Pentingnya Mendidik Anak soal Seks

353

Baru-baru ini, netizen ramai memperbincangkan tentang keputusan salah seorang artis dalam memberikan pendidikan seks kepada anak-anaknya. Saya tidak ingin ikut mengomentari kehidupan orang, namun ada hal menarik yang dapat kita renungkan bersama tentang pendidikan seks. Sebelum membahas lebih jauh, jika melihat kata seks apa yang ada dalam benak anda? Berhubungan intim? Gender? Atau alat kelamin? Baiklah, simpan dahulu apapun yang ada dalam benak anda sekarang, dan luangkan waktu sejenak membaca kisah nyata ini.

Kisah pertama, sebut saja Mawar. Dia adalah seorang siswi SMA di kota X. Beberapa minggu menjelang Ujian Akhir, Mawar enggan mengikuti kelas olahraga. Dia hanya duduk di pojok lapangan melihat temannya beraktivitas. Berbagai cara dilakukan guru olahraganya agar dia mau mengikuti kegiatan pembelajaran. Namun Mawar tetap tak bergeming, duduk diam di pojok lapangan.

Guru olahraganya meminta bantuan guru BK untuk mengadakan mediasi dengan Mawar. Selidik punya selidik, Mawar tengah berbadan dua. Guru BK ini kaget, bukan karena berita kehamilannya, tetapi karena Mawar sudah menyembunyikan kehamilan ini selama 6 bulan dengan cara membelitkan setagen ke perutnya setiap sekolah. Janin itu harus merasakan tekanan akibat lilitan setagen selama Mawar sekolah, dan ternyata orang tua Mawar pun tahu akan hal ini. Justru merekalah yang menyarankan agar Mawar mengenakan setagen selama di sekolah karena khawatir anaknya dikeluarkan dari sekolah jika ketahuan hamil.

Kisah kedua juga datang dari siswi SMA, namun dia berasal dari kota Y, kota yang berjauhan jaraknya dengan kota X ibarat Sabang dan Merauke. Melati panggilan akrabnya. Dia terkenal sering menguji kesabaran para guru dengan berbagai tingkahnya. Suatu hari saat pihak sekolah mengadakan razia, Melati ketahuan membawa HP yang isi galeri hp nya dipenuhi oleh gambar mesranya bersama sang kekasih. Bahkan video adegan dewasa yang dilakukan mereka terekam dengan jelas dan disimpan di galerinya.

Pihak sekolah langsung memanggil orang tua Melati. Kira-kira apa reaksi orangtuanya? Tak disangka alih-alih terkejut, mereka justru tertawa tanpa ada rasa bersalah terpancar dari raut wajahnya. Dapat anda bayangkan bagaimana perasaan para guru saat itu. Orang tua Melati tertawa karena memanggap itu hal biasa, dan mereka bersyukur karena merasa berhasil mendidik anak sehingga anaknya “laku” dan sudah paham adegan dewasa tanpa perlu diajari.

Padahal, adalah kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya mengikuti kehendak Allah Ta’ala. Selaras dengan nasihat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Muslim Ahmadiyah: “Mereka yang menjadikan kehendaknya itu sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala dan ridha-Nya akan menjadi pembimbing bagi anak-anaknya”. Saya sebagai orang tua dan seorang ibu, merasa sedih, khawatir, dan miris mendengar banyaknya kisah seperti ini. Kehormatan, harga diri, dan masa depan, mau tak mau harus dikorbankan. Banyak anak-anak yang akhirnya terpaksa menghentikan pendidikannya dan berjibaku dengan urusan rumah tangga. Mengurus anak, suami dan keluarga dengan mental yang belum tertata.

Menurut SUSENAS yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik tahun 2017, alasan utama mengapa perempuan usia 20-24 tahun tidak bersekolah lagi adalah menikah (47.9 persen untuk yang menikah di bawah 18 tahun dan 42.1 persen untuk menikah di atas 18 tahun) yang salah satu penyebabnya ialah minimnya pendidikan seks. Sementara itu, dilansir dari tribunbatam.id hari Senin tanggal 14 Juni 2021, di jenjang SMA kota Batam pada periode tahun ajaran 2019-2020, setidaknya tercatat 451 siswa putus sekolah karena pernikahan dini atau hamil di luar nikah. Itu baru data selama satu tahun dari satu kota. Bagaimana dengan data dari seluruh kota di Indonesia? Butuh berapa banyak lagi data siswa putus sekolah karena minimnya pendidikan seks? Atau kita masih meributkan perihal pendidikan seks itu perlu atau tabu?

Seks sendiri dalam KBBI memiliki berbagai makna, salah satunya yaitu hal yang berhubungan dengan alat kelamin, seperti sanggama yang merupakan bagian hidup manusia. Perlu digaris bawahi, merupakan bagian hidup manusia. Jadi pendidikan seks merupakan pendidikan kehidupan. Islam pun sudah mengatur sedemikian rupa tentang pendidikan seks. Di antaranya, dapat kita temukan dalam firman Allah, al quran surah an-Nur ayat 58-61 dan surah an-Nisa ayat 22-23 (penomoran ayat mengikuti penomoran al quran Depag)

Dr.Hasan El-Qudsy, dosen di UIN Sunan Kalijaga, UMS, UMY, dan IAIN Surakarta sekaligus penulis buku Ketika Anak Bertanya tentang Seks berpendapat bahwa pendidikan seks di dalam Islam merupakan bagian integral dari pendidikan akidah, akhlak, dan ibadah.

“Terlepasnya pendidikan seks dengan ketiga unsur itu akan menyebabkan ketidakjelasan arah dari pendidikan seks itu sendiri,” ujarnya.

Jika kita menarik benang merah antara pendidikan seks menurut islam dan urgensi pendidikan seks saat ini, maka akan muncul kata tanggung jawab. Ya, pendidikan seks adalah pendidikan tentang tanggung jawab. Tanggung jawab seseorang atas dirinya sendiri, tanggung jawab akan pendidikan anaknya, tanggung jawab kepada masyarakat dan tanggung jawab kepada Tuhannya. Lalu, masihkah kita menganggap pendidikan seks itu tabu ataukah kita menganggap pendidikan seks itu perlu?


Penulis : Radhiyah Mardhiyyah

Referensi:

Mendidik Anak Sebagai Generasi Penerus yang unggul. https://rajapena.org/mendidik-anak-sebagai-generasi-penerus-yang-unggul/

Sumber Gambar : kompas health.com