? Mungkinkah orang yang dianggap penghina Rasulullah Saw, mampu menuliskan sanjung puji yang begitu menyentuh untuk Rasulullah Saw?

Sayangnya benar, dia yang selama ini dianggap penghina Rasulullah Saw, bahkan dia yang selama ini dianggap mengambil alih kedudukan Rasulullah Saw adalah sang penulis yang dengan segala kerendahatiannya begitu larut dalam kecintaan kepada Rasulullah Saw. Ya, Mirza Ghulam Ahmad , sang pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, adalah salah satu sosok yang banyak menceritakan, menggambarkan, bahkan mengingatkan para pengikut Ahmadiyah untuk senantiasa menjaga kecintaannya pada Rasulullah Saw. Tak hanya sekedar cinta, dengan segala upaya, para pengikut Ahmadiyah pun diarahkan melalui Sang Pendiri Ahmadiyah hingga para Khalifahnya untuk senantiasa mengikuti apa yang dicontohkan oleh Sang Uswatun Hasanah, Rasulullah Saw.

Selaras pada firman Allah Swt dalam Surah Ali Imran ayat 32 yang artinya:

 ”Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintaimu dan akan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Sebaris ayat ini pun, senantiasa diingatkan oleh sang pendiri Jemaat Ahmadiyah, bahwa tujuan untuk memperoleh kecintaan kepada Allah Taala, tidak mungkin akan tercapai kecuali dengan mengikuti Rasulullah Saw. Allah Taala akan mengampuni dosa – dosa hamba yang dengan segala kerendahatiannya mengikuti dan mencintai Rasulullah Saw, dan tak pelak cinta-Nya pun akan menyertainya.

Begitu dalam cinta Mirza Ghulam Ahmad kepada Rasulnya, hingga pangkat yang dianugerahkan kepada beliau pun merupakan buah hasil kecintaan sebagai hamba sejati Rasulullah saw, yang sepenuhnya mengabdi dan memenuhi misi Sang Uswatun Hasanah.

Tak sekedar itu, sang pendiri Ahmadiyah dan para Khalifahnya pun seringkali mengingatkan para pengikut Ahmadiyah untuk senantiasa membaca Shalawat. Masih teringat jelas, bagaimana Khalifah Muslim Ahmadiyah saat ini, Mirza Masroor Ahmad menyampaikan dalam Khutbah Jum’atnya:

“Bahwa kita harus menjadikan pengiriman salam dan shalawat kepada Nabi (saw) sebagai kebiasaan rutin dalam hidup kita. Tidak hanya agar doa-doa kita terkabul, tetapi agar kita dapat memantapkan kesucian sepanjang hidup kita, sehingga kita dapat mencapai kedekatan dengan Tuhan dan meningkatkan spiritualitas kita. Kita seharusnya tidak hanya mengklaim telah menerima hamba sejati Nabi Muhammad (saw), melainkan juga harus mencerminkan dalam tindakan kita”

Ya, tak hanya Shalawat yang memang harus dijadikan sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari – hari. Mirza Masroor Ahmad pun menitik beratkan Shalawat yang harus dibacakan, dengan tujuan yang tidak hanya sekedar agar do’a dapat terkabul, namun lebih dari itu, agar kesucian diri dapat terjaga, hingga dengannya, dapat mendekatkan diri kehadirat Ilahi.

Teringat apa yang pernah disabdakan oleh Sang Pendiri Jemaat Ahmadiyah:

“Aku ini bukan apa-apa dan tidak memiliki apa pun. Aku akan menjadi orang yang tidak bersyukur jika aku tidak mengakui bahwa aku mendapat ma’rifat ketauhidan Ilahi melalui Rasul ini”   

Sejatinya, tersirat jelas bagaimana pendiri Jemaat Ahmadiyah hingga para Khalifahnya begitu larut dalam kepatuhan, kecintaan, hingga ketulusan hati kepada Rasulullah Saw. Lalu,  masih pantaskah mereka termasuk kedalam golongan yang dianggap menghina Rasulullah Saw? Naudzubilahimindzalik.


Oleh               :

Mutia Siddiqa Muhsin

Referensi      :

Buku Muhammad Menurut Mirza Ghulam Ahmad

Khutbah jum’at Hz. Khalifatul Masih Al Khaamis Aba tanggal 30 April 2021

Sumber gambar:

https://kalam.sindonews.com/read/202784/70/pancaran-cahaya-wajah-mulia-baginda-rasulullah-1603210208