Vaksinasi, Sebuah Ikhtiar, dan Ketaatan

292

Saya Sudah divaksin!Begitulah bunyi sebuah poster yang terpampang di sudut ruang publik. Air muka bahagia bersambut sinar matahari yang menerangi bumi di musim kemarau ini mengandung secercah harapan akan berakhirnya pandemi Covid-19. Antrian yang mengular tidak menjadi persoalan dibandingkan harus terbujur tak berdaya di Rumah Sakit atau kamar tempat isolasi mandiri. Ramai-ramai masyarakat antusias mengunggah foto di sosial media memamerkan bisepnya ketika ditusuk jarum suntik berisi vaksin. Namun bagaimana dengan mereka dibalik masyarakat yang berbangga telah menjalani vaksinasi? Apakah seluruh masyarakat Indonesia dari level akar rumput sudi disuntik vaksin?

Pandemi yang diakibatkan oleh penyebaran virus SARS-CoV2 atau virus corona membawa sebuah penyakit yang populer dengan nama Covid-19 atau Corona Virus Desease-2019 karena konon kemunculannya pertama kali pada tahun 2019 di sebuah kota bernama Wuhan, negara Tiongkok. Akibat transmisi penularan yang cepat dari manusia ke manusia, didukung oleh mobilitas yang tinggi, sejak saat itulah dunia mendapat ‘serangan hebat’ dari makhluk tak kasat mata ini hingga gempar luar biasa, melumpuhkan segala sesuatunya hingga merenggut nyawa orang-orang yang kita cintai.

            Keberhasilan virus corona dalam ‘meluluhlantakkan’ tatanan dunia mendorong para pakar, akademisi, pemerintah, serta masyarakat untuk mencari jalan keluar agar pandemi dapat diminimalisasi, bahkan dihentikan. Berbagai daya upaya serta jurus-jurus jitu dikerahkan sedemikian rupa. Pemerintah mempopulerkan istilah-istilah seperti menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun, dan memakai masker. Bahkan kini ditambahkan dengan menjauhi kerumunan, mengurangi mobilitas dan mengurangi makan bersama. Terdengar sederhana, namun implementasinya sangat sulit diterapkan di masyarakat, terutama masyarakat negara kita.

            Jika hal-hal sederhana tersebut sulit diterapkan di masyarakat, maka perlu genjotan upaya lagi untuk meredam pandemi. Dengan melibatkan pakar kesehatan dan peneliti, akhirnya muncul produk bernama vaksin. Vaksin digadang-gadang menjadi harapan atas berakhirnya pandemi Covid-19 yang menjadi mimpi buruk paling mengerikan saat ini. Meski bukan satu-satunya harapan untuk bergantung dalam mengatasi bencana biologis ini, namun vaksin erat peranannya dalam membentuk kekebalan komunitas atau herd immunity sehingga diekspektasikan akan membuat masyarakat aman dari ancaman virus.

            Vaksin merupakan produk biologis yang berasal dari organisme yang dilemahkan, bisa dari bakteri, virus, atau bagian dari ‘tubuh’ mikroorganisme seperti racun, materi genetik (DNA atau RNA), permukaan protein, atau limfositnya yang diberikan untuk mencegah suatu penyakit. Vaksin dapat mengaktifkan sistem kekebalan tubuh seseorang untuk melawan patogen (penyebab penyakit). Ketika tubuh seseorang disuntikkan vaksin, maka antibodi dalam tubuh akan menghasilkan Sel B yang akan merespon patogen yang masuk dan memeranginya. Sel imun dalam tubuh seseorang yang telah divaksin akan mengenali patogen tadi sehingga ketika masuk patogen serupa, pasukan sel imun akan bergegas melawan patogen tersebut. Namun ingat, vaksin bukan obat.

            Hari-hari bicara vaksin, narasi-narasi berbau kesehatan dan kedokteran, khususnya imunologi (cabang ilmu biologi yang mempelajari tentang sistem kekebalan tubuh) bergaung disana-sini dan ‘laku’ sebagai bahan perbincangan. Otoritas pemerintah gencar mengampanyekan gerakan vaksinasi sebagai langkah untuk melindungi bangsa dan negara dari virus corona. Ahli imunologi mengakatan bahwa dua hal terpenting yang berkontribusi bagi kesehatan masyarakat, yakni sanitasi dan vaksinasi. Keduanya telah terbukti menurunkan kematian dari penyakit infeksi. Tujuan vaksinasi yakni menciptakan generasi yang protektif sistem imunnya.

Kenapa sih susah banget divaksin? Padahal sudah digratiskan!

Alih-alih ingin pandemi segera berakhir, namun segelintir masyarakat Indonesia masih ada yang skeptis atau bahkan enggan diberikan vaksin dengan berbagai alasan. Dilansir dari SehatQ.com, ada beberapa poin yang menjadi alasan mengapa orang enggan divaksin:

  1. Ketidakpercayaan terhadap virus corona

Banyak yang meyakini bahwa pandemi Covid-19 merupakan buah dari konspirasi elit global, propaganda, hoax, hingga upaya mencari keuntungan dengan menebar ketakutan. Terhadap virus corona saja tidak percaya, bagaimana ingin percaya vaksin?

  • Kurangnya informasi berkenaan dengan vaksin

Keterbatasan mengenai informasi lengkap tentang vaksin, terutama efikasi dan keamanannya membuat masyarakat ragu menjalankan vaksinasi, ditambah dengan berita yang simpang siur serta ketidakbenaran tentang vaksin dan disebarluaskan ke masyarakat.

  • Keyakinan yang dianut

Survei penerimaan vaksin Covid-19 di Indonesia menunjukkan keyakinan agama turut memengaruhi penolakan terhadap Covid-19, termasuk persepsi terhadap vaksinasi hingga kehalalannya. Dominasi pemuka agama juga berpengaruh terhadap persepsi masyarakat. Jika fanatik terhadap agama tanpa menggunakan akal sehat, akibatnya para pengikutnya mengamini perkataannya sehingga terbentuk suatu persepsi yang sesat.

  • Pengaruh lingkungan

Jika lingkungan sekitar dan paparan konten media sosial lebih banyak menampilkan hal buruk tentang vaksin, kemungkinan kita pun jadi tidak ingin divaksin.

Tercapainya kekebalan komunitas atau herd immunity, setidaknya 70% penduduk Indonesia atau 181 juta orang sudah divaksinasi. Bila persentase masyarakat yang tidak mau divaksin cukup tinggi, bagaimana kita mencapai kekebalan komunitas? Bukan hanya merugikan diri sendiri, menolak vaksin juga memengaruhi kondisi pandemi di suatu negara. Konsekuensi akibat menolak divaksin diantaranya lebih berisiko tertular atau menularkan, potensi gejala berat lebih besar dialami saat terinfeksi virus corona, serta memperbesar angka kematian, apalagi kini varian-varian baru virus corona semakin banyak bermunculan.

            Disinilah gerakan dari arak rumput perlu digalakkan. Bagaimana caranya? Perbanyak literasi, mengonsumsi berita-berita yang informatif, edukatif dan mengurangi prasangka yang hanya membuat diri semakin capek dengan pikiran ini. Masyarakat juga harus digembleng untuk memperketat protokol kesehatan yang sudah ditetapkan otoritas pemerintah. Jika saja masyarakat bisa diatur dan bersinergi dengan kooperatif bersama pemerintah, maka tidak sulit memerangi pandemi yang sudah lama kita idam-idamkan untuk enyah dari bumi pertiwi ini.

Vaksinasi sebagai salah satu upaya melindungi diri dan orang-orang tersayang

            Tentu kita sudah mengetahui betapa riskannya jika kita abai dengan protokol kesehatan. Kebanyakan dari kita sering ‘kecolongan’ atau menganggap enteng sehingga hal-hal kecil seperti pertemuan orang-orang dekat tanpa mengenakan masker, berfoto bersama tanpa memerhatikan jarak, sisa waktu yang dimanfaatkan untuk mengobrol ketika selesai makan bersama, serta beribadah tanpa memerhatikan jarak karena dianggap lebih mengutamakan syariat agama menjadi titik lengah kita sehingga virus mudah cepat menular.

            Harga yang ditebus untuk semua kelalaian kita itu terlalu mahal, nyawa orang-orang yang kita sayangilah menjadi taruhannya. Namun tidak ada kata terlambat untuk menyelamatkan mereka yang masih memiliki harapan hidup lebih panjang, dan tentu kita ingin bersama melewati masa-masa sulit ini bersama, bukan? Dengan melakukan vaksinasi, kita melindungi diri sendiri dan juga orang-orang yang rentan terhadap penyakit. Ini terjadi karena sistem imun pasca-vaksinasi akan bekerja sedemikian rupa membentuk kekebalan terhadap virus sehingga dapat meminimalisasi tingkat risiko yang ditimbulkan jika melakukan kontak dengan orang-orang terdekat.

            Seorang dokter dari Amerika Serikat, dr. Faheem Yunus, mengungkapkan bahwa vaksinasi seperti kita mengenakan seat belt saat berkendara. Tidak mencegah dari kecelakaan, namun kita bisa meminimalisasi risiko yang timbul akibat kecelakaan itu sehingga nyawa kita terselamatkan. Begitupun vaksin yang tidak menghindari kita 100% dari virus corona, tapi risiko-risiko yang ditimbulkan tidak seriskan apabila tidak divaksinasi. Orang yang sudah divaksin pun dapat terinfeksi virus corona, namun risikonya tidak sampai ke level sakaratul-maut. Jika tersiar kabar bahwa orang meninggal setelah divaksinasi, kemungkinan karena komorbid yang diderita berhubungan dengan intoleransi terhadap vaksin. Maka dari itu, masyarakat dilakukan screening sebelum divaksin untuk mengetahui apakah komorbid yang diderita bisa berdampak pada kesehatannya setelah divaksin. Untuk itulah, kejujuran adalah kunci dari segalanya agar diri dapat selamat.

Ketaatan pangkal keselamatan

            Pada momen pertemuan virtual dengan Pemuda Ahmadiyah Gambia, Khalifah  Muslim Ahamdiyah ke-5 memberikan pernyataan singkat berkenaan dengan orang-orang yang skeptis akan vaksin Covid-19. Beliau mengatakan, Jika di Gambia tersedia vaksin, maka Anda harus mencoba (divaksin). Jangan khawatir. Jika di sana ada (vaksin) dan mereka ingin memberi Anda dengan vaksin anti Covid-19, maka itu tidak membahayakan.”

            Di negara kita sendiri, Presiden RI Joko Widodo menyampaikan, Kuncinya sebetulnya hanya ada dua sekarang ini. Hanya ada dua. Mempercepat vaksinasi. Sekali lagi, mempercepat vaksinasi. Yang kedua, kedisiplinan protokol kesehatan utamanya masker, pakai masker.”

Sebenarnya kita hanya perlu taat. Apakah kita tidak bosan mendengar sirine ambulans mendengung masuk ke telinga kita? Apakah kita ingin selamanya cemas mendengar tumbangnya nyawa-nyawa orang terdekat kita setiap hari? Apakah kita betah di rumah terus menerus dengan dirundung rasa jenuh? Apakah kita tidak ingin menghirup udara bebas di luar sana tanpa khawatir akan teror virus yang mengintai kita? Apakah kita tidak ingin mendapatkan kesempatan hidup sekali lagi untuk memperbaiki amal ibadah kita agar dapat meraih kedekatanNya? Jangan menunggu giliran! Saatnya kita kubur mimpi buruk ini dalam-dalam dengan taati anjuran pemerintah, lakukan vaksinasi, dan patuhi protokol kesehatan.


Ditulis Oleh: Umar Farooq Zafrullah

Referensi:

  1. Brunson, E. K. (2020, December 9). Vaccine. Encyclopedia Britannica. https://www.britannica.com/science/vaccine
  2. Murphy, K., Travers, P., Walport, M., & Janeway, C. (2012). Janeway’s immunobiology. New York: Garland Science.
  3. https://www.sehatq.com/artikel/alasan-orang-menolak-vaksin-covid-19-dan-akibatnya?__cf_chl_captcha_tk__=pmd_b53a62790ada5c0c3e7d8a34ec93fa2f59dcc77b-1627532948-0-gqNtZGzNAvijcnBszQm6
  4. Be honest and sincere with your work: The Gambia Khuddam meet Hazrat Khalifatul Masih https://www.alhakam.org/be-honest-and-sincere-with-your-work-the-gambia-khuddam-meet-hazrat-khalifatul-masih/

Sumber Gambar : https://www.google.com/url?sa=i&url=https%3A%2F%2Fmayapadahospital.com%2Fnews%2Fvaksin-covid-19-di-indonesia&psig=AOvVaw0LXYDiQa4dfgRog8i9Ym0z&ust=1628126252237000&source=images&cd=vfe&ved=0CAsQjRxqFwoTCLj13Y-ZlvICFQAAAAAdAAAAABAD